Kehidupan yang berarti…


Sebagai manusia jelas kita memiliki perbedaan dalam menjalankan  kehidupan dan kehidupan bukanlah sekedar rutinitas belaka.

Kehidupan adalah kesempatan untuk mencurahkan potensi diri kita untuk orang lain.

Kehidupan adalah kesempatan untuk berbagai suka dan duka dengan orang yang kita sayangi.

Kehidupan adalah kesempatan untuk bisa mengenal orang lain dan saling memahami.

Kehidupan adalah kesempatan untuk membantu kepada sesama.

Kehidupan adalah kesempatan untuk mencintai dan menyayangi pasangan kita, orang tua kita, saudara, serta mengasihi sesama umat manusia.

Kehidupan adalah kesempatan untuk belajar dan terus belajar tentang arti kehidupan.

Kehidupan adalah kesempatan untuk selalu mengucap syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Advertisements

belajar..


Siapapun yang berhenti belajar berarti sudah menuakan dirinya, sekalipun itu terjadi di usia 20 atau 80an.

Siapapun yg trs bljr tdk hanya mempertahankan kemudaannya, namun juga terus meningkatkan kualitasnya.

Rindu… [mizz u beib.. ^_^]


Jejak – jejakmu jadi jalan setapak
Aku menuju hatimu dengan setangkai sajak
yang kupetik dari perjalanan berliku
bukankah selalu kutanam merdu, penawar rindu.

Embun-embun menyukai telanjang tapak kakimu, ketika kau melintas jalan setapak
rerumputan menjaga jejakmu tetap basah, seperti butir airmata yang enggan jatuh dari bulumatamu
bagaimana pun aku memunguti jejak itu, menyimpannya dalam sebuah sajak
lalu kuikuti ke mana kata pergi mengembara.

Bukankah hatimu kampung halaman dari seluruh sajakku
tempat kembalinya aku dengan segala perbekalan cinta.

Mengapresiasi rindu

Kejujuran…


Kejujuran adalah tanda bukti keimanan. Orang mukmin pasti jujur.
Kalau tidak jujur, keimanannya sedang terserang penyakit kemunafikan.

Pernah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: “Apakah mungkin seorang mukmin itu kikir?“ Rasul SAW menjawab: “Mungkin saja.“
Sahabat bertanya lagi: “Apakah mungkin seorang mukmin bersifat pengecut?“ Rasul menjawab: “Mungkin saja.“
Sahabat bertanya lagi, “Apakah mungkin seorang mukmin berdusta?“ Rasulullah menjawab: “Tidak.“
(HR Imam Malik dalam kitab al Muwaththo’)
Inti hadis ini menegaskan, seorang mukmin tidak mungkin melakukan kebohongan.
Kejujuran adalah pangkal semua perbuatan baik manusia.
Tidak ada perbuatan dan ucapan baik kecuali kejujuranlah yang mendasarinya.
Oleh sebab itu, Allah SWT menyuruh orang-orang mukmin agar selalu berkata benar dan jujur.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepa da Allah dan katakanlah perkataan yang jujur/benar.“ (al-Ahzab [33]: 70).

Rasulullah bersabda: “Kamu sekalian wajib jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa kepada surga.“ (HR Ahmad, Muslim, at-Turmuzi, Ibnu Hibban).
Kejujuranlah yang menjadikan Ka’b bin Malik mendapat ampunan langsung dari langit sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surah at – Taubah.
Kejujuranlah yang menyelamatkan bahtera kebahagiaan keluarga dan kejujuran pulalah yang menyelamatkan seorang Muslim dari siksa api neraka di kemudian hari.
Kejujuran adalah tiang agama, sendi akhlak, dan pokok kemanusiaan manusia.
Tanpa kejujuran, agama tidak lengkap, akhlak tidak sempurna, dan seorang manusia tidak sempurna menjadi manusia.

