Tak perlu…


Tak perlu harus jadi Sarjana, Master bahkan Doktor untuk menjadi shaleh dan solehah, cukup tunaikan semua kewajiban, lengkapi dengan sunnahnya dan jauhilah larangan – Nya

Tak perlu cantik dan tampan rupawan untuk menjadi baik hati, sebab yg cantik & tampan rupawan tidak menjamin bahwa mereka baik hatinya, hanya orang yang bersih hatinya yang menjamin kebaikan hati.

Tak perlu menunggu kaya untuk menjadi dermawan, karena berlimpah kekayaan juga tidak dengan serta meningkatkan sifat dermawan. Hanya orang yang memiliki sifat empati dan simpatilah yang selalu membantu sesama..

Tak perlu menunggu calon yang sesuai harapan, sebab tidak ada orang yang sempurna dalam dunia ini. 😀

Advertisements

Senyum


“SENYUM” itu ringan tak bersuara tapi, penuh makna.

“SENYUM” itu murah tapi, tak ternilai dengan rupiah.

“SENYUM” itu tak butuh tenaga tapi, besar motivasinya.

“SENYUM” itu hal yang mudah tapi, selalu nampak indah.

“SENYUM” hal yang biasa tapi, bisa jadi luar biasa.

“SENYUM” ibadah yang paling mudah tapi, berpahala setara dengan sedekah.

Awali dan penuhilah hari – hari kita dgn senyuman manis, agar semua orang ikut tersenyum karena kita juga tersenyum. ^_^

Meredam berita buruk


Allah SWT telah memberikan rambu-rambu yang tegas menyangkut dasar-dasar moral dan etika dalam membangun masyarakat yang beradab dan berbudaya. Hal ini ditegaskan dalam QS an-Nur [24]: 19, yang memerintahkan orang-orang beriman untuk tidak menyebarkan berita-berita buruk. Melalui ayat tersebut, Allah memerintahkan umat Islam untuk tidak mudah terpengaruh dengan informasi yang tidak sehat, prasangka, ghibah, dan segala bentuk kekejian lainnya.

Sejalan dengan itu, dalam ayat 12 surah al-Hujurat [49] Allah menetapkan larangan bagi orang-orang yang beriman untuk berprasangka negatif ter hadap orang lain. Karena sebagian prasangka itu adalah dosa.
Selain itu, orang yang beriman juga dilarang mencari-cari keburukan orang lain dan menggunjingkannya. Alquran menganalogikan orang yang suka bergunjing itu seperti seseorang yang memakan daging saudaranya yang telah meninggal.

Begitulah cara Islam menjaga kehormatan sesama manusia dengan larangan memberi malu orang lain dan menyiarkan aib seseorang. Meskipun mungkin dari sudut pandang ekonomi berita-berita gosip mendatangkan keuntungan bagi media, dari segi moral dan psikologi masyarakat jelas hal itu merugikan.

Sudah menjadi sunatullah dalam masyarakat bahwa suatu kejahatan dan keburukan yang diekspose akan tumbuh makin subur. Di sinilah kita meyakini hikmah larangan Allah untuk tidak menyiarkan aib dan keburukan sesama manusia.

Berita pornografi, sadisme, perkosaan, dan berbagai tindak kejahatan lainnya yang tumbuh di masyarakat adalah untuk ditindak dan dibasmi, bukan sebaliknya menjadi tuntunan bagi masyarakat untuk turut meniru dan melakukannya. Berita itu harusnya menjadi filter bagi setiap pribadi Muslim untuk mengambil hikmah agar senantiasa berbuat yang terbaik.

Berita-berita buruk seperti perselingkuhan, kejahatan seksual, pembunuhan, dan pe rampokan, jelas meninggalkan bekas mendalam pada masyarakat. Sadar atau tidak, tersiarnya berita buruk, apalagi disajikan berulang-ulang, dapat membangkitkan pikiran bawah sadar orang yang rusak akhlaknya untuk melakukan perbuatan yang sama.

Larangan dalam agama tidak hanya terhadap perbuatan menyiarkan berita buruk, tapi orang yang suka dirinya diekspose sebagai bahan berita buruk diperingatkan risikonya.

“Seluruh umatku dapat diampuni dosanya, kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan dosa. Dan, termasuk melakukan dosa dengan terang-terangan itu adalah seseorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari sampai paginya Allah menutupi (rahasianya), tapi kemudian ia sendiri yang membuka (rahasianya) dan berkata, “Tadi malam saya melakukan perbuatan ini dan itu.“ Dia sengaja membukakan sesuatu yang oleh Allah telah ditutupi.“ (HR Bukhari dan Muslim).

Tugas seorang Muslim bukanlah mencari kelemahan dan keburukan orang lain. Tetapi, mengajak orang lain agar berbuat kebaikan dan melarang berbuat kemungkaran. Meredam berita buruk tentu bukan untuk melindungi keburukan dan pelakunya, melainkan untuk melindungi masyarakat dari pengaruh keburukan yang merusak. Wallahu a’lam.

