Al – qalam



Al-qalam (pena/pensil) adalah benda kecil yang digunakan untuk menulis.
Setiap pelajar pasti akrab dengan benda ini.
Tidak terlalu banyak orang peduli terhadap benda ini karena ia mudah didapat sehingga ketika seseorang kehilangan, orang itu akan cepat membelinya kembali.

Jika banyak orang tidak peduli terhadap al-qalam, berbeda dengan Islam.
Al-qalam memiliki kedudukan yang terhormat.
Paling tidak, ada tiga kehormatan yang ditunjukkan Islam terhadap al-qalam, yaitu pertama, al-qalam merupakan salah satu dari 25 kata yang diturunkan pertama kali di dalam Alquran (sama dengan jumlah nabi yang wajib di imani).
Kedua, al-Qalam merupakan salah satu nama surah dalam Alquran, yaitu surah ke-68 dari 114 surah.
Ketiga, tinta para ulama yang tentunya ditulis dengan al-qalam memiliki timbangan pahala yang lebih berat daripada darahnya para syuhada. (HR al-Dailami dari Ibnu Umar).

Penghormatan yang ditunjukkan Islam terhadap al-qalam mengindikasikan adanya nilai-nilai mulia di dalamnya yang dapat dijadikan pelajaran bagi manusia.
Nilai-nilai tersebut, antara lain, pertama, hal yang paling bermanfaat dari al-qalam adalah isinya (tinta atau sejenisnya).
Bingkai atau tutupnya hanya berfungsi untuk menjaga isi.
Realitas ini menunjukkan bahwa bagi manusia yang paling penting adalah hati, bukan penampilan fisik.

Sesungguhnya dalam setiap tubuh ada segumpal darah. Jika dia baik, akan baik yang lainnya dan jika buruk, akan buruk yang lainnya. Segumpal darah tersebut adalah hati.“ (HR Bukhari Muslim dari Nu’man bin Basyir).

Kedua, dalam menggunakan alqalam, hampir tidak ada orang yang tidak membuat kesalahan.
Karena itu, manusia juga tidak dituntut untuk tidak salah, yang dituntut adalah jika melakukan kesalahan, hendaknya dia segera memperbaiki dan tidak mengulanginya kembali.

Dan (juga), orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan, mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.“ (QS ali-Imran [3]:135).

Ketiga, ketika al-qalam digunakan, sekecil apa pun tulisan atau goresannya pasti akan meninggalkan bekas.
Bagi manusia, setiap amal perbuatannya pasti akan memberikan bekas kepada dirinya.
Jika perbuatannya baik, bekas yang ditinggalkannya akan baik.
Sebaliknya, jika perbuatannya buruk, bekasnya pun pasti buruk.

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-Nya. Dan, barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-Nya pula.“ (QS al-Zalzalah:7-8)

Keempat, tulisan yang merupakan produk al-qalam ternyata banyak memengaruhi kemajuan umat manusia.
Tanpa tradisi menulis, niscaya manusia tidak akan dapat mewarisi ilmu pengetahuan yang sangat tinggi dari generasi sebelumnya. Karena itu, untuk membangun peradaban yang lebih baik pada masa yang akan datang, marilah kita banyak menghasilkan tulisan yang bermanfaat untuk umat manusia. Wallahu a’lam bish shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s