Tarbiyah Ramadhan


Ramadhan telah berlalu.
Paling tidak, ada tiga tar biyah ilahiyah (pelajaran Ilahi) dari bulan suci nan agung itu.
Pertama, Ramadhan mengajarkan ketundukan kepada Sang Mahakuasa. Ini tecermin dari indah dan syahdunya rangkaian ibadah yang kita persembahkan kepada Allah SWT. Sesungguhnya, Ramadhan adalah momen peribadatan terbaik seorang mukmin sejati.

Di sinilah kita kembali diingatkan akan esensi kehadiran manusia sebagai hamba di hadapanNya. “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku“ (QS adz-Dzariyat [51] : 56).

Ramadhan sungguh istimewa.
Betapa tidak, setiap tarikan dan hembusan nafas terhitung tasbih, tidur menjadi ibadah, segala amal diterima, dan rangkaian doa diijabah. Malam hari diisi dengan qiyamul lail, tilawah, dan iktikaf.
Siang hari dipenuhi dengan derma dan kebajikan. Semuanya bermuara pada inti ibadah, yakni zikir (mengingat Allah).

Semua amal Ramadhan akan bernilai ibadah bila orientasi hasil yang kita harapkan adalah keridaan Allah SWT. Dilakukan secara ajek (istiqamah), tidak berhenti sekadar di Ramadhan. Kita ingin menjadi hamba Rabbani, yakni menjadikan hidup setelah Ramadhan dipenuhi dengan inspirasi Ramadhan.

Kedua, Ramadhan mengajarkan akan urgensi berbagi kepada sesama. Ramadhan adalah momen terbaik seorang mukmin saling berbagi kemakmuran. Rasulullah SAW menegaskan bahwa di balik berbagi terdapat keajaiban. Allah SWT berfirman dalam surah ath-Thalaq [65] ayat 7 yang artinya, “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya.
Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.“

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dinyatakan, “Adalah Rasulullah SAW orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan. Beliau bertemu Jibril pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Alquran.
Maka sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin.“

Ketiga, Ramadhan adalah momen berlangsungnya pertempuran di dalam diri setiap mukmin.
Paling tidak, pertempuran dengan diri kita sendiri. Upaya untuk menundukkan hawa dan nafsu yang selalu mencoba menggiring manusia memasuki jurang nadir kehidupan. Di bulan ini, setiap kita berupaya keras mengalahkan diri sendiri. Kemampuan mengatasi dorongan nafsu pada diri sendiri, pada gilirannya akan menjadikan setiap mukmin memiliki kekuatan untuk mengalahkan musuh riilnya bila diperlukan.

Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah orang yang kuat itu yang dapat membanting lawannya, kekuatan seseorang itu bukan diukur dengan kekuatan, tetapi yang disebut orang kuat adalah orang yang dapat menahan hawa nafsunya pada waktu marah.“ (HR Bukhari dan Muslim).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s