Etos Keguruan…


Buku 8 Etos Keguruan karya Jansen Sinamo adalah sebuah karya persembahan spektakuler dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan melalui jantung problematika keguruan dimana etos menjadi telaah yang tepat dan akurat. Buku yang disusun dengan apik, uraiannya unik, analisinya menukik, menjadi asyik membacanya. Persembahan yang tidak hanya berguna bagi guru dalam merefleksikan pengabdiannya selama ini, tetapi juga bagi pemangku kepentingan lain bidang pendidikan agar sama-sama membangun dan mengapresiasi peran strategis sang guru.

Etos 1 Keguruan adalah Rahmat

Menerima jalan hidup sebagai guru harus diterima degan rasa syukur sebagai rahmat yang oleh penulis dijabarkan sebagai rahmat umum dan rahmat khusus. Dalam artian umum jalan rahmat keguruan memberikan kebaikan tanpa batas kepada siapa saja tanpa pilih kasih, tanpa pandang bulu, diminta atau tidak, diharap atau ditolak seperti air hujan yang merahmati kehidupan di Bumi. Tidak ada jalan hidup para pekerja pabrik maupun profesional tanpa jalan rahmat keguruan sebagai proses hidup yang dilaluinya selama masa pendidikan. Di mana pun dan siapapun bersentuhan dengan jejak pena guru secara formal, non formal, maupun informal

Dalam artian khusus, keguruan merupakan rahmat Tuhan yang hanya diberikan pada orang-orang tertentu (tentu saja karena dipercaya Tuhan) dengan bakat dan kemampuan tertentu pula. Tidak semua orang pintar bisa mengajar, tidak semua orang terampil mampu melatih, dan tidak semua orang berbudi mampu mendidik. Seorang guru adalah pribadi pilihan yang diberikan rahmat dengan talenta dan kompetensi keguruan yang khas, seperti kekhasan seorang dokter dan keunikan seorang seniman

Etos 2 Keguruan adalah Amanah

Melaksanakan tugas keguruan merupakan amanah yang dititipkan kepada guru oleh siswa (anak bangsa) untuk masa depannya, oleh orang tua untuk menumbuhkembangkan budi dan nurani; meninggikan intelegensi; dan menerampilkan kecakapan hidup (lifeskill) bagi anaknya, serta amanah Allah menebarkan ajaran kebenaran, kearifan, dan lain-lain sebagai pengejawantahan tugas kekhalifan di muka Bumi. Meski secara umum tugas kekhalifahan berlaku untuk semua orang, tugas guru menjadi lebih dominan perannya.

Amanah keguruan setidaknya dikupas dalam tiga domain, yaitu mendidik agar siswa berbudi, berhati nurani, dan beretika-estetika, mengajar agar siswa berkembang kecerdasannya, ketajaman analisisnya, dan akurat pengambilan keputusannya, dan melatih agar siswa terampil dan ahli melaksnakan tugas vokasinya.

Etos amanah yang melekat pada seorang guru akan terefleksi dalam bentuk tanggungjawab dalam melaksanakan tugas-tugas keguruannya. Sehingga akan menyingkirkan halangan rintangan pencapaian kualitas tinggi hasil belajar seperti perilaku membolos, tidak jujur, subjektif, mengajar seadanya, dan lain-lain.

Etos 3 Keguruan adalah Penggilan

Tugas keguruan adalah panggilan suci, kewajiban luhur, dan perbuatan mulia atau disebut dengan ’darma’. Secara umum panggilan suci ini berlaku dan dibebankan kepada semua manusia, tetapi secara khusus hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menerima frekuensi resonansi panggilan tersebut untuk melaksanakan tugas keguruan yaitu mendidik, mengajar, dan melatih anak bangsa ini.

Dalam uraniannya, penulis menjabarkan pengertian khusus panggilan suci sebagai sebuah vocation, sebagai bentuk pekerjaan khusus yang dianugerahkan Tuhan. Seorang guru yang terpanggil secara khusus melaksanakan tugas-tugas keguruan akan memiliki motivasi kuat dan tangguh dan dihayatinya secara religius. Pada akhirnya juga menjadi senjata ampuh mempertahankan idealisme manakala menemui halangan-rintangan yang kerap menghampirinya.

