Pilihan Terakhir Aquill (cerita dari temen… e-mail mock-up)


Aquil, adalah bule Inggris yang hadir pada acara buka bersama di pengajian di Islington London Timur. Ia dibesarkan dalam keluarga Kristen semenjak kecil. Ia juga keluar-masuk gereja di saat dewasa.

Aquil dulunya bekerja di Angkatan Udara Britania atau Royal Air Force.
Salah satu koleganya kala itu adalah Muslim. Ia cukup dekat dan akrab. Mereka sering terlibat banyak diskusi dan perdebatan politik atau kejadian-kejadian terkini. Bahkan terlibat diskusi tentang agama.

Di sinilah saya berkenalan dengan agama Islam, saya tidak tahu dan Belum berfikir kalau agama ini akan memberikan banyak pengaruh besar pada kehidupan saya, ” kenangnya.

Kala itu, ia sedang mengambil diploma kursus councelling di mana diantara peserta adalah dua Muslimah. Salah satu diantara mereka mengenakan jilbab dan satunya lagi tidak.
Saat itu Aquil begitu sinis dan tidak suka melihat perempuan berjilbab.

Aquil dibesarkan dengan tradisi Kristen yang kental.
Sejak kecil ia diwajibkan sekolah mingguan pada hari Minggu (semacam Madrasah untuk Islam) oleh bapak dan ibunya.
Tapi itu hanya berjalan sebentar.
Ia mengaku tidak mendapatkan manfaat apa-apa dan merasa bosan. Sejak itu ia behenti.

Kondisi ini terus berjalan sampai besar.
Di saat sudah bekerja di Angkatan Udara ia merasa tak pernah nyaman datang ke gereja.
Kunjungan saya yang terakhir ke gereja adalah saaat saya ditempatkan di RAF Beson di Oxfordshire.”
Pastur yang kebetulan berkulit putih kala itu, membuat sebuah selorohan (gurau) kepada para jemaah yang kebetulan sudah jelas tidak berkulit putih.
Ia merasa betul-betul menjijikan. Sejak itu saya tidak pernah lagi kesana. Kapok!.

Sampai suatu hari, sang pastur bertanya kepadanya kenapa ia jarang terlihat ke gereja.
Saya pergi ke gereja lainnya“, jawabnya.
Ia berkesimpulan bahwa gereja itu bukan rumah Tuhan yang menghidupkan hati atau ruh dimana dirinya berharap bisa mendapatkan kedamaian dan ketenangan.
Sejak insiden itu, ia malah datang ke gereja hanya untuk upacara perkawinan atau acara penguburan (funeral).

Dari gereja satu ke gereja lain. Itulah pekerjaannya. Ia akhirnya terlibat kelompok Kristen spiritual.
Kunjungan pertamanya ke gereja itu dirasa sangat menakutkan.

Saya ingat merasakan ketakutan yang luar biasa. Bayangkan saya sudah bisa jadi perantara, tukang tenung dan bahkan sudah bisa menyembuhkan orang sakit. Satu hal yang menarik pada kelompok ini adalah anggotanya boleh dari berbagai latar belakang, warna dan bahkan agama. Kira-kira begitu asumsi saya saat itu.

Saya ingat betapa campur aduknya antara lagu-lagu pujian dan doa-doa Tuhan Kristus dan lainnya, bahkan ritual-ritual yang seakan kita berbicara dengan roh… saya bertambah frustrasi dengan acara-acara ritual yang mereka lakukan dibanding dengan gereja yang sebelumnya saya kunjungi.

Akhirnya ia keluar juga atas ketidaknyamanan itu.
Sampailah suatu ketika ia aktif masuk Budha.

“Saya sempat duduk bersama mereka dan melakukan secara keseluruhan kegiatan ritual agama ini. Sangat menarik! Ritual-ritual itu telah menghadirkan getaran-getaran yang indah pada seluruh fisik saya namun hal ini tidak memberikan pengaruh apa-apa. Betul-betul tidak ada apa-apanya. Jujur saja hal itu betul- betul nonsen untuk pribadi saya.”

Bulan Oktober 2000, ketika ia berkerja di London Underground di sanalah Aquil berjumpa dengan Ibrahim, yang kemudian menjadi mentornya. Ibrahim pula yang membimbingnya memulai dalam perjalanan Islam.

“Ah, terkadang saya senyum sendiri. Penuh penyesalan di kala saya mengenang masa lalu. Betapa jahiliyah nya saya dan rasa-rasanya tak ada satupun mahluk yang bisa menghentikan saya untuk menghentikan kebiasaan minum alkohol yang membuat kita sangat tergantung dan kecanduan dengannya,” katanya mengenang masa lalunya sebelum beralih pada Islam.

Padahal saya tahu besoknya saya bakalan hangover (sakit kepala & mual karena minum alkohol berlebihan), tidak bisa bangun, makan dan mengerjakan sesuatu, tapi mengapa tidak pernah kapok dan saya lakukan kembali. Entahlah.. ternyata Allah SWT bisa menghentikan semua ini. Dengan pelan pelan saya menghentikan kebiasan minum alkohol. Dimulai dengan mengurangi jumlah yang saya minum. Misalnya dari empat 4 pints (kurang dari ½ lt/1 gelas besar) saya kurangi menjadi 2 pints semalamnya dan akhirnya saya berhenti secara total.

