Betapa…


Betapa ingin kubercerita padamu ketika kita saling memandang, saat kita saling melempar senyum, menembus keheningan, memecah kesepian,
ketika mulut kita terkunci kekaguman, ketika kata – kata kehilangan kesempatan, ketika sapaan mulai manja dan sayup – sayup lagu roman,

Di bawah bulan separuh lingkaran, angin bergelayut di dahan, kamu bergelayut di dada menebus jiwaku, getaran jantung bersyair untukmu.
Sunyi mencair seperti hening menitik dalam butir embun di kuntum matamu.

Betapa ingin kubercerita padamu, tentang perjalanan menciptakan pagi dan sebongkah matahari, untuk menjelaskan makna cahaya dan betapa kehangatan adalah bahasa pertemuan yang diciptakan cinta.

Advertisements

Cermin ketaqwaan


Salah satu janji Allah dalam Alquran, bagi siapa saja yang melakukan puasa Ramadhan adalah derajat ketakwaan (al-Baqarah [2]: 183). Sebuah posisi yang sangat mulia. Dengan ketakwaan, manusia senantiasa menjadi makhluk yang selalu menjalankan perintah Allah dan tidak melanggar segala aturannya.

Tatanan kebangsaan kita akan senantiasa menuju ke arah yang lebih baik, jika memang derajat takwa itu senantiasa didapat, baik oleh rakyat maupun para pejabat.
Sebulan penuh setiap umat Islam menempa diri untuk menjadi makhluk yang terbaik, sehingga dapat melakukan transformasi kesalehannya dalam perilaku tidak hanya indi vidu, tetapi berimplikasi kepada kesalehan sosial.

Sedangkan, problem kemungkaran yang menjadi salah satu agenda terberat di Indonesia saat ini adalah persoalan korupsi. Kita tentu patut berharap banyak bahwa setiap orang, terutama para pejabat dapat mengubah sikap dan sistem yang korup menjadi lebih baik lagi.
Jika saja setiap pasca-Ramadhan kita berharap menjadi suci dan kembali ke fitrah, maka senantiasa harapan kita menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad yang kelak akan mendapat syafaatnya di akhirat.

Namun, jika kita tetap melakukan kemungkaran, kita akan tersingkir dari golongan Nabi Muhammad. Karena, Nabi SAW ber sabda, “Barang siapa yang merampok dan merampas, atau mendorong perampasan, bukanlah dari golongan kami (yakni bukan dari umat Muhammad SAW).“ (HR Thabrani dan al-Hakim).

Dalam keterangan yang lain Nabi Saw bersabda “Siapa saja yang mengambil harta saudaranya (tanpa izin) dengan tangan kanannya (kekuasaan), ia akan dimasukkan ke dalam neraka, dan diharamkan masuk surga.“ Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasul, bagaimana kalau hanya sedikit saja?’ Rasulullah SAW menjawab, “Walaupun sekecil kayu siwak,“ (HR Muslim, anNasai, dan Imam Malik dalam alMuwwatha).

Khusus bagi para pemimpin, konteks korupsi sebenarnya ada dua, selain menghindari perilaku korup, dia juga memiliki tugas untuk memberantasnya secara tegas. Dalam sebuah keterangan, Khalifah Umat bin Khattab telah memberikan contoh dalam pemberantasan korupsi ini.

Ibnu Sa’ad mengetengahkan kesaksian asy-Syi’bi yang mengatakan, “Setiap mengangkat pemimpin, Khalifah Umar selalu mencatat kekayaan orang tersebut. Selain itu, bila meragukan kekayaan seorang penguasa atau pejabat, ia tidak segan-segan menyita jumlah kelebihan dari kekayaan yang layak baginya, yang sesuai dengan gajinya.“

Umar bin Khattab dikenal dengan sikapnya yang tegas dalam memberantas korupsi. Proses pemberantasan tidak mesti menunggu peng aduan dari masyarakat, tetapi langsung turun tangan jika ditemukan pejabat yang melakukan korupsi.

Ramadhan tahun ini telah berlalu, kini waktu yang akan membuktikan, apakah para pemimpin kita telah benar-benar meraih ketakwaan atau tidak. Paling tidak dapat diukur dari dua hal apakah mereka dapat terhindar dari kasus-kasus korupsi atau tidak? Kemudian, seberapa serius proses pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh mereka terhadap orang lain yang melakukan korupsi? Jika ternyata kenyataannya kondisi bangsa ini tidak membaik, maka kita kembali menanti sampai datangnya bulan ramadhan tahun depan, dan begitulah seterusnya. Wallahu a’lam.

Cita – cita…


Allah SWT berfirman dalam A QS at-Taubah ayat 71: “Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah.
Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.“

Ayat ini menggambarkan secara jelas bahwa salah satu cita-cita dan harapan bersama yang harus digapai oleh kaum Muslim adalah rahmat Allah SWT. Sebab hanya dengan rahmat dan inayah-Nya, ki ta akan bisa menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan betapa pun berat dan kompleksnya.
Sebaliknya, tanpa rahmat dan inayah-Nya, mustahil kita bisa mengatasi permasalahan kehidupan, apalagi yang berkaitan dengan permasalahan bangsa dan negara.

