Berpikir negatif


Orang yang berpikiran negatif, seperti orang yang mengibarkan bendera putih sebelum berperang…

Advertisements

Indah pada waktunya…


Sangat banyak orang yang percaya jika Tuhan membuat semuanya indah pada waktunya.
Sayangnya mereka masih saja mendesak Tuhan agar membuat semuanya indah menurut ukuran waktu mereka..

Mencari kebenaran…


Seperti biasa, Salman al-Farisi menjalankan tugasnya seba gai seorang hamba sahaya di Kota Yatsrib. Hari itu dia bertugas di ladang kurma tuannya, seorang Yahudi dari Bani Quraizhah. Tatkala sedang berada di atas pohon kurma, seseorang datang menyampaikan berita dengan nada marah kepada tuannya yang sedang duduk di bawah pohon kurma. “Celakalah Bani Qailah. Sekarang mereka berkumpul di Quba’ menyambut kedatangan laki-laki dari Makkah yang mendakwakan dirinya Nabi.“

Salman sudah lama ingin mendengar berita itu. Ia tidak sabar untuk segera menemui Nabi yang baru datang tersebut. Salman segera turun dari pohon kurma dan bertanya kepada tamu itu, “Apa kabar Anda? Coba kabarkan kembali kepadaku!“ Tuannya langsung marah dan memukul Salman sambil menghardik: “Kerjakan tugasmu kembali! Ini bukan urusanmu!“ Salman kembali sadar bahwa dia sekarang berstatus sebagai hamba sahaya, bukan orang merdeka.

Dia berasal dari Jayyan, Kota Isfahan, Persia. Bapaknya seorang petani kaya yang terpandang dan pemeluk agama Majusi yang taat.
Dia ingin putra kesayangannya juga menjadi pemeluk Majusi yang taat.
Oleh sebab itu, Salman dikirimnya ke kuil, menjaga api yang mereka sembah jangan sampai padam. Tapi, jalan hidupnya berubah setelah dia tertarik menyaksikan cara beribadah orang-orang Nasrani di gereja. Akhirnya, dia kabur dari rumah bapaknya dan memulai pengembaraannya dari satu gereja ke gereja lain, belajar agama dari satu pendeta kepada pendeta lainnya sampai akhirnya dia bertemu dengan pendeta di Amuria.

Setelah guru terakhirnya wafat, dia ikut sebuah kafilah Arab yang berjanji akan membawanya ke tanah Arab.
Sebagai imbalannya Salman menyerahkan seluruh ternaknya kepada kafilah tersebut. Sayang dia ditipu.
Kafilah itu menjualnya sebagai hamba sahaya kepada seorang Yahudi dari Yatsrib. Sejak itulah Salman tinggal di Yatsrib dan menunggu-nunggu kedatangan Nabi terakhir itu.

Besoknya Salman datang ke Quba, menyuguhkan sepiring kurma kepada Nabi dan menyatakannya sebagai sedekah. Nabi menerima kurma dari Salman, lalu membagi habis kepada sahabat-sahabatnya. Satu biji pun tidak beliau makan. Setelah di Madinah, Salman datang lagi menyuguhkan sepiring kurma kepada Rasulullah, kali ini menyatakannya sebagai hadiah. Nabi segera memakan sebiji kurma lalu mempersilakan para sahabat makan bersamanya. Apa yang dikatakan gurunya dulu tepat, Nabi yang terakhir itu tidak menerima sedekah, tapi menerima hadiah.

Salman semakin yakin bahwa beliau memang Nabi terakhir yang diutus. Tetapi untuk memastikannya, Salman ingin membuktikan satu hal lagi. Apakah memang di punggung beliau ada tanda kenabian. Kesempatan itu di dapatnya waktu di Baqi.
Tatkala itu Nabi mengantar jenazah seorang sahabat, Salman sengaja mengitari Nabi berusaha melihat punggung Nabi.

Rupanya Nabi paham dan menjatuhkan kain yang menyelimuti punggungnya sehingga Salman dapat melihat tanda kenabian itu.
Serta-merta dia memeluk Nabi, menciumi beliau sambil menangis.

Itulah perjalanan panjang Salman mencari kebenaran. Berbahagialah Salman al-Farisi pada hari kematiannya dan berbahagia pula dia kelak pada hari dibangkitkan kembali di akhirat.

Sahabat


Cara tercepat dan terbaik untuk mendapatkan sahabat adalah dengan terlebih dahulu menjadi sahabat bagi diri sendiri baru untuk orang lain.
Hal ini bisa dimulai dengan senyuman yang tulus, siap mendengarkan, mempedulikan dan menunjukkan niat untuk membantu orang lain bertumbuh.

Memaafkan


Membawa beban sesungguhnya sangat tidak menyenangkan.

Memaafkan adalah pekerjaan yang lebih mudah, daripada membawa beban kemana saja kita melangkah.

Ada harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan dendam yang kita genggam terus menerus.

Getir, berat dan aroma yang tak sedap, itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian.

Memaafkan mungkin adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf.
Namun, pemberian itu, adalah juga hadiah buat diri kita sendiri: hadiah untuk sebuah kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kekotoran hati.”

Semoga Anda, saya dan kita semua termasuk kepada golongan orang – orang yang pemaaf, secara ikhlas dan sabar. Aamiin YRA

Menabur…


Apa yang kita tabur belum tentu kita tuai dalam hidup ini.
Namun tanpa menabur kita tidak akan pernah menuai dengan sukacita…

Kenangan


Orang – orang terbaik, yang berjasa, bermanfaat bagi orang banyak, akan selalu dikenang selamanya dan dijadikan inspirasi bagi motivasi sebagai pijakan dan ‘kiblat’ membimbing pada cita – cita.

mmm, terus selama ini apa yang sudah kita berikan pada dunia? dan
kenangan apa yang akan dunia kenang dari diri kita?
apakah kebaikan, apakah jasa, apakah karya besar, atau malah keburukan, Nuadzubillah.

Semoga kelak kita dikenang oleh dunia sebagai pribadi yang berlimpah kebaikan dan inspirasi motivasi bagai orang banyak. Aamiin YRA.

Previous Older Entries