Silaturahim


Alhamdulillah, kita patut bersyukur kepada Allah SWT.

Akhirnya, kita sudah melewati medan perjuangan rabbani bernama Ramadhan. Boleh jadi kita sedang bersuka cita, merayakan kemenangan setelah satu bulan berjuang menahan hawa nafsu dan perkara yang membatalkan puasa dan pahalanya.

Tapi, sebagai insan pilihan yang merindukan peningkatan takwa, suka cita tersebut bisa jadi akan bercampur dengan kesedihan dan doa. Bersedih karena berpisah dengan tamu agung yang telah banyak menabur keberkahan. Sekaligus harapan, semoga tahun depan akan kembali bersua dengan bulan penuh rahmat ini.

Kemenangan di hari raya Idul Fitri ini, kita syukuri dengan menjalin silaturahim. Kemenangan yang dinikmati bersama sebagai upaya menautkan kasih sayang Allah yang berserakan pada insan-insan pilihan. Tidak sedikit memang di antara kita yang beranggapan bahwa silaturahim hanya sekadar saling berkunjung, saling bersentuhan tangan, seraya meminta maaf.

Menurut gramatikalnya, silaturahim berasal dari kata shilat dan ar-rahiim. Shilat berarti menyambung, dan ar-rahiim berarti kasih sayang. Dengan demikian, silaturahim bermakna menyambung kasih sayang. Makna menyam bungkan menuju pada proses aktif dari sesuatu yang asalnya terputus menjadi tersambung, dari sesuatu yang asalnya bercerai-berai menjadi utuh kembali. Rasulullah SAW bersabda, “Yang disebut silaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan silaturahim itu menyambungkan yang terputus.“ (HR Bukhari).

Jika batasnya pada kunjungan yang disertai dengan barang bawaan, maka pemberian akan menjadi ukuran seseorang untuk silaturahim karena tak jarang orang yang enggan berkunjung dengan alasan tidak ada bawaan.
Pun dengan saling bersentuhan tangan, seperti yang biasa kita lakukan di hari Fitri ini, jika hanya sebatas aktivitas bersentuhan, bagaimana dengan orang yang diberi keterbatasan dengan tidak memiliki tangan. Oleh karena itu, perlu kita sadari bahwa silaturahim tidak hanya sebatas rekayasa gerak-gerik tubuh tapi pelibatan hati.
Dengan kombinasi bahasa tubuh dan bahasa hati ini yang akan menjadi kekuatan untuk berbuat lebih baik dan lebih bermutu.

Dari sini terlihat jelas betapa pentingnya menyambungkan tali silaturahim. Betapa tidak, dengan silaturahim akan tertaut rasa kasih sayang dengan sesama manusia, bahkan dengan makhuk Allah lainnya. Bila ini terjadi, maka rahmat Allah dan kasih saying-Nya akan turun dan menaungi hidup kita.
Tapi sebaliknya, rahmat dan kasih sayang Allah akan menjauh bila tali silaturahim terputus. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun yang di dalamnya ada orang yang memutuskan tali persaudaraan.“

Dengan tersambungnya silaturahim, maka ukhuwah Islamiah akan terjalin dengan baik. Pintu rahmat dan pertolongan Allah pun terbuka lebar. Seorang sahabat berkata, “Karena itu, jika kerinduannya adalah tegaknya syariat Allah, maka silaturahim adalah strateginya.“

Mohon maaf lahir batin. Taqabbalallahu minna wa minkum.

Advertisements

Selamat Idul Fitri 1432 H


 

Kemenangan…


Di pengujung Ramadhan, ada hari istimewa yang biasa disebut hari kemenangan.
Pada hari kemenangan itu, seluruh umat Islam merayakannya dalam beragam bentuk aktivitas dengan tetap memelihara suasana keagamaan. Di antara mereka ada yang menyambut hari kemenangan itu dengan menabuh beduk sejak sehari sebelumnya, menggemakan takbir di masjidmasjid, atau sekadar saling berkirim makanan dengan tetangga terdekat.

