Pengacau dunia…


Diriwayatkan dari Jabir RA ia D berkata, “Kami keluar untuk bepergian, tiba-tiba salah seorang dari kami kejatuhan batu sehingga retak kepalanya, lalu dia bertanya kepada kawan-kawannya, ‘Apakah menurut Anda, saya mendapat rukhsah untuk melakukan tayamum?’ Mereka menjawab, `Kami melihat tidak ada rukhsah untuk Anda karena Anda masih mampu menggunakan air.’ Maka, ia pun mandi. Tak lama kemudian, ia wafat.
Setelah kami menjumpai Nabi SAW dan menyampaikan berita tersebut.
Beliau bersabda, `Mereka telah membunuhnya dan Allah SWT akan membunuh mereka. Seharusnya, mereka bertanya bila tidak mengetahui.
Obat orang tidak tahu adalah bertanya. Cukuplah baginya untuk tayamum. Lukanya diikat dengan kain lalu diusap (dengan debu). Sedangkan sisa badannya disiram air.’“ (HR Ahmad, Abu Daud, dan Hakim).

Hadis ini menjelaskan bahwa manusia walaupun niatnya lurus bukan berarti boleh berbicara tentang hukum Allah SWT dan Rasul-Nya tanpa ilmu.
Orang yang setengah-setengah ilmunya akan menebar kerusakan di tengah umat manusia.
Informasi yang tidak utuh dan tuntas akan membahayakan.
Ibnu Taimiyah berkata, “Perusak dunia itu ada tiga kelompok yang setengah-setengah, yakni ahli fikih yang setengah-setengah, dokter yang setengah-setengah, dan ahli nahwu (tata bahasa Arab) yang setengah-setengah.
Ahli fikih yang setengah-setengah merusak agama,
Dokter yang setengah-setengah akan merusak badan, dan
Ahli nahwu yang setengah-setengah akan merusak bahasa Arab dan salah mengambil konklusi hukum.“
Bila orang yang tidak berkompeten dimintai pendapat tentang sesuatu akan menebarkan kebingungan dan kekacauan. Rasulullah SAW bersabda, “Sebagian tanda kiamat, orang mencari ilmu dari orang-orang kecil (bukan ahlinya).“ (HR Thabrani) Banyak masalah besar, namun tidak ditanyakan ke ahlinya. “Akan datang pada manusia tahun-tahun penuh penipuan. Pendusta dibenarkan dan orang jujur didustakan.
Pengkhianat dipercaya dan orang terpercaya dianggap khianat dan pada masa itu ruwaibidhoh banyak berbicara.“ Ditanyakan, “Siapakah ruwaibidhoh?“ Beliau menjawab, “Orang bodoh yang berbicara tentang urusan orang banyak.“ (HR Imam Ah mad, Ibnu Majah, dan al-Hakim).
Imam Malik RA berkata kepada Sufyan bin Uyaynah, “Anda adalah orang berwibawa, maka lihatlah dari siapa Anda mengambil ilmu.“ Beliau berkata, “Ilmu tidak boleh diambil dari empat kelompok, orang bodoh yang nyata kebodohannya, orang yang sudah dikenal pendusta, pengikut hawa nafsu yang menyeru orang untuk mengikutinya, dan orang tua ahli ibadah tapi tidak mengetahui pemasalahan yang terjadi.“
Sa’d bin Wahab meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra bahwa ia berkata, “Manusia akan selalu baik selama mengambil ilmu dari orang-orang besar, ulama, dan orang-orang terpercaya. Bila mengambil ilmu dari orang-orang kecil dan orang jahat, mereka akan hancur.“
Pada era globalisasi ini, kita sering menyaksikan banyak orang yang meminta pendapat kepada orang yang bukan ahlinya. Bisa dibayangkan bagaimana jawaban dan dampaknya dari masalah itu. Karena itu, agar tidak menjadi perusak dunia, bertanyalah tentang sesuatu kepada ahlinya. Wallahu a’lam.