Di sinilah urgensinya kejujuran bagi kehidupan.
Rasulullah pernah bersabda, “Tetap berpegang eratlah pada kejujuran. Walau kamu seakan melihat kehancuran dalam berpegang teguh pada kejujuran, tapi yakinlah bahwa di dalam kejujuran itu terdapat keselamatan.

(HR Abu Dunya) Ada tiga tingkatan kejujuran: Pertama, kejujuran dalam ucapan, yaitu kesesuaian ucapan dengan realitas. (lihat ash-Shaff [61]: 2 dan al-Ahzab [33]: 70).
Kedua, kejujuran dalam perbuatan, yaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.
Ketiga, kejujuran dalam niat, yaitu kejujuran tingkat tinggi di mana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk Allah SWT.

Seorang mukmin tidak cukup hanya jujur dalam ucapan dan perbuatan, tapi harus jujur dalam niat sehingga semua ucapannya, per buatannya, kebijakannya, dan keputusannya harus didasarkan atas tujuan mencari mardlotillah.
Kejujuran inilah yang mendorong Umar bin Khattab memiliki tanggung jawab luar biasa dalam memerintah khilafah Islamiyah sehingga pernah berkata: “Seandainya ada seekor keledai terperosok di Baghdad (padahal beliau berada di Madinah), pasti Umar akan ditanya kelak: “Mengapa tidak kau ratakan jalan untuknya?“ Bangsa yang tak henti-hentinya diterpa musibah dan krisis sangat membutuhkan manusia – manusia jujur, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun niat. Wallahu a’lam bis shawab.

Mengapreasiasi Achmad Satori Ismail

10 [karakter] Kunci agar hidup bahagia


  1. Ketulusan; ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan bermasalah atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada- ada, pura – pura, mencari – cari alasan atau memutarbalikan fakta. Prinsipnya “ya” di atas “ya” dan “tidak” di atas “tidak”.
  2. Kerendahan Hati; berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahan hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang di atasnya merasa oke dan membuat orang yang dibawahnya tidak merasa minder.
  3. Kesetiaan; Orang yang setia selalu bisa diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.
  4. Positive Thinking; Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, lebih suka mengevaluasi diri ketimbang menyalahkan orang lain, dan sebagainya.
  5. Keceriaan; Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa menertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.
  6. Bertanggung jawab; Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh – sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan, bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapa pun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apa pun yang dialami dan dirasakannya.
  7. Percaya Diri; Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.
  8. Kebesaran jiwa; Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai kebencian dan permusuhan. Ketika menghadapi masa – masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.
  9. Easy Going; Orang yang easy going menanggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar – besarkan masalah kecil, bahkan berusaha mengecilkan masalah – masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan, Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah – masalah yang berada di luar kontrolnya.
  10. Empati ; Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapijuga menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik sia selalu mencari jalan keluar terbaik, bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Semoga saya, Anda pembaca, dan siapapun yang menyimak tulisan ini, memiliki karakter tersebut, pada akhirnya disatukan dalam lingkaran orang – orang yang bahagia, lahir dan bathin. Aamiin YRA.

Manakah yang lebih baik? Mengejar cinta atau memberikan cinta?


Salah satu kebahagiaan adalah ketika melihat orang yang kita cintai bahagia.
Kebahagiaan jenis ini levelnya lebih tinggi dari kebahagiaan yang bersifat individual.
Boleh jadi, ini masuk dalam kategori kebahagiaan sosial.

Tidak gampang untuk memperoleh kebahagiaan jenis ini.
Apalagi bagi mereka yang bersifat egois.
Semua kebahagiaannya diukur dari kebahagiaan diri sendiri.
Orang yang demikian adalah tipikal ‘pemburu kebahagiaan’, yang justru tidak pernah menemukan kebahagiaan. ..