Tak jarang di antaranya yang memanfaatkan hari istimewa itu dengan berziarah mengunjungi makam keluarga ataupun leluhur yang telah mendahuluinya.
Aktivitas mudik yang telah menyita perhatian banyak kalangan pun menjadi bagian dari tradisi masyarakat yang masih utuh terpelihara. Semuanya untuk merayakan hari kemenangan.

Inilah di antara nuansa pem­ bauran antara tradisi dan ajaran.
Pembauran yang jika ditelusuri berakar pada dimensi interpretasi.
Dalam kasus berganti baju, misalnya, Nabi SAW memang pernah mengisyaratkan untuk mengenakan pakaian yang terbaik.
Tetapi, bukan dengan sengaja diada-adakan. Dan, tatkala ajaran itu mulai memasuki wilayah yang kaya budaya, lahirlah tradisi baru melalui proses persekutuan antara ajaran dan kebudayaan.

Lebaran kini bukan lagi fenomena ritual yang universal, tapi telah bergeser menjadi tradisi lokal.
Tradisi yang sewaktu-waktu dapat berubah, bertambah atau berkurang. Seperti hilangnya tradisi bertukar makanan, atau munculnya tradisi “halal bihalal“ formal.
Atas nama kedudukan, di kantor kantor digelar halal bihalal. Atas nama demokrasi ataupun cita-cita berkuasa, partai politik pun menyelenggarakan acara bersalaman massal. Bersalaman politik yang penuh dibumbui basa-basi.

Malah di Bali, Lebaran disebut Magalungan Jawa. Istilah “galungan“ sendiri digunakan untuk mengakrabkan upacara keagamaan orang-orang Islam dengan tradisi keagamaan masyarakat lokal yang punya upacara Galungan Bali. Sedangkan kata “Jawa“ digunakan untuk mengaitkan sejarah kedatangan Islam ke Bali yang dibawa oleh orang-orang Jawa.

Pencampuran kedua istilah itu, kira-kira, untuk menunjukkan: Inilah upacara Galungan-nya orang-orang Islam. Orang Islam sendiri tentu tidak keberatan dengan sebutan itu. Bahkan, lebih mampu memperlihatkan keakraban sosial untuk saling memahami perbedaan dalam beragama.
Masyarakat Bali memang cermin masyarakat beragama dengan suasana sosial yang sangat religius. Ketika masyarakat Muslim meramaikan hari Lebaran, orang Bali pun menyampaikan selamat dengan caranya sendiri sebagai penghormatan dan sikap toleransi.

Di sini lebih tampak perjumpaan antara agama dan kebudayaan.
Menurut para sosiolog, ekspresi keagamaan seperti itu merupakan salah satu produk tradisionalisasi agama. Melalui pintu inilah saudara-saudara di luar Muslim dapat ikut menikmati hari kemenangan Idul Fitri. Mereka dapat berbahagia tanpa harus mengikuti ritual layaknya seorang Muslim, karena kemenangan ini adalah kemenangan untuk semua.

Cermin ketakwaan


Salah satu janji Allah dalam Alquran, bagi siapa saja yang melakukan puasa Ramadhan adalah derajat ketakwaan (al-Baqarah [2]: 183). Sebuah posisi yang sangat mulia. Dengan ketakwaan, manusia senantiasa menjadi makhluk yang selalu menjalankan perintah Allah dan tidak melanggar segala aturannya.

Tatanan kebangsaan kita akan senantiasa menuju ke arah yang lebih baik, jika memang derajat takwa itu senantiasa didapat, baik oleh rakyat maupun para pejabat.
Sebulan penuh setiap umat Islam menempa diri untuk menjadi makhluk yang terbaik, sehingga dapat melakukan transformasi kesalehannya dalam perilaku tidak hanya indi vidu, tetapi berimplikasi kepada kesalehan sosial.