Tanda – tanda hati mati


Sahabatku, inilah diantara tanda-tanda hati yang mati:

  1. “Tarkush sholah” >> Berani meninggalkan sholat fardhu.
  2. “Adzdzanbu bil farhi” >> Tenang tanpa merasa berdosa padahal sedang melakukan dosa besar (QS 7:3).
  3. “Karhul Qur’an” >> Tidak mau membaca bahkan menjauh dengan ayat-ayat Alqur’an.
  4. “Hubbul ma’asyi” >> Terus menerus ma’siyat.
  5. “Asikhru” >> Sibuknya hanya mempergunjing dan buruk sangka, serta merasa dirinya selalu lebih suci.
  6. “Ghodbul ulamai” >> Sangat benci dengan nasehat baik dan ulama.
  7. “Qolbul hajari” >> Tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, kuburan dan akhirat.
  8. “Himmatuhul bathni” >> Gilanya pada dunia tanpa peduli halal haram yang penting kaya.
  9. “Anaaniyyun” >> tidak mau tau, “cuek” atau masa bodoh keadaan orang lain, saudara bahkan bisa jadi keluarganya sekalipun menderita.
  10. “Al intiqoom” >> Pendendam hebat.
  11. “Albukhlu” >> sangat pelit.
  12. “Ghodhbaanun” >> cepat marah karena keangkuhan dan dengki.

Membersihkan masjid


Pada zaman Rasulullah SAW ada seorang wanita hitam bernama Ummu Mahjan. Dia selalu menyempatkan diri membersihkan masjid Rasulullah SAW. Suatu hari ketika Rasul sedang ke pemakaman, beliau melihat sebuah kuburan baru.

Rasul bertanya, “Kuburan siapa ini, wahai para sahabat?“ Mereka yang hadir di situ menjawab, “Ini kuburan Ummu Mahjan, ya Rasulullah.“

Rasul SAW langsung menangis begitu mendengar berita itu, beliau menyalahkan para sahabatnya. “Mengapa kalian tidak memberitahukan kematiannya kepadaku supaya aku bisa menyalatinya?“ Mereka menjawab, “Ya Ra sulullah, pada waktu itu matahari sedang terik sekali.“ Rasul diam mendengar jawaban itu.

Lalu, beliau berdiri dan shalat untuk mayit yang sudah ditanam beberapa hari itu dari atas kuburnya. “Bila ada di antara kalian yang meninggal dunia, beritahukan kepadaku, sebab orang yang kushalati di dunia, shalatku itu akan menjadi syafaat di akhirat.“

Setelah itu, Rasulullah kemudian memanggil Ummu Mahjan dari atas kuburnya.
“Assalamualaikum ya Ummu Mahjan! Pekerjaan apa yanag paling bernilai dalam daftar amalmu?“ Rasul SAW diam sejenak.
Tak lama kemudian beliau berkata, “Dia menjawab bahwa pekerjaannya membersihkan masjid Rasulullah adalah pekerjaan yang paling bernilai di sisi Allah. Allah berkenan mendirikan rumah untuknya di surga dan dia kini sedang duduk-duduk di dalamnya.“

Secara fisik, masjid adalah bangunan biasa yang terdiri atas lantai, tiang, dan atap. Namun, secara spiritual, masjid adalah poros nadi umat yang sangat fundamental. Selain menjadi perekat umat untuk menebarkan kebajikan, masjid merupakan media bagi sang Muslim agar sukses dalam menjalin hubungan vertikal dengan Allah; melalui masjid, sang Muslim bisa melakukan mikraj menuju Ilahi.

Dari masjid, kaum Mus limin bisa belajar-mengajar, keimanan seseorang tergambar, tingkat keberagamaan masyarakat terpancar, ketenangan dan kedamaian berbinar-binar, dan kebangkitan umat mengakar.

Seorang Muslim akan prihatin dan sedih manakala menjumpai seseorang yang dengan seenaknya mengotori masjid dan membiarkan kotoran (sampah) berserakan.
Juga tidak etis jika kita membiarkan bau tak sedap bercokol di tempat wudhu, toilet, atau kamar mandi masjid, sehingga aromanya tercium orang-orang yang shalat, membaca Alquran, iktikaf, atau ibadah lainnya.

Dengan demikian, kebersihan dan keasrian masjid jelas mendukung kekhusyukan umat Islam dalam beribadah. Maka, sangat pantas kalau Allah dan Rasul-Nya memberikan pahala yang besar bagi mereka yang membersihkan masjid-sebagaimana tersimbul dalam riwayat di atas. “Siapa yang mengeluarkan kotoran dari masjid maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga,“ (HR Ibnu Majah).

Zaman memang sudah berubah dan modern, sehingga masjid-masjid membutuhkan pengurusnya. Namun, membersihkan masjid bukan monopoli mereka. Selama mempunyai niat yang mantap, siapa pun punya peluang yang sama untuk mempersiapkan bangunan di surga.

Tak perlu!


Tak perlu harus jadi Sarjana, Master bahkan Doktor untuk menjadi shaleh dan solehah, cukup tunaikan semua kewajiban, lengkapi dengan sunnahnya dan jauhilah larangan – Nya

Tak perlu cantik dan tampan rupawan untuk menjadi baik hati, sebab yg cantik & tampan rupawan tidak menjamin bahwa mereka baik hatinya, hanya orang yang bersih hatinya yang menjamin kebaikan hati.

Tak perlu menunggu kaya untuk menjadi dermawan, karena berlimpah kekayaan juga tidak dengan serta meningkatkan sifat dermawan. Hanya orang yang memiliki sifat empati dan simpatilah yang selalu membantu sesama..

Tak perlu menunggu calon yang sesuai harapan, sebab tidak ada orang yang sempurna dalam dunia ini.

Jika…


Jika semua yang kita kehendaki blm kita MILIKI kita sdng belajar IKHLAS

Jika semua yang kita impikan blm segera TERWUJUD kita sdng belajar SABAR

Jika setiap doa kita belum DIKABULKAN bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR

Jika hidup kita selalu BAHAGIA maka kita dapat kenal ALLAH lebih DEKAT

YAKINLAH dan PERCAYA segala ketentuanNYA adalah yang TERBAIK untuk kita