Berumah tangga adalah sebuah cara untuk memperoleh kebahagiaan, dengan cara membahagiakan pasangan kita.
Partner kita. Istri atau suami. Bisakah itu terjadi? Bisa, ketika berumah tangga dengan berbekal cinta.
Bukan sekadar berburu cinta. Lho, memang apa bedanya?

Berbekal cinta, berarti kita mencintai pasangan kita.
Ingin memberikan sesuatu kepada pasangan agar ia merasa bahagia.
Sedangkan berburu cinta, berarti kita menginginkan untuk dicintai.
Menginginkan sesuatu dari pasangan kita, sehingga kita merasa bahagia.

Menurut anda, manakah yang lebih baik?
Mengejar cinta atau memberikan cinta?
Mengejar kebahagiaan ataukah memberikan kebahagiaan?
Mengejar kepuasan ataukah justru memberikan kepuasan?
Mana yang bakal membahagiakan, yang pertama ataukah yang ke dua?
Ternyata, yang ke dua. Mengejar cinta hanya akan mendorong anda untuk berburu sesuatu yang semu belaka. Yang tidak pernah anda raih. Karena, keinginan adalah sesuatu yang tidak pernah ada habisnya. Apalagi keserakahan.

Hari ini Anda merasa memperoleh cinta dari pasangan Anda, maka berikutnya anda akan merasa tidak puas.
Dan ingin memperoleh yang lebih dari itu. Sudah memperoleh lagi, berikutnya anda akan ingin lebih lagi.

Ini hampir tak ada bedanya dengan ingin mengejar kesenangan dengan cara memiliki mobil atau rumah.
Ketika kita masih miskin, kita mengira akan senang memiliki mobil berharga puluhan juta rupiah.
Kita berusaha mengejarnya. Lantas memperolehnya. Dan kita memang senang.

Tapi, tak berapa lama kemudian, kita menginginkan untuk memiliki mobil yang berharga ratusan juta rupiah.
Mobil yang telah kita miliki itu tidak lagi menyenangkan, atau apalagi membahagiakan.

Benak kita terus menerus terisi oleh bayangan betapa senangnya memiliki mobil berharga ratusan juta rupiah.
Jika kemudian kita bisa memenuhi keinginan itu, kita pun merasa senang.
Tetapi, ternyata itu tidak lama. Benak kita bakal segera terisi oleh bayangan-bayangan, betapa senangnya memiliki mobil yang berharga miliaran rupiah. Begitulah seterusnya. Coba rasakan hal ini dalam kehidupan anda, maka anda akan merasakan dan membenarkannya.

Kesenangan dan kebahagiaan itu bukan anda peroleh dengan cara mengejarnya, melainkan dengan cara merasakan apa yang sudah anda miliki. Dan jika anda mensyukurinya, maka kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya pada perubahan yang datang berikutnya.

Anda tak perlu mengejar kebahagiaan, karena anda sudah menggenggamnya.
Yang perlu anda lakukan sebenarnya adalah memberikan perhatian kepada apa yang sudah anda miliki.
Bukan melihat dan mengejar sesuatu yang belum anda punyai.
Semakin anda memberikan perhatian kepada apa yang telah anda miliki, maka semakin terasa nikmatnya memiliki.
Jadi, kuncinya bukan mengejar, melainkan memberi.

Demikian pula dalam berumah tangga.
Jika kita ingin memperoleh kebahagiaan, caranya bukan dengan mengejar kebahagiaan itu.
Melainkan dengan memberikan kebahagiaan kepada pasangan kita.
Bukan mengejar cinta, melainkan memberikan cinta.
Bukan mengejar kepuasan, melainkan memberikan kepuasan.

Maka anda bakal memperoleh kebahagiaan itu dari dua arah.
Yang pertama, anda akan memperolehnya dari pasangan anda.
Karena merasa dibahagiakan, ia akan membalas memberikan kebahagiaan.