Sedangkan, problem kemungkaran yang menjadi salah satu agenda terberat di Indonesia saat ini adalah persoalan korupsi. Kita tentu patut berharap banyak bahwa setiap orang, terutama para pejabat dapat mengubah sikap dan sistem yang korup menjadi lebih baik lagi.
Jika saja setiap pasca-Ramadhan kita berharap menjadi suci dan kembali ke fitrah, maka senantiasa harapan kita menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad yang kelak akan mendapat syafaatnya di akhirat.

Namun, jika kita tetap melakukan kemungkaran, kita akan tersingkir dari golongan Nabi Muhammad. Karena, Nabi SAW ber sabda, “Barang siapa yang merampok dan merampas, atau mendorong perampasan, bukanlah dari golongan kami (yakni bukan dari umat Muhammad SAW).“ (HR Thabrani dan al-Hakim).

Dalam keterangan yang lain Nabi Saw bersabda “Siapa saja yang mengambil harta saudaranya (tanpa izin) dengan tangan kanannya (kekuasaan), ia akan dimasukkan ke dalam neraka, dan diharamkan masuk surga.“ Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasul, bagaimana kalau hanya sedikit saja?’ Rasulullah SAW menjawab, “Walaupun sekecil kayu siwak,“ (HR Muslim, anNasai, dan Imam Malik dalam alMuwwatha).

Khusus bagi para pemimpin, konteks korupsi sebenarnya ada dua, selain menghindari perilaku korup, dia juga memiliki tugas untuk memberantasnya secara tegas. Dalam sebuah keterangan, Khalifah Umat bin Khattab telah memberikan contoh dalam pemberantasan korupsi ini.

Ibnu Sa’ad mengetengahkan kesaksian asy-Syi’bi yang mengatakan, “Setiap mengangkat pemimpin, Khalifah Umar selalu mencatat kekayaan orang tersebut. Selain itu, bila meragukan kekayaan seorang penguasa atau pejabat, ia tidak segan-segan menyita jumlah kelebihan dari kekayaan yang layak baginya, yang sesuai dengan gajinya.“

Umar bin Khattab dikenal dengan sikapnya yang tegas dalam memberantas korupsi. Proses pemberantasan tidak mesti menunggu peng aduan dari masyarakat, tetapi langsung turun tangan jika ditemukan pejabat yang melakukan korupsi.

Ramadhan tahun ini telah berlalu, kini waktu yang akan membuktikan, apakah para pemimpin kita telah benar-benar meraih ketakwaan atau tidak. Paling tidak dapat diukur dari dua hal apakah mereka dapat terhindar dari kasus-kasus korupsi atau tidak? Kemudian, seberapa serius proses pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh mereka terhadap orang lain yang melakukan korupsi? Jika ternyata kenyataannya kondisi bangsa ini tidak membaik, maka kita kembali menanti sampai datangnya bulan ramadhan tahun depan, dan begitulah seterusnya. Wallahu a’lam.

KETIKA DIKHIANATI!!!


Ketika kita mencintai dengan tulus, entah kepada kekasih, keluarga ataupun sahabat yang kita anggap sebagai saudara sendiri. Namun, kemudian orang tersebut menghianati.
Merusak kepercayan yang dibina dan menyelewengkan amanah yang diberikan.

SAKIT. Kata itu bahkan belum cukup.
SANGAT MENYAKITKAN! Memang, akan sangat menyakiti hati kita. benar benar orang yang tidak tahu diri!.

Inginnya kita marah.
Membalas dan menumpahkan emosi.
Bahkan kalau bisa mungkin ingin menghabisinya saja! Berharap mereka minta maaf, sadar dan merasakan perasaan yang sama! Akan tetapi sayang, yang diharapkan tak peduli.

