Cara orang melihat orang lain adalah cerminan diri mereka sendiri.


Jika Anda orang yang percaya kepada orang lain, Anda akan melihat orang lain sebagai orang yang dapat dipercaya.

Jika Anda seorang yang suka mengkritik, Anda akan melihat orang lain sebagai ancaman karena menyukai hal yang sama yakni mengkritik.

Jika Anda seorang yang penuh kasih, Anda akan melihat orang lain sebagai orang yang penuh kasih sayang dan layak untuk disayangi.

Kepribadian Anda terpancar ketika Anda berbicara tentang orang lain dan beriteraksi dengan mereka. Seseorang yang tidak mengenal Anda akan bisa mengetahui Anda cukup banyak hanya dari sebuah pengamatan sederhana saja, hanya karena perilaku Anda.

Advertisements

Tidak senang menjadi lebih baik?…


Selalu saja ada orang di sekitar kita yang tidak senang jika kita menjadi lebih baik dari mereka, bahkan jika perlu mereka membuat isu – isu untuk menjatuhkan kita, membuat berita – berita untuk memojokan kita, atau menyerang kita dengan segala sesuatu supaya ambisinya tercapai yakni kita tidak menjadi lebih baik, bahkan terpuruk.

Mereka sebenarnya tengah dibodohi, diperbudak oleh pikiran negatif dan hawa nafsunya, nah Anda jangan terlalu menghiraukan prilaku mereka, latihalah diri Anda untuk membiarkan mereka sepuasnya melakukan itu, buktikan dengan sikap terbaik, jangan mudah terpancing untuk menanggapi, jika Anda melakukan hal serupa, apa bedanya Anda dengan mereka?

Biarkan mereka terbuai dengan masa lalu kita, padahal kita sudah jauh dari apa yang mereka bayangkan, kita sudah berubah menjadi baik bahkan terbaik. Focus saja pada kebaikan dan berbuat baik, evaluasi diri, continuos improvement, karena mereka akan sangat senang jika kita terpuruk dan menjadi buruk.

Tetap istiqamah memperbaiki diri, tetap berlatih sabar & Ikhlas secara istiqamah, Anda adalah penggerak dari semua kebaikan Anda.
Semoga hari ini dan seterusnya kebaikan selalu ada bersama kita semua. Aamiin YRA.

Niat baik…


Meski setiap niat baik sering disalahartikan, jika niat baik kita lurus, tulus ikhlas tidak ada niat lain selain berbuat kebaikan dan tidak mengharap apapun Insya Allah tidak ada yang sia – sia, apalagi berbuah keburukan.

Jika persepsi mereka yang meng-salahartikan kebaikan kita tetap saja istiqamah dengan prilaku negatifnya, kita juga jangan kalah untuk istiqamah berbuat kebaikan.

Semoga kebaikan selalu menjadi bagian dari hidup dan kehidupan Anda, saya dan kita semua, terpancar dalam hati, pikiran, perkataan dan perbuatan. Insya Allah. Aamiin YRA.

Enam penyebab kerusakan hati


1. Sengaja berbuat dosa dengan harapan dosanya nanti diampuni (acapkali meremehkan dosa kecil, sedangkan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus).
2. Memiliki ilmu, tetapi tidak diamalkannya
3. Apabila beramal, tidak ikhlas (ada niat – niat tertentu dibalik setiap amalnya, bukan karena Allah SWT, tapi karena sesuatu dan atau seseorang di sekitarnya).
4. Memakan rizki Allah SWT, tetapi tidak pernah bersyukur
5. Tidak ridha dengan pemberian Allah SWT
6. Sering mengubur orang wafat, namun tidak mau mengambil pelajaran dari kematian tersebut.
Dari Nashaihul Ibaad.

Jika urat malu untuk berbuat keburukan sudah putus, maka apa yang bisa diharapkan dari setiap tindakannya, selain dari mengumbar hawa nafsu dan pakaian keburukan. Naudzubillah

Semoga kita selalu terlindung dari hati yang rusak, kotor hati dan penyakit hati.
Selalu istiqamah menjaga hati, pandangan dan pikiran, mengingat Allah SWT dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun, sehingga setiap tindakan selalu merasa dilihat, pada akhirnya malu untuk berbuat keburukan (tipu daya syetan, mengubar hawa nafsu dengan penyakit hati (iri, dengki, riya, sombong, putus asa, suudzan, pemarah, pembohong, khianat, ghibah, dsb) ). Aamiin YRA

Janganlah berlama-lama..