Etos 4 Keguruan adalah Aktualisasi

Tugas keguruan sebagai aktualisasi untuk melaksanakan proses menjelmakan potensi siswa menjadi wujud nyata keberhasilan menjadi ’orang’ kelak kemudian hari. Potensi unik siswa yang terselubung bagi sebagian orang, oleh guru diaktualisasikan dalam kemampuan-kemampuan secara bertahap tumbuh dan berkembang dengan hasil nyata menjadi manusia berbudi, berwawasan, dan berkeahlian.

Proses aktualisasi memerlukan kerja keras, menerjang halangan, menerobos rintangan, menjungkirkan penghadang. Tidak ada hasil besar tanpa kerja keras. Oleh karena itu perlu visi dan target yang mengilhami kerja keras yang mampu mengalahkan kelelahan, kejenuhan, dan kemalasan.

Etos keguruan sebagai aktualisasi juga berimplementasi pada pengembangan potensi disi seorang guru yang berjalan secara almiah, terasa mudah untuk dilakukan, jauh dari rasa bosan, depresi, dan menghindar dari tanggungjawab.

Etos 5 Keguruan adalah Ibadah

Melaksanakan guru dipandang sebagai bentuk pengabdian kepada sang Maha Pencipta, Pemberi amanah kekhalifahan, dan Pemlihara alam semesta. Etos ini memberikan makna yang tinggi terhadap pelaksanaan tugas keguruan ke dalam sentral hati nurani yang paling dalam. Karena secara kodrati setiap manusia mengagumi keagungan yang nampak jelas (dalam bentuk alam semesta) maupun secara sembunyi dalam hukum-hukum alamnya, maka tugas agung dan mulia keguruan sebagai ibadah memberikan dorongan kuat guru menampilkan kinerja terbaiknya.

Pengejawantahan etos keguruan sebagai ibadah mengurangi motivasi transaksional pekerjaan guru sekedar hubungan upah-pekerjaan. Akan tetapi menjadi sangat luhur dan mulia diatas sekedar rupiah dan material semata.

Etos 6 Keguruan adalah Seni

Keterampilan mengajar seorang guru menjadi sempurna manakala dibingkai kreatifitas dalam strategi dan implementasi ketika mengajar. Tidak selalu pada topik yang sama ditempuh melalui metode dan teknik yang sama. Guru perlu mengkreai kegiatan menjadi lebih menarik, dan ini berkaitan dengan seni kreasi mengajar.

Sesungguhnya pekerjaan apa pun-khususnya mengajar- bila dihayati sebagai seni, bukan saja positif hasilnya, tetapi sekaligus menjadi sumber energi rohani bagi sang pekerja, bagi guru tersebut (hal 154). Dengan seni dan kreatifitas itu pula tugas keguruan menjadi sangat menggairahkan.

Etos seni dalam keguruan mampu mengubah kesulitan menjadi daya tarik, kerumitan menjadi keteraturan, keburukan menjadi keindahan, kekurangan menjadi kelebihan, dan lain-lain. Kemampuan ini membutuhkan daya pengembangan dalam diri seorang guru dengan cara mengambangkan antusiasme melaksakanan tugas keguruan.

Etos 7 Keguruan adalah Kehormatan

Pekerjaan seorang guru adalah pekerjaan terhormat yag membidani semua profesi dan keberhasilan orang-orang besar. Penulis mengupas secara rinci dimensi kehormatan pekerjaan guru secara okupasional, psikologis, sosial, finasial, moral, personal, dan profesional.

Rasa harga diri secara terhormat akan melahirkan kepercayaan diri yang tinggi yang mendukung prestasi unggul dalam mengajar. Dari etos guru seperti inilah dapat diharap lahir pribadi siswa yang berbudi, berhati mulia, tajam analisinya, akurat keputusannya, terampil keahliannya.

Etos 8 Keguruan adalah Pelayanan

Tugas keguruan adalah melayani siswa agar berkembang potensinya secara maksimal, mencapai kecakapan hidup yang diperlukan, menjadi abdi yang berakhlak mulia, menghantar anak menggapai cita-citanya. Seperti termuat dalam UU No 20 tahun 2003 tentang hak peserta didik dalam pendidikan.

Etos pelayanan dalam keguruan (seperti juga dalam pemasaran dan jasa) melahirkan kepuasan pada ana didik dan pemangku kepentingan (stakeholder)-pelanggan. Dalam prosesnya guru berkembang menjadi manusia yang mulia, yaitu bahwa dalam dirinya terbetuk karakter melayani dengan rendah hati menuju kesempurnaan akhlak insani.

(reform dari Sir Jansen Sinamo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s