Advertisements

Menjadi keluarga Allah SWT



Diakui atau tidak, era modern telah menggiring sebagian besar umat Islam hanyut dalam kesibukan duniawi.
Nyaris waktu 24 jam tersita untuk urusan kerja, bisnis, ataupun beragam kegiatan lainnya. Bahkan, karena begitu sibuknya, tidak sedikit diantara Muslim yang mulai meninggalkan kitab sucinya, Alquran, baik meninggalkannya dalam arti mulai jarang membaca, memahami, mentadaburi, maupun meninggalkannya dalam arti tidak lagi begitu antusias untuk menata hidup dengan menerapkan nilai-nilainya.

Alquran tidak lagi menjadi panduan dalam memandang hidup dan kehidupan ini. Akibatnya, sangat jarang atau mungkin sangat langka pada zaman ini kita menemukan seorang Muslim yang ucapan dan perbuatannya benar-benar sesuai dengan kandungan Alquran.

Sebaliknya, cukup banyak umat Islam yang mulai asing dengan kitab sucinya. Padahal, Alquran adalah mukjizat akhir zaman yang dijamin kebenaran dan keautentikannya oleh Allah SWT.
Hal ini Allah SWT tegaskan dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.“ (QS 15: 9).

Oleh karena itu, tidak semestinya seorang Muslim membiarkan diri jauh dari Alquran. Setidaknya, kecintaan terhadap Alquran harus selalu kita upayakan terjaga dan terpelihara setiap saat, di mana pun, dan dalam keadaan apa pun.

Sebab, Allah SWT memberikan banyak keutamaan bagi kaum Muslimin yang mau membaca dan menadaburi Alquran.
Satu di antara keutamaan membaca Alquran adalah berupa pahala yang besar.

“Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lurus dan memberi kabar gembira kepada orangorang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.“ (QS 17: 9).

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Alquran), maka dengannya ia akan mendapat satu kebaikan; satu kebaikan dilipatgandakan menadi sepuluh kali; aku tidak mengatakan alif lam mim adalah satu huruf, tapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.“ (HR Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud ra).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW menegaskan bahwa mempelajari Alquran itu sangat besar pahalanya.

“Hendaklah seorang di antara kamu berangkat setiap hari ke masjid, lalu mempelajari dua ayat dari Kitabullah (Alquran).
Itu lebih baik baginya daripada dua ekor unta.
Jika bisa tiga (ayat), ya tiga (ayat), hadiah untanya sebanyak jumlah ayat-ayat (yang dipelajari) itu.“ (HR Muslim).

Hal ini sudah cukup memberikan satu argumentasi yang sangat kuat bahwa seyogianya umat Islam itu mentradisikan diri untuk selalu membaca Alquran. Sesibuk apa pun, setiap Muslim wajib membaca dan menadaburi Alquran.

Alquran adalah firman Allah SWT.
Membacanya akan mendatangkan pahala besar, mentadaburinya akan meneguhkan keyakinan, dan mengamalkannya akan mengundang keridaan Allah SWT. Bahkan, Allah SWT akan menjadikan mereka sebagai anggota keluarga-Nya.

“Sesungguhnya Allah SWT mempunyai keluarga dari kalangan manusia. Beliau ditanya, `Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Rasul SAW menjawab, `Mereka adalah ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah, dan orang-orang khusus-Nya.’“ (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Taubat


Negeri ini sudah seharusnya bertaubat. Sudah terlalu banyak dan terlampau lama dosa dan kemaksiatan negeri ini.
Pemimpin dan para wakil rakyat tidak lagi amanah, rakyatnya pun mudah marah. Aparat penegak hukum hanya garang jika pelakunya wong cilik.
Bahkan, perzinaan sudah tidak malu lagi didemonstrasikan di depan umum. Kekayaan berputar hanya pada golongan kaya dengan muslihat dan praktik ribanya. Sedangkan yang miskin bertambah miskin, sehingga menghalalkan segala cara; merampok dan membunuh.

Allahu akbar. Sudahi semua kezaliman yang menghinahancurkan negeri ini. Bertaubatlah wahai Indonesia.