Yang ke dua, kebahagiaan itu bakal muncul dari dalam diri anda sendiri.
Ketika kita berhasil memberikan kepuasan kepada pasangan kita, maka kita bakal merasa puas.
Ketika berhasil memberikan kesenangan kepada partner kita, maka kita pun merasa senang. Dan ketika kita berhasil memberikan kebahagiaan kepada istri atau suami kita, maka kita pun merasa bahagia.

Ini, nikmatnya bukan main.
Jumlah dan kualitasnya terserah anda.
Ingin lebih bahagia, maka bahagiakanlah pasangan anda.
Ingin lebih senang, maka senangkanlah pasangan anda lebih banyak lagi.
Dan, anda ingin lebih puas?
Maka puaskanlah pasangan anda dengan kepuasan yang lebih banyak.
Anda pun bakal merasa semakin puas.
Terserah anda, minta kesenangan, kepuasan, atau pun kebahagiaan sebesar apa.
Karena kuncinya ada di tangan anda sendiri.
Semakin banyak memberi semakin nikmat rasanya.

Anda yang terbiasa egois dan mengukur kebahagiaan dari kesenangan pribadi, akan perlu waktu untuk menyelami dan merenungkan kalimat-kalimat di atas.

Contoh yang lebih konkret adalah perkawinan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Perkawinan semacam ini sungguh membuat menderita pihak yang tidak mencintai.
Padahal ia dicintai. Segala kebutuhannya dipenuhi oleh pasangannya. Katakanlah ia pihak wanita.

Segala kebutuhan sang wanita selalu dipenuhi oleh suaminya. Rumah ada. Mobil
tersedia. Pakaian, perhiasan, dan segala kebutuhan semuanya tercukupi.
Tetapi ia tidak pernah merasa bahagia. Kenapa? Karena tidak ada cinta di hatinya.

Sebaliknya, sang suami merasa bahagia, karena ia mencintai istrinya.
Ia merasa senang dan puas ketika bisa membelikan rumah.
Ia juga merasa senang dan puas ketika bisa membelikan mobil.

Dan ia senang serta puas ketika bisa memenuhi segala kebutuhan istri yang dicintainya itu.
Semakin cinta ia, dan semakin banyak ia memberikan kepada istrinya, maka semakin bahagialah sang suami.
Kalau ia benar-benar cinta kepada istrinya, maka ukuran kebahagiaannya berada pada kebahagiaan si istri.
Jika istrinya bahagia, ia pun merasa bahagia.
Jika istrinya menderita, maka ia pun merasa menderita.

Akan berbeda halnya, jika si suami tidak mencintai istri.
Ia sekadar menuntut istrinya agar mencintainya.
Memberikan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan kepadanya.
Ketika semua itu tidak sesuai dengan keinginannya, maka ia bakal selalu merasa tidak bahagia. Tidak terpuaskan.

Sebaliknya, jika istri tersebut kemudian bisa mencintai suaminya – karena kebaikan yang diberikan terus menerus kepadanya – maka si istri itu justru bakal bisa memperoleh kebahagiaan karenanya.

Pelayanan yang tadinya dilakukan dengan terpaksa terhadap suaminya, kini berganti dengan rasa ikhlas dan cinta. Tiba-tiba saja dia merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada terkira.

Kalau dulu ia memasakkan suami dengan rasa enggan dan terpaksa, misalnya, kini ia melakukan dengan senang hati dan berbunga-bunga. Kalau dulu ia merasa tersiksa ketika melayani suami di tempat tidur, kini ia merasakan cinta yang membara.

Ya, tiba-tiba saja semuanya jadi terasa berbeda. Penuh nikmat dan bahagia.
Padahal seluruh aktivitas yang dia lakukan sama saja. Apakah yang membedakannya? Rasa cinta!