“Sebuah perubahan besar terjadi pada diri saya. Luar baisa memang dan saya merasakan perbedaannya. Saya sekarang jauh lebih fit baik secara fisik dan mental. Soal babi dan bacon, kebetulan saya sendiri dari dulunya tidak pernah suka dengan makanan jenis ini. Saya merasa mual setelah memakan makanan ini. Kalau saja saya tahu akan kebenaran pada waktu itu, maka tangan Allah-lah yang telah menunjukan jalan yang sangat penuh misteri untuk saya.Tapi tak pernah ia temukan kebahagiaan. Kini ia berlabuh pada pelukan Islam.”

Bulan Suci Ramadhan adalah sesuatu yang ingin saya alami sebelum saya memutuskan memeluk agama Islam” ujarnya.

“Saya melakukan shaum dua kali sebelum saya mengikarkan syahadat pada tanggal 2 Juli 2003. Jadi saya sudah melakukan shaum dan saya merasakan dan tahu seperti apa indahnya berpuasa,” tambahnya.

“Saya telah mendapatkan banyak pelajaran dari bulan ini. Ramadhan telah banyak memberi barakah berupa kabahagiaan yang sukar digambarkan,” tambahnya.

“Bagaimana kamu bisa melakukan puasa sedang kamu engga biasa melakukannya?

Bila seseorang ingin mengerjakan sesuatu dengan keyakinan dan penuh semangat, maka apapun bisa terjadi. Saya sangat menanti bulan suci ramadhan. If one wants to do something with conviction and true spirit, then anything is possible and I look forward to the Holy month each year,” jawabnya.

“Tapi memang repot dan berat ya sis, di saat kita memutuskan untuk pindah agama.
Saya betul betul dihantui oleh perasaan takut. Takut kehilangan keluarga dan saudara, teman dekat.
Apa yang bakal terjadi kalau saya pindah agama, apa kata teman-temanku..?
Hal ini terus menggelayut dikepala saya, sis. Ada rasa bingung dan ragu.
Tapi lantas saya menyadari…kenapa kita sibuk dan repot memikirkan apa kata orang ?
Seakan kita cuma mau menyenangkan dan mencari ridho manusia, kalau begitu saya belum yakin.
Ah, saya kira itu wajar karena kehidupan kita berada dilingkungan manusia.”

“Saya memang kehilangan teman dan sahabat setelah saya nyatakan bahwa saya masuk Islam.
Saya sempat bersedih, namun tidak lama. Ada pepatah mengatakan “Yang pergi dan datang silih berganti”.
Teman dan sahabatku memang pergi meninggalkan saya. Namun Allah maha Adil dan Pengasih yang pergi tergantikan oleh yang terbaik. Ini terbuktikan. Ternyata teman dan sahabat Muslim saya jauh lebih baik. Persahabatan dan kebaikan mereka murni karena Allah, bukan karena kepentingan lainnya,
” ujarnya.

“Saya bersyukur ke khadirat Allah SWT .. kini saya telah resmi memeluk agama Islam setelah melewati jalan yang cukup berliku dan cukup lama.. begitulah Allah SWT telah menakdirkan saya,” ujar Aquil menyampaikan rasa syukurnya.

Dengan kebesaran Allah pula, ia kini diberi seorang istri, seorang muallaf, Lin, yang sebelumnya penganut Hindu.

“Kami berdua sama-sama baru dalam menjalankan agama Islam dan sama-sama diselimut oleh semangat yang menggelora serta gairah yang cukup tinggi dalam menjalani Islam sepenuhnya“.

“Lewat pengajian yang sangat saya cintai dari teman-teman Melayu baik yang Singapura, Malaysia dan Indonesia, terasa sekali ukhuwah yang mendalam, rasa kebersamaan dan persaudaraan (brotherhood) yang ikhlas yang tidak pernah saya dapatkan, kini bisa saya dapatkan di sini. Semua ini saya dapatkan hanya dalam Islam ini. Allah Maha Besar!

“Saya tak henti menyampaikan rasa syukur ke khadirat Ilahi yang telah menuntun dan memberikan jalan yang akhirnya saya temukan yakni Islam. Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa-dosa saya dimasa lalu. Entahlah, nikmat mana lagi yang hendak kami ingkari?

Aquil mengatakan bahwa baginya Islam telah membuatnya bisa memaknai dan arti hidup yang sesungguhnya.
KeIslaman saya bertambah meningkat dan telah banyak memberi manfaat buat diri saya baik secara fisik dan mental” tambahnya begitu yakin.

Hingga hari ini Aquil masih meyembunyikan nama aslinya. Pria yang bekerja di perusahaan kereta bawah tanah atau London Underground.

Percakapan kami terputus karena teman-teman pengajian mulai berdatangan dan pengajia npun dimulai.
Mereka semua duduk bersimpuh, di ruang yang begitu sempit. Duduk berdesakan. Kadang antar kaki beradu, saat mereka ingin meregangkan kaki mereka. Maklum mereka belum terbiasa duduk berlama-lama dilantai.
Aquil berjanji untuk melanjutkan cerita dan perjalanannya menuju Islam. Subhanallah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s