Jiwa pemaaf…



Amalan manusia itu tergantung pada niatnya. Idealnya, niat seorang Muslim dalam melaksanakan segala sesuatu didasari dengan niat ikhlas karena Allah SWT dan tentu saja amalan yang akan dikerjakan merupakan amal saleh dalam arti amalan yang diridhai oleh Allah Azza wa Jalla.

Sementara itu, memelihara hati untuk selalu bening dan tidak terkotori penyakit – penyakit perlu dilakukan setiap saat, karena setan selalu mencari peluang – peluang yang pas untuk merasuki hati kita dan mengotorinya lewat godaan – godaan yang menjerusmukan.

Saat hati kita jauh dari Allah SWT, bibir kita kering karena tidak banyak berzikir, dan pikiran kita tak terfokus untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat, maka saat itu kita cenderung akan melakukan sesuatu yang menyimpang. Dengan kondisi semacam itu setan pun tentu tidak tinggal diam, dia akan tepuk tangan dan merasa menang ketika kita mengikuti hawa nafsu.

Ada satu formula yang Allah SWT berikan pada hamba-Nya dikala hamba-Nya mengalami kondisi seperti saat ia dijahati oleh orang lain. “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan, tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba – tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah – olah telah menjadi teman yang setia.” (QS. Al Fushilat, 41 – 34).

Demikian Allah SWT memberikan petunjuk kepada kita untuk menyikapi semua kejahatan dengan sikap terbaik yang kita miliki. Bersamaan dengan itu, teruslah memohon perlindungan kepada Allah SWT agar hati terbebas dari bisikan – bisikan setan.

Siapa pun yang menyakiti hati kita, menzalimi kita, atau berbuat jahat pada diri kita, anggap itu sebagai episode ujian Allah SWT pada diri kita. Untuk naik ke tingkat selanjutnya dibutuhkan ujian yang serius agar kita diketahui lulus tidaknya kita mengarungi hidup ini. Seperti halnya sewaktu sekolah, kita wajib mengikuti tes dengan mengisi soal – soal yang dibuat oleh guru kita dengan tujuan untuk mengetahui sejauhmana kemajuan kita dalam belajar.

Teladan kita Rasulullah SAW seringkali mendapat caci maki, cemoohan, bahkan aniaya yang sifatnya fisik. Tapi apa yang beliau lakukan malah kebalikannya. Beliau tidak membalas mereka dengan kekerasan. Tidak ada dalam hatinya rasa dendam dan benci karena beliau lapang dada dan pemaaf. Tidak ada istilah rugi dalam menghamburkan rasa maaf. Ampunan Allah SWT bagi hambaNya terhampar luas jika hamba-Nya memohon ampunan padaNya. Kenapa kita harus pelit memberikan maaf pada orang lain yang nota bene sebenarnya adalah saudara kita sendiri?

Di saat penghujung Ramadahan ini, saatnya kita menyadari bahwa kejahatan atau keburukan hendaknya kita balas dengan kebaikan. Tak ada gunanya saling dendam kemudian balas membalas satu sama lain. Karena pada dasarnya api kedendaman itu memendam keburukan didalamnya. Sekarang saatnya di bulan yang penuh maghfirah dari – Nya kita saling memaafkan. Sekaranglah saatnya bagi kita untuk mulai menumbuhkan jiwa pemaaf.
Wallahu alam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s