“Bersegeralah mengharap ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orangorang yang bertakwa, yaitu orangorang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orangorang yang berbuat kebajikan. Dan, juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni do sa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui.“ (QS Ali Imran [3]: 133).

Ketahuilah, negeri ini akan kembali terhormat, jika setiap individu menyudahi kesalahan dan bertaubat. Hal itu akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguh nya Allah sangat mencintai orangorang yang bertaubat dan menyucikan diri. (QS al-Baqarah [2]: 222).

Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara, bahkan pintunya selalu terbuka luas. Allah selalu membentangkan tangan-Nya bagi hambahamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya.

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat.” (HR Muslim).

Merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampai batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka dan sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya asal semua penduduk negeri ini mau bertaubat. (QS atTahrim [66]: 8 dan an-Nur [24]: 31).

Saatnya kita melakukan amalan berikut:
Pertama, an-nadm, penyesalan atas maksiat yang pernah dilakukan bahkan merasa perih hati dan mudah menangis kalau ingat masa lalu.
Kedua, al-i’tiqad, berjanji dan bersumpah untuk tidak mengulanginya lagi. (QS Ali Imran [3]: 135).
Ketiga, dawamul istighfar, terusmenerus minta ampunan Allah. Abu Bakar ash-Shiddiq memohon kepada Rasulullah, “Ajarkanlah aku doa yang bisa aku panjatkan saat munajat.“ Maka, beliau pun berkata, “Bacalah: Allahumma inni zholamtu nafsi zhulman katsiran wala yaghfirudz dzunuba illa anta faghfirli maghfiratan min `indika warhamni innaka antal ghofurur rohiim.“ (Muttafaq alaihi).
Keempat, al-iman bimaghfiratihi, yakin sepenuh hati bahwa Allah Maha Pengampun dan Penerima Taubat (QS az-Zumar [39]: 53).

Mengapresiasi Al – ustadz Muhammad Arifin Ilham


Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci.
Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya.
Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah menjadi kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela.
Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji. Insya Allah…

Syukur bukan kufur …


Dikisahkan, pada suatu hari Rasulullah SAW pergi keluar rumah.
Di tengah jalan, beliau bertemu Abu Bakar dan Umar bin Khattab. “Mengapa kalian keluar rumah,“ tanya Nabi.
Jawab mereka, “Tak ada yang membuat kami keluar rumah selain rasa lapar.“

Rasulullah SAW sendiri pergi keluar rumah juga karena lapar. Lalu, beliau mengajak dua sahabatnya itu datang ke rumah seorang sahabat bernama Abu Ayyub al-Anshari.
Sang tuan rumah, Abu Ayyub, bergembira ria oleh kedatangan tamu-tamu yang sangat dihormatinya itu. Abu Ayyub menyuguhkan roti, daging, kurma basah dan kering (tamar).
Setelah mereka menyantap suguhan itu, Nabi SAW dengan mata berkaca-kaca ber kata, “Kenikmatan ini akan ditanya oleh Allah kelak di hari Kiamat.“ (HR Muslim, Thabrani, dan Baihaqi).

Kisah ini mengajarkan kepada kita kewajiban syukur atas berbagai kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita, baik kecil maupun besar.
Dengan syukur dan mengingat Allah Sang Pemberi nikmat, kegiatan yang tampaknya sepele, seperti makan dan minum, dapat bernilai ibadah dan menjadi bagian dari bentuk kepatuhan kepa da Allah SWT (min alwan al-tha’ah).

Air mata Nabi, dalam kisah ini, bisa dipahami sebagai ekspresi keprihatinan beliau atas kenyataan bahwa manusia pada umumnya kurang bersyukur, tetapi kufur nikmat. Kalau kenikmatan kecil-kecilan saja seperti makan dan minum wajib disyukuri, bagaimana dengan kenikmatan yang besar-besar seperti nikmat iman, kesehatan, dan kekayaan (yang berlimpah)? “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu siarkan.“ (QS al-Dhuha [93]: 11).
Menurut pakar tafsir al-Ishfahani, syukur bermakna mengerti dan menyadari nikmat, lalu menampakkannya melalui zakat, infak, dan sede kah.
Syukur juga berarti menggunakan nikmat sesuai maksud dan tujuan diberikannya nikmat itu. Maka, pemberian fasilitas negara untuk pelaksanaan tugas tak boleh diselewengkan untuk keperluan pribadi dan golongan. Ini bentuk kekufuran. Syukur juga bermakna mengembangkan nikmat (potensi baik) agar tumbuh dan berkembang lebih produktif. Maka, sikap pembiaran terhadap kekayaan alam dan budaya kita yang melimpah sebagai anugerah Allah, merupakan bentuk kekufuran yang lain lagi.