Tapi itu semua belum cukup! Kita masih ingin terlihat menderita dengan cara tidak memaafkan dan menikmati rasa sakit itu!
NIKMAT memang.
Merasa diri paling teraniaya.
Coba kita renungkan kembali, bukankah benci karena ada cinta?
Tak mungkin bisa sangat membenci tanpa sangat mencintai?

CINTA benarkah kita mencintai dengan tulus?
Apa makna cinta?
Cinta adalah memberi-ketulusan-nol/ikhlas.
Seperti Allah SWT mencintai hamba – NYA seperti ibu menyayangi anak anaknya.
Tak pernah berharap tak pernah menuntut balasan.

BENCI kenapa harus ada benci?
SAKIT apakah sakit itu?
Kembali kepada MAKNA CINTA! Intropeksi! Ya, mungkin itu semua karena kesalahan kita, terlalu percaya, terlalu baik sehingga tidak tegas dengan alasan “ takut menyakiti” alasan “ tidak bisa menolak”…

Berarti kita baik bukan ikhlas donk?

Walaupun salah kita iyakan dan kita sanggupi karena cinta dan enggan mengecewakan.
Namun, pada akhirnya kita akan sakit dan kecewa juga, bukan hanya kita tetapi juga Dia! Semua karena diri kita juga, sedikit demi sedikit perlahan demi perlahan terseret jatuh bersama…
Jika sudah itu hancurlah kita semua!

Sakit, kecewa ,sedih, benci, mungkin dendam.

Menyadari bahwa diri kita turut andil, mari kita intropeksi dan memperbaiki semuanya.
Langkah awal adalah MEMAAFKAN!

Baik pada diri sendiri maupun orang yang kita cintai.
Terkadang jadi berbalk membenci diri sendiri karena kesalahan kita semua keburukan harus terjadi! Itu artinya kita belum sanggup memaafkan diri.

Allah SWT itu Memaafkan.
Taubat itu adalah menyesal lalu memperbaiki dan bangkit! Bukan terpuruk!
Sahabat semua, mari kita memaafkan ketika dikhianati! Hasilnya, Insya ALLAH akan indah.

Perak, Emas, Diamond.


Ketika kita dihadapkan pada suatu yg tidak mengenakan baik oleh pasangan, anak, sahabat, bawahan atau atasan kita, timbulah suatu dilema apakah kita harus bicara, diam atau bertindak.
Timbulah konflik-konflik bathin karena setiap pilihan ada konsekuensinya, ada ungkapan :

Speech is silver, Silence is golden, action is Diamond.

Berbicara adalah Perak. Diam dan Ikhlas Adalah ( Emas ), Aksi/tindakan Baik adalah Intan.

Seperti halnya Intan lebih berharga daripada emas, dan Emas lebih berharga daripada perak.
Bicara kalau hanya mengungkapkan kekesalan saja dan menimbulkan kekisruhan maka lebih baik kita diam, kendala terbesar adalah bukan masalah benar atau masalah tapi ego sering yang bermain.

Diam tanpa melakukan apapun tanpa dibarengi dengan keikhlasan maka akan membuat emosi, dongkol dan kesal lama – lama semakin menumpuk dan akhirnya meledak, dhuaaar, ledakan merusak segala yang ada disekeliling kita, yang tidak ada sangkut-paut dengan masalah akan kena juga.

Action yang baik, adalah langkah terbaik yaitu kita berusaha meneliti karakter, kebiasaan, latarbelakang dll pasangan, sahabat, anak dll maka kita akan memahami mengapa dia bersikap seperti itu, dengan pemahaman maka kita akan memaklumi, sehingga tidak ada emosi lagi, sehingga segala tindakan kita adalah karya nyata tuk merubahnya ke arah positif. Insya Allah.

Kertas kreatif…


kertas
Kertas-2
kertas-3
kertas-4
kertas-5
kertas-6
kertas -7
Kertas - 8
kertas - 9
Kertas 10

Previous Older Entries