Menakar Ketakwaan


“Target utama puasa yang Allah syariatkan kepada orang-orang beriman di bulan Ramadhan yang mulia ini adalah menggapai derajat takwa.” (QS alBaqarah [2]: 183).

Untuk menggapai derajat penting ini, Allah SWT telah memberikan berbagai fasilitas yang akan mengantarkan seorang mukmin pada derajat tersebut.
Dalam sebuah hadis disebutkan, “Jika Ramadhan tiba maka pintu – pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup sedangkan setansetan dibelenggu.“ (HR An-Nasai).

Pada hadis lain, Rasulullah mengabarkan bahwa pahala orang – orang yang berpuasa dilipatgandakan dan tidak ada yang tahu berapa kelipatan pahala itu kecuali Allah SWT. Pintu khusus di surga yang bernama ar-Rayyan juga dibuka lebar hanya bagi orang yang puasa dan tidak akan bisa dimasuki oleh selain mereka. Selain itu, doa orang yang puasa juga akan dikabulkan Allah SWT sampai ia berbuka.

Sarana-sarana untuk menggapai derajat ketakwaan, telah Allah SWT hamparkan dengan adanya shalat malam.
Sehingga, apabila kita melakukannya dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah SWT, maka Allah SWT akan mengampuni semua ceceran dosa kita yang telah lalu.

Namun, pertanyaan yang harus kita ajukan pada diri sendiri adalah apakah dalam diri kita ada syarat – syarat orang yang bertakwa?
Dalam kitab al-Ghunyah Li Thalibi Thariqi al-Haq, Syekh Abdul Qadir Jailani, seorang imam kalangan sufi, dengan menyitir berbagai pendapat ulama menyebutkan, sesungguhnya yang disebut dengan takwa itu adalah meninggalkan perbuatan syirik (menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu), kemudian menanggalkan perbuatan maksiat dan semua bentuk dosa, meninggalkan syubhat, serta meninggalkan hal-hal yang tidak perlu dan perbuatan yang dapat menjerumuskan kita semakin jauh dari Allah SWT.

Ketakwaan kita akan benar – benar terasa aromanya, apabila Allah SWT sama sekali tidak pernah melihat kita berada di area-area yang dilarang dan diharamkannya.
Sebaliknya, Allah SWT akan senantiasa mendapatkan kita berada pada area-area yang diperintahkan-Nya.

Ruang lingkup aktivitas kita senantiasa berada di taman-taman amal surgawi bersama kepak indah sayap-sayap malaikat. Hati kita tidak terjerumus dalam kelalaian yang membuai dan melenakan, tidak larut dalam gelombang syahwat, indah dalam tawakal dan ridha Allah, serta penuh dalam pesona kesabaran ketika menghadapi ujian, dan juga ridha dengan takdir yang telah ditentukan Allah SWT. Orang – orang yang bertakwa akan mampu menyamakan amalan batin dengan lahirnya. Hatinya senantiasa steril dari semua penyakit hati yang merusak amal-amal salehnya.

Orang-orang bertakwa senantiasa berenergi untuk berburu kebaikan dan kehilangan tenaga untuk melakukan kejahatan. Potensi kebaikan demikian dominan menguasai relung hati dan jiwanya, sehingga semua energi jahat tidak memiliki ruang geraknya.

Memasuki paruh kedua Ramadhan ini, mari kita menakar kembali sejauh mana ketakwaan kita kini berada.
Semoga Allah SWT membimbing kita ke jalan yang lurus (shiratal mustaqim) dan melindungi kita dari perbuatan dosa dan maksiat. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s