Insya Allah…


Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi. Kecuali (dengan menyebut) ‘Insya Allah’. (QS Al-Kahfi [18]: 23)

Kepada Rasulullah saw. datanglah beberapa orang Quraisy.
Mereka bertanya tentang hakikatruh, kisah Ashabul Kahfi dan kisah Dzulkarnain.
Ketika itu beliau tidak mengetahui secara pasti apa jawabannya. Rasul pun menawarkan solusi, “Datanglah kalian besok pagi kepadaku agar aku ceritakan”.
Beliau berani memberikan tenggang waktu satu hari, karena yakin Allah Swt. akan menurunkan wahyu sebagai jawabannya. Namun apa yang terjadi? Hingga hari ke-15 wahyu belum juga turun.
Selama masa penantian, beliau merasakan beban yang sangat berat, apalagi kaum kafir Quraisy mulai menghembuskan tuduhan bahwa Rasul itu pembohong.
Tibalah saat yang dinantikan, Malaikat Jibril datang membawa wahyu.
Anehnya, wahyu yang turun bukan berupa jawaban, melainkan teguran.
Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu,

“Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi. Kecuali (dengan menyebut) ‘Insya Allah’. Dan ingatlah kepada Tuhan-mu jika kamu lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhan-ku akan Memberiku Petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada itu” (QS Al-Kahfi [18]: 23-24).

Ayat ini mengingatkan kita untuk menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt. Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa
depan, apakah baik atau buruk.
Dalam ungkapan insya Allah atau “jika Allah Menghendaki” terkandung semacam tekad untuk memenuhi janji yang telah diucapkan.

Ada dua tipe insya Allah dalam Al-Quran, yaitu insya Allah-nya Nabi Musa dan insya Allah-nya Nabi Ismail.
Insya Allah-nya Nabi Musa terungkap ketika beliau bersama Nabi Khidhir.
Nabi Musa beberapa kali mengucapkan insya Allah, tapi beberapa kali pula dia tidak dapat memenuhinya.
Walau kemudian Musa mampu menemukan hakikat kebenaran.
Sedangkan insya Allah-nya Nabi Ismail terungkap ketika hendak disembelih ayahnya. “Insya Allah, engkau akan mendapatkan aku sebagai orang yang sabar”.
Dengan pertolongan Allah, Ismail mampu membuktikannya.
Maka, ketika kita mengungkapkan insya Allah untuk sebuah janji, probabilitas ditepatinya janji tersebut bukan lagi 40 atau 50 persen, tapi 99 bahkan seratus persen. Insya Allah adalah tanda ketawakalan, sebuah doa agar Allah Swt. memberkahi apa yang kita niatkan.
Tentunya bukan sebuah alasan yang dibuat untuk mengingkari janji.
Wallahu alam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s