Ketika ‘berbekal cinta’, semakin banyak ia memberi, semakin banyak pula rasa bahagia yang diperolehnya.
Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa yang bahagia itu sebenarnya bukanlah orang yang dicintai, melainkan orang yang mencintai.
Orang yang sedang jatuh cinta…

Karena itu keliru kalau kita ingin dicintai.
Yang harus kita lakukan adalah mencintai pasangan.
Semakin besar cinta kita kepadanya, semakin bahagia pula kita karenanya.
Dan yang ke dua, semakin banyak kita memberi untuk kebahagiaan dia, maka semakin bahagialah kita…

Begitulah mestinya rumah tangga kita. Bukan saling menuntut untuk dibahagiakan, melainkan saling memberi untuk membahagiakan. Karena di situlah kunci kebahagiaan yang sebenar-benarnya memberikan kebahagiaan. ..

Dadu vs nasib?



Apakah itu nasib?
Adakah nasib yang membuat Ibu penjaja koran yang tinggal di Semarang dan mereka yang tinggal di kompleks kumuh Jakarta tetap bertahan di sana?
Bagaimana bisa kita memahami nasib?
Saya tak bisa. Tetapi keponakan saya yang berumur lima tahun punya petunjuknya.

Saat itu saya sedang bermain berdua dengannya: Ular-Tangga. Setelah beberapa lama bermain dan bosan mulai merambati benak, saya meraih surat kabar dan mulai membaca-baca.

Keponakan saya itu, kemudian berkata, “Ayo jalan! Gililan Om. Kalo nggak jalan juga, Om bakal nggak naik-naik, di situ telus, dan mainnya nggak selesai-selesai. “

Saya tersadar. Ular-Tangga, permainan semasa kita kanak-kanak, adalah contoh yang bagus tentang permainan nasib manusia. Ada petak-petak yang harus dilewati. Ada Tangga yang akan membawa kita naik ke petak yang lebih tinggi. Ada Ular yang akan membuat kita turun ke petak di bawahnya.

Kita hidup dan sedang bermain dengan banyak papan Ular-Tangga. Ada papan yang bernama sekolah, ada papan yang bernama karir. Suka atau tidak dengan permainan yang sedang dijalaninya, setiap orang harus melangkah atau ia terus saja ada di petak itu. Suka tak suka, setiap orang harus mengocok dan melempar dadunya, dan sebatas itulah ikhtiar manusia: melempar dadu (dan memprediksi hasilnya dengan teori peluang). Hasil akhirnya, berapa jumlah yang keluar, adalah mutlak kuasa Tuhan.

Apakah Ular yang akan kita temui, ataukah tangga, Allah SWT lah yang mengatur dan disitulah Nasib. Kuasa kita hanyalah sebatas melempar dadu. Malangnya, ada juga manusia yang enggan melempar dadu dan menyangka bahwa itulah nasibnya. Bahwa di situlah nasibnya, di petak itu. Mereka yang malang itu, terus saja ada di sana.

Menerima keadaan sebagai nasib, tanpa pernah melempar dadu. Mereka yang takut melempar dadu, takkan pernah beranjak ke mana-mana. Mereka yang enggan melempar dadu, takkan pernah menyelesaikan permainannya.

Setiap kali menemui Ular, lemparkan dadumu kembali.
Optimislah bahwa di antara sekian lemparan, kau akan menemukan tangga. Beda antara orang yang optimis dan pesimis bila keduanya sama-sama gagal, Si Pesimis menemukan kekecewaan dan Sang Optimis mendapatkan harapan.

Namun yang paling penting adalah berpikir positif tidak hanya optimis. Berpikir positif menyebabkan Anda legowo, rendah hati sabar dan ikhlas, tidak menjelekan orang lain, mencari 1001 alasan untuk menjustifikasi perbuatannya ketika ia gagal.
Sikap optimis yang berlebihan mampu memangkas sikap sabar bahkan berujung sombong dan tinggi hati, merasa bahwa usaha dirinya yang unggul, bukan kehendak Tuhan yang menggerakkan dirinya melakukannya.

Sob, berpikir positilah maka hidup Anda terasa lapang menikmati dan menjalani hidup.

Previous Older Entries