Ketika Hati Bicara…



Banyak orang bersusah payah mengarungi lautan, menuruni lembah dan melewati jurang sekadar ingin melihat-lihat peninggalan para leluhurnya. Mengapa mereka tidak bersusah payah untuk mengekang jiwanya dan mengendalikan hawa nafsunya agar bisa sampai ke dalam hatinya. Karena di dalam hati yang bersih, dia akan menemukan peninggalan Rabb-nya.
—Muhammad bin Fadl Al-Balhi—

Kapten John Plummer, namanya. Dia pilot pesawat tempur Amerika saat berkecamuknya perang Vietnam.
Suatu hari, pada 1972, dia ditugaskan menghancurkan basis – basis pertahanan musuh di Trang Bang—sekitar 40 km dari Saigon.
Saat itu, muncul ketakutan dalam hati John Plummer, dia takut kalau bom yang akan dijatuhkannya mengenai orang-orang sipil tak berdosa. Dia sangat paham bahwa bom tersebut sangat berbahaya, tidak hanya hulu ledaknya, tapi efek kimiawi yang ditimbulkan setelahnya. Namun atasannya meyakinkan, bahwa mereka semua telah mengungsi. Skenario penyerangan pun dijalankan. Puluhan bom dijatuhkan Plummer dari pesawatnya, meluluhlantakkan fasilitas – fasilitas di Trang Bang.

Tiga hari kemudian, Plummer membaca koran militer di messnya.
Betapa terkejutnya dia saat melihat foto seorang anak perempuan tanpa pakaian berlari ketakutan. Kepulan asap pekat nan tebal menggulung di belakangnya. Anak itu tampak berlari dengan mimik menangis ketakutan. Plummer menatap foto itu dengan perasaan hancur. Dia teringat anaknya, Louis, yang usianya diperkirakan tidak jauh dengannya. Dalam keadaan terpukul, dia menunjukkan koran itu kepada seorang petugas intelijen yang duduk di dekatnya. “Saya yang melakukannya!”.

Kisah pun berlanjut, Kim Phuc, anak dalam foto tersebut, akhirnya selamat setelah empat belas bulan menjalani operasi cangkok kulit tujuh belas kali. Sayangnya, operasi tersebut tidak bisa mengeluarkan keringatnya. Sehingga bila suhu panas, Kim akan merasakan sakit, bagaikan diiris-iris ratusan pisau. Bagaimana dengan John Plummer? Setelah peristiwa itu, dia menderita stres berat dan hidupnya menjadi kacau. Minuman keras pun menjadi pelarian, sekadar untuk menghilangkan rasa bersalahnya. Akibatnya sudah bisa ditebak, kehidupan rumah tangga Plummer berantakan hingga berakhir dengan perceraian pada 1979.

Puluhan tahun setelah peristiwa itu, Kim Phuc—yang telah berusia 33 tahun—diundang menghadiri acara Vietnam Veterans Memorials yang juga dihadiri John Plummer. Walaupun hampir gagal bertemu, Plummer berhasil mendapati Kim. Terlontarlah kata-kata penyesalan dari mantan pilot ini, “Maafkan saya Nona Kim, dahulu saya tidak bermaksud menyakiti Anda!” Saat terus berusaha menjelaskan, dengan terbata-bata, Kim Phuc berkata, “Tidak mengapa Tuan. Saya maafkan … saya maafkan!”
Setelah mendengar langsung kata-kata maaf dari Kim, John Plummer seakan menemukan makna hidupnya kembali.
Dia benar-benar merasa tenang. Rasa bersalah yang puluhan tahun menghantuinya bisa disembuhkan.
Dalam pertemuan yang amat mengharukan tersebut, keduanya berusaha saling menghibur untuk melupakan cerita buruk peperangan.

Sahabat…
Hati adalah anugerah tak ternilai dari Allah SWT untuk manusia.
Dengan hati, manusia bisa merasa, berempati, dan menjalin hubungan harmonis dengan sesama.
Dalam hati pun bersemayam ruh Ilahi yang mewujud dalam fitrah-fitrah kesucian serta suara hati.
Suara-suara inilah yang termanifestasi seutuhnya dalam Asma’ul Husna, yang membuat manusia mampu mengenal Tuhannya. Saat dia hendak melakukan dosa, ada suara hati yang melarangnya.
Saat dia bersalah, suara hati pula yang menuntutnya menyesal dan ingin meminta maaf.
Inilah yang dialami John Plummer. Sebagai pilot pesawat tempur, dia harus taat pada perintah komandan.
Dia dituntut untuk berjuang menegakkan bendera negaranya, tapi suara hatinya tidak bisa dibohongi.
Ada penyesalan yang sangat dalam, karena telah menghancurkan masa depan ribuan orang Vietnam, termasuk Kim Phuc.
Puluhan tahun dia tersiksa karena melawan suara hati atau fitrahnya.
Benar bila dikatakan bahwa penyesalan menandai kembalinya seseorang kepada Dzat Penerima Tobat.
Sungguh, hidup akan terasa indah andaikan manusia mau menyelaraskan hidupnya dengan suara-suara dari relung hatinya.
Cerita sedih perang Vietnam seakan sirna ketika mendengar kata – kata maaf dari Kim Puch untuk John Plummer.
Memaafkan adalah cerminan suara hati, cerminan fitrah, cerminan Asma’ Allah Al Afwu’, Allah Yang Maha Pemaaf.
Sejatinya, kisah ini hanya menyentuh sedikit saja dari fitrah kebaikan manusia.
Masih banyak potensi terpendam dalam diri yang belum tergali.
Karena itulah, Muhammad bin Fadl Al-Balhi berujar, “Banyak orang bersusah payah mengarungi lautan, menuruni lembah dan melewati jurang sekadar ingin melihat-lihat peninggalan para leluhurnya. Mengapa mereka tidak bersusah payah untuk mengekang jiwanya dan mengendalikan hawa nafsunya agar bisa sampai ke dalam hatinya, karena di dalam hati yang bersih, dia akan menemukan peninggalan Rabb-nya.

Wallahu Alam bishawab..

8 Comments (+add yours?)

  1. noblegrey
    Sep 05, 2010 @ 14:27:22

    Tulisan yang sangat menyentuh Pak. Mohon izin untuk link blog Bapak di blog saya.

    salam kenal dan terima kasih

    Reply

  2. muvtizarsolichin
    Sep 05, 2010 @ 14:38:45

    Keren pak.. salam kenal ya pak..mampir jg ya k blog sy..

    Reply

  3. z4nx
    Sep 05, 2010 @ 18:46:47

    Jagalah hati
    lentera hidup ini
    wilujeng boboran siam

    Reply

  4. riska leni tyas
    Mar 29, 2011 @ 12:30:58

    Allahu..Allah…DIA yang membolak-balikkan hati manusia ;P

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s