Kita semua disuruh bersyukur, bukan kufur.
Namun, pada kenyataannya, tak semua orang pandai bersyukur.
Menurut Imam Ghazali, agar menjadi manusia yang penuh syukur, kita harus sadar bahwa semua anugerah dan nikmat yang kita miliki sejatinya datang dan berasal dari Allah. Konglomerat seperti Qarun menjadi kufur karena merasa semua kekayaannya yang sangat be sar itu diperoleh karena kehebatan nya sendiri. Ketika ditanya tentang kekayaannya, Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi har ta itu, karena ilmu yang ada padaku“. (QS al-Qashash [28]: 78).

Berlainan dengan Qarun, Nabi Su laiman AS, dengan kuasa dan kekayaan yang jauh lebih besar, jusi tru menyandarkan semua kuasa dan kekayaannya itu kepada Allah SWT semata. “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (ku fur) akan nikmat-Nya.“ (QS al-Naml [27]: 40).
Maka, bersyukurlah, bukan kufur! Wallahu a`lam.

Tidak MUDAH….Tapi Akan Terasa INDAH…


Tidak MUDAH tersenyum ketika hati menangis dan teriris
Tapi akan terasa INDAH ketika kita menyadari itu bagian dari kasih Ilahi
Agar Allah SWT memindahkan kebaikan-kebaikan orang yang menyakiti kita

Tidak MUDAH bangkit dalam keadaan terpuruk
Tapi akan terasa INDAH ketika kita menyadari…
Bahwa Allah SWT sedang menyapa dengan cinta-Nya agar kita tumbuh besar dan kuat

Tidak MUDAH memberi ketika diri sendiri dalam kekurangan
Tapi akan terasa INDAH ketika kita bisa membahagiakan orang lain
Bukan membahagiakan diri sendiri

Tidak MUDAH memaafkan ketika kita dibenci dan dihina
Tapi akan terasa INDAH kalau itu bagian dari penyucian diri…
Dan ikhlas hanya mengharap ridho Ilahi

Tidak MUDAH melupakan kegagalan ketika kita masih berkubang didalamnya
Tapi akan terasa INDAH ketika menyadari itu adalah awal dari kesuksesan kita

Tidak MUDAH melupakan masa lalu yang menyakitkan
Tapi akan terasa INDAH ketika menyadari itulah jalan yang harus ditempuh
Untuk mengawali kebahagiaan yang akan diberikan Allah SWT sebagai penggantinya

Tidak MUDAH menghilangkan duka karena kehilangan
Tapi akan terasa INDAH ketika menyadari…
Bahwa Allah SWT telah meminjamkan kepada kita beberapa saat

Tidak MUDAH menghadapi penderitaan dan cobaan yang terus mendera
Tapi akan terasa INDAH ketika menumbuhkan kesabaran dan rasa syukur
Dan menyadari itu bagian dari cara Allah SWT menyayangi hamba-Nya…
Seperti Allah SWT menyayangi para Nabi dan Rasul-Nya.
Insya Allah.

BAHAYA LISAN


Lisan, bentuknya memang relatif kecil bila dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, namun ternyata memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Celaka dan bahagia ternyata tak lepas dari bagaimana manusia memanajemen lidahnya. Bila lidah tak terkendali, dibiarkan berucap sekehendaknya, alamat kesengsaraan akan segera menjelang. Sebaliknya bila ia terkelola dengan baik , hemat dalam berkata, dan memilih perkataan yang baik-baik, maka sebuah alamat akan datangnya banyak kebaikan..

