Berfilsafat Cinta…


Bagi para perindu Ilahi, dihatinya tidak ada kamar untuk benci dan dendam.
Seluruh hatinya telah penuh dengan cinta.
Jiwanya benderang oleh rasa iba memandang setiap musuh-musuhnya.
Bola api kebencian yang menggulung membakar dirinya tidak mampu menghanguskannya karena kekuatan cinta tidak sempat merasakan panasnya kebencian nanahnya fitnah musuh – musuh yang menggilas dirinya.
Cinta telah menaburkan bunga – bungsa melati yang semerbak.
Cinta membuka mata hatiku untuk memberi maaf kepada musuh – musuhku dan memberikan tongkat bagi pengembara yang buta serta memberikan cahaya bagi mereka yang terpuruk dalam kegelapan.

Cinta adalah matahari yang menebarkan cahaya dan memeluknya dalam hangat kehidupan tanpa memilih dan memilah.
Cinta sejati adalah kebahagiaannya untuk membagi dan memberi.
Ketika Engkau mengatasnamakan cinta, tetapi egomu terdengus ingin memilikinya, engkau telah mengkhianatinya.
Bila engkau ingin memiliki bentuk jasad seseorang hanyalah sebuah jual beli yang menjual komoditas nafsu atas nama cinta.
Cinta tidak untuk memiliki, tetapi untuk saling membagi hati.
Dalam cinta, api dan panasnya menyatu menyemburkan pijar – pijar cahaya yang menerangi hati yang luka.
Bagaikan mercusuar yang berdiri tegar dalam kedinginan malam, ia menjadi petunjuk bagi para nahkoda yang tersesat dan berjuang melawan badai yang menghempas.
Atas nama cinta, kebencian dan dendam terkapar, terbakar, terhempas dan terabaikan begitu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s