Cita-cita dan harapan bersama itu hanya bisa diraih manakala kita melakukan berbagai amaliah mulia–seperti ter gambar pada ayat tersebut–antara lain, pertama, kita harus selalu berusaha membangun ukhuwah Islamiah dalam wujud saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Ukhuwah Islamiah dengan keimanan dan takwa adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Iman dan takwa harus melahirkan kesungguhan dalam membangun ukhuwah Islamiah melalui berbagai macam kegiatan ibadah ataupun muamalah yang bermanfaat, seperti membangun sarana pendidikan berkualitas dan terjangkau semua golongan umat, menumbuhkembangkan institusi ekonomi syariah yang bebas riba dan berorientasi sektor riil sekaligus membangun semangat wirausaha, dan memperkuat media yang menyuguhkan berita dan opini yang membangun kesadaran melakukan kebaikan.

Kedua, kaum Muslim harus terlibat aktif menjadi pelaku amar makruf nahi mungkar sesuai bidang masing-masing dan jangan menjadi penonton di luar lapangan.
Dengan lisan, tulisan, har ta, tena ga, ataupun jabatan. Pejabat Muslim yang baik akan berusaha menjadikan jabatannya sebagai wasilah dan sarana memperkuat pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak hal yang tak bisa dilakukan jika hanya dengan nasihat dan saran, tapi justru berjalan dengan instruksi dan keputusan pejabat ber wenang. Kita sangat mengharapkan lahirnya pejabat-pejabat yang memiliki komitmen kuat dalam amar makruf nahi mungkar.

Ketiga dan keempat, kaum Muslim harus membiasakan berjamaah dalam ibadah shalat fardhu sekaligus berusaha menunaikan zakat secara berjamaah pula mela lui institusi keamilan yang amanah dan profesional. Shalat dan zakat adalah dua ibadah yang saling memperkuat dan melengkapi. Ibadah shalat tekanannya membangun kekuatan hubungan secara ver tikal dengan Allah SWT, sedangkan zakat membangun kekuatan hubungan secara horizontal dengan sesama manusia. Kelima, semua kegiatan itu harus dilandasi dengan ketaatan yang bersifat absolut kepada Allah SWT.

Inilah cita-cita dan harapan bersama sekaligus pekerjaan rumah kita yang harus diselesaikan dan dituntaskan dalam penataan kehidupan sekaligus sebagai upaya meraih rahmat dan inayah-Nya.

Tarbiyah Ramadhan


Ramadhan telah berlalu.
Paling tidak, ada tiga tar biyah ilahiyah (pelajaran Ilahi) dari bulan suci nan agung itu.
Pertama, Ramadhan mengajarkan ketundukan kepada Sang Mahakuasa. Ini tecermin dari indah dan syahdunya rangkaian ibadah yang kita persembahkan kepada Allah SWT. Sesungguhnya, Ramadhan adalah momen peribadatan terbaik seorang mukmin sejati.

Di sinilah kita kembali diingatkan akan esensi kehadiran manusia sebagai hamba di hadapanNya. “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku“ (QS adz-Dzariyat [51] : 56).

Ramadhan sungguh istimewa.
Betapa tidak, setiap tarikan dan hembusan nafas terhitung tasbih, tidur menjadi ibadah, segala amal diterima, dan rangkaian doa diijabah. Malam hari diisi dengan qiyamul lail, tilawah, dan iktikaf.
Siang hari dipenuhi dengan derma dan kebajikan. Semuanya bermuara pada inti ibadah, yakni zikir (mengingat Allah).

Semua amal Ramadhan akan bernilai ibadah bila orientasi hasil yang kita harapkan adalah keridaan Allah SWT. Dilakukan secara ajek (istiqamah), tidak berhenti sekadar di Ramadhan. Kita ingin menjadi hamba Rabbani, yakni menjadikan hidup setelah Ramadhan dipenuhi dengan inspirasi Ramadhan.

Kedua, Ramadhan mengajarkan akan urgensi berbagi kepada sesama. Ramadhan adalah momen terbaik seorang mukmin saling berbagi kemakmuran. Rasulullah SAW menegaskan bahwa di balik berbagi terdapat keajaiban. Allah SWT berfirman dalam surah ath-Thalaq [65] ayat 7 yang artinya, “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya.
Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.“

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dinyatakan, “Adalah Rasulullah SAW orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan. Beliau bertemu Jibril pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Alquran.
Maka sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin.“

Ketiga, Ramadhan adalah momen berlangsungnya pertempuran di dalam diri setiap mukmin.
Paling tidak, pertempuran dengan diri kita sendiri. Upaya untuk menundukkan hawa dan nafsu yang selalu mencoba menggiring manusia memasuki jurang nadir kehidupan. Di bulan ini, setiap kita berupaya keras mengalahkan diri sendiri. Kemampuan mengatasi dorongan nafsu pada diri sendiri, pada gilirannya akan menjadikan setiap mukmin memiliki kekuatan untuk mengalahkan musuh riilnya bila diperlukan.

Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah orang yang kuat itu yang dapat membanting lawannya, kekuatan seseorang itu bukan diukur dengan kekuatan, tetapi yang disebut orang kuat adalah orang yang dapat menahan hawa nafsunya pada waktu marah.“ (HR Bukhari dan Muslim).