Wanita teladan


Di saat wanita modern kini mengalami kesulitan mencari postur keteladanan wanita ideal karena tergerus isu gender yang tak menentu. Maka, ada baiknya jika mempelajari wanita didikan Nabi Muhammad SAW, yang tak saja hidup sebagai pendamping Nabi sampai wafat di pangkuan istrinya. Tapi, juga berjuang bersama Rasulullah menyiarkan Islam pada periode permulaan.

Aisyah binti Abi Bakar Shiddiq ra inilah istri Nabi Muhammad SAW yang menonjol sesudah Khadijah binti Khuwailid. Ia menjadi sangat istimewa bukan saja karena semangat beliau yang tinggi dalam berdakwah dan kese derhanaannya. Aisyah seperti ayahandanya, Abu Bakar yang dermawan, cerdas, anggun, dan taat juga sumber agama bagi para pemuka sahabat yang lain. Aisyah juga perawi utama dari kalangan wanita untuk hadis-hadis Rasululah SAW.

Syekh Sulaiman an-Nadawi (saudara ulama besar Abul Hasan al-Nadawi, Lucknow, India) menulis buku berjudul Hazrat Ayesha Siddiqa, Her Life and Works menyatakan bahwa Aisyah memiliki keunggulan sebagai pendamping pilihan Nabi Muhammad SAW yang tidak dipunyai wanita lain.

  1. Aisyah adalah satu-satunya wanita yang dinikahi Nabi SAW dalam keadaan gadis, berdasarkan mimpi yang dihadirkan oleh Jibril pada Rasul.
  2. Beliau dididik di dalam rumah tangga (Baitun Nubuwwah) bersama anggota Ahl Bayt lainnya, seperti putri, menantu, dan cucunda Nabi SAW.
  3. Acap kali wahyu turun di kamar Nabi, di tempat tidur beliau, sehingga Aisyah melihat Jibril datang membawa wahyu.
  4. Beberapa ayat turun (asbabun nuzul) berhubungan dengan Aisyah.
  5. Kamar Aisyah dengan mimbar Nabi SAW disebut sebagai “Raudhah min Riyadhil Jannah“ (Taman Surga), sampai kini banyak yang shalat di area ini setiap peziarah makam Nabi yang bertandang.
  6. Nabi mengatakan langsung bahwa agar para pengikutnya mengambil sebagian agama dari Khumaira, yakni Aisyah.
  7. Ketika Aisyah difitnah kaum munafik dengan tuduhan keji, maka Allah SWT sendiri yang menyucikan Aisyah dari fitnah tersebut. (QS anNur [24]: 11-20).

Jasa Aisyah cukup besar dalam jihad fi sabilillah. Pada Perang Khandaq, beliau telah menyiapkan logistik untuk pasukan yang bertempur di bawah komando Nabi. Sebagai ibu rumah tangga kenabian, Aisyah biasa menggiling daging sendiri, memasak, dan mengisi air. Walaupun ada pembantu, Aisyah mencuci pakaian Nabi dan baju-bajunya sendiri serta selalu menyisir rambut Nabi.

Dalam rumah tangga, Aisyah sangat menyayangi putri Nabi SAW, Fatimah az-Zahra ra.
Beliau pernah berkata, “Sepeninggal Rasulullah aku tidak pernah melihat orang yang lebih baik selain Fatimah binti Rasulillah.“ Imam Turmudzi dalam al-Jami’ seperti diriwayatkan Aisyah sendiri, menyatakan, Fatimah selalu mencium kening ayahnya dan Nabi pun demikian bila berkunjung kepada Fatimah serta beliau pun selalu duduk berdampingan dengan putri kinasihnya itu.“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s