Di saat kita hendak berkata-kata, tentunya kita harus berpikir untuk memilihkan hal-hal yang baik untuk lidah kita. Bila sulit mendapat kata yang indah dan tepat maka ahsan (mendingan) diam. Inilah realisasi dari sabda Rasulullah sholallohu alaihi wasalam

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” ( HR Muslim )

Di samping itu kita pun harus paham betul manakah lahan-medan kejelekan sehingga lidah kita tidak keliru memijaknya. Kita harus tahu apakah sebuah hal termasuk dalam bagian dosa bagi lidah kita atau tidak? Bila kita telah tahu, tentunya kita bersegera untuk meninggalkannya.

Diantara medan-medan dosa bagi lidah kita antara lain..

  1. Ghibah
    Ghibah bila didefinisikan maka seperti yang diungkapkan oleh Rasulullah sholallohu alaihi wasalam.
    Engkau menyebutkan tentang saudaramu, dengan apa-apa yang dia benci” terus bagaimana jika yang kita bicarakan tersebut memang benar-benar ada pada saudara kita? .
    Jika memang ada padanya apa yang engkau katakan maka engkau telah meng-ghibahinya, dan bila tidak ada padanya maka engkau telah berdusta
    ” (HR. Muslim).

    Di dalam Al quran , Allah ta’ala menggambarkan orang yang meng-ghibahi saudaranya seperti orang yang memakan bangkai saudaranya:
    “Janganlah kalian saling memata-matai dan jangan mengghibahi antara satu dengan yang lain, sukakah kalian memakan daging saudaranya tentu kalian akan benci” ( Al Hujurat 12).

    Tentu sangat menjijikkan makan daging bangkai , semakin menjijkkan lagi apabila yang dimakan adalah daging bangkai manusia , apalagi saudara kita sendiri. Demikianlah ghibah, ia pun sangat menjijkkan sehingga sudah sepantasnya untuk dijauhi dan dan ditinggalkan.

    Lebih ngeri bila berbicara tentang ghibah, apabila kita mengetahui balasan yang akan diterima pelakunya. Seperti dikisahkan oleh Rasulullah sholallohu alaihi wasalam di malam mi’rajnya. Beliau menyaksikan suatu kaum yang berkuku tembaga mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Rasul pun bertanya tentang keberadaan mereka, maka dijawab bahwa mereka lah orang-orang yang ghibah melanggar kehormatan orang lain.

  2. Namimah.
    Kalau diartikan ia bermakna memindahkan perkataan dari satu kaum kepada kaum yang lain untuk merusak keduanya. Ringkasnya “adu domba”. Sehingga Allah SWT mengkisahkan tentang mereka dalam Al-Qur’an. Mereka yang berjalan dengan namimah , menghasut, dan mengumpat. Di sekitar kita orang yang punya profesi sebagai tukang namimah sangat banyak bergentayangan, dan lebih sering di kenal sebagai provokator-kejelekan. Namimah bukan hal yang kecil , bahkan para ulama mengkatagorikannya di dalam dosa besar.

    Ancaman Rasulullah bagi tukang namimah
    “Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba.” (HR Bukhari).

    Akibat namimah ini sangat besar sekali, dengannya terkoyak persahabatan saudara karib dan melepaskan ikatan yang telah dikokohkan oleh Allah SWT. Ia pun mengakibatkan kerusakan di muka bumi serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.

  3. Dusta.
    Dusta adalah menyelisihi kenyataan atau realita.
    Dusta bukanlah akhlaq orang yang beriman, bahkan ia melekat pada kepribadian orang munafiq.

    “Tiga ciri orang munafik, apabila berkata berdusta, apabila berjanji mengingkari dan apabila dipercaya berkhianat” (HR Bukhari dan Muslim).

    Padahal orang munafik balasannya sangat mengerikan “di bawah kerak api neraka” Dusta pun mengantarkan pelakunya kepada kejelekan “Sungguh kedustaan menunjukkan kepada kejelekan dan kejelekan mengantarkan kepada neraka.

 

Wallahu alam bishawab…