Janganlah berlama-lama mengisi kehidupan dengan berbantah – bantahan yang lebih mengutamakan tidak berubahnya pendapat lama yang tidak memuliakan kehidupan.

Marilah kita menyegerakan keterlibatan dalam kehidupan yang ceria dan sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang meningkatkan kualitas hidup kita.

Kemudian, jika kita merindukan tempat-tempat yang mulia dalam kehidupan kita di dunia dan di akhirat, marilah kita melebihkan kecintaan yang menjadikan diri dan pekerjaan kita jalan kebaikan bagi sesama.

Marilah kita memuliakan kehidupan.

Jika Mampu Mengapa Harus Minta



Masjid di kampung kami sudah tua, entah kapan mulai dibangun, yang jelas sedari kecil aku sudah shalat di masjid itu. Bangunan semipermanen, di depannya ada sebuah kolam ikan. Di pinggir kolam ikan ada sebuah bangunan kecil tempat beduk digantungkan. Kami menamainya Rumah Tabuah. Di sampingnya, ada warung berlantai dua, tempat khatib tinggal dan berjualan. Beliaulah yang secara rutin mengurus masjid setiap hari.
Jamaah masjid mengusulkan agar masjid itu diperbarui menjadi lebih indah dan modern. Tetapi, usulan itu tidak kunjung diterima karena masih ada yang berpendapat masjid wakaf tak boleh dirobohkan, sebelum ada yang baru agar pahalanya tetap mengalir kepada waqif.
Pengurus masjid yang dipimpin khatib menemui Buya Datuak Palimo Kayo, ulama yang sangat berpengaruh di Sumatra Barat.
Beliau orang sumando kampung kami. Buya Datuak menyetujui rencana pembangunan masjid baru.
“Sekalipun masjid lama dirobohkan, lalu dibangun masjid baru yang lebih bagus, insya Allah pahalanya tetap mengalir untuk waqif masjid lama. Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan hambanya,“ kata Buya Datuak meyakinkan.
Persoalan wakaf sudah dianggap selesai, tinggal masalah dana.
Dalam rapat pertama Panitia Pembangunan Masjid, muncul usul cemerlang dari anggota panitia.
“Buya Datuak kan sahabat dekat Pak Natsir. Sementara Bapak Natsir sangat dihormati dan dipercaya oleh beberapa negara Arab, terutama negara-negara Teluk yang kaya raya, seperti Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Sudah banyak bantuan pembangunan masjid yang disalurkan negara-negara kaya tersebut melalui Pak Natsir. Jadi, kita tinggal minta Buya Datuak menghubungi Pak Natsir.“
Usulan panjang lebar dari anggota panitia tadi segera disahuti dengan koor setuju oleh seluruh panitia. Memang benar, sebagai sesama tokoh Masyumi, Buya Datuak–lengkapnya Haji Mansur Daud Datuak Palimo Kayo–bersahabat karib dengan Dr M Natsir, tokoh Masyumi, mantan perdana menteri NKRI. Buya Datuak pernah menjadi duta besar RI untuk Irak.
Setelah Masyumi bubar, dua tokoh ini sama-sama aktif di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Pak Natsir jadi ketua umum DDII di pusat, sementara Buya Datuak jadi ketua DDII Sumatra Barat dan sekaligus ketua MUI Sumbar.
Dengan harapan yang besar, panitia menemui Buya Datuak menyampaikan maksudnya. Di luar dugaan, Buya Datuak marah besar.
“Angku-angku semua punya rumah bagus, punya toko, sawah, dan kebun, bukan orang miskin.
Kenapa untuk membangun semua rumah Allah harus meminta-minta sampai ke Arab? Apa angku-angku tidak malu dengan Allah? Atau, angku-angku memang ingin dimiskinkan oleh Allah?“ Besoknya Buya Datuak meminta diadakan tabligh akbar. Dari atas mimbar, beliau menyampaikan berbagai pesan. “Ibu-ibu yang memakai perhiasan emas harap dilepaskan untuk pembangunan masjid. Bapak-bapak yang bawa dompet, harap mengeluarkan semua uang untuk pembangunan masjid.“ Jamaah pun mematuhi permintaan Buya Datuak. Dan, terkumpullah dana awal untuk pembangunan masjid.
Beberapa tahun kemudian, masjid baru yang megah dan indah berdiri, tanpa harus meminta satu riyal pun dari negara Arab. Itulah pelajaran dari Buya Datuak. Jika kita mampu, mengapa harus meminta?

Mengapresiasi Prof Dr Yunahar Ilyas