Bulan Kebahagiaan…


Allah SWT akan senantiasa menguji kita semua.
Ujian ini berlaku untuk siapapun tanpa terkecuali.
Orang kafir, ahli maksiat, ahli ibadah, hingga para Nabi dan Rasul pun akan menjalani beberapa ujian dalam hidupnya.
Bahkan dikatakan bahwa semakin mulia seseorang maka ujiannya pun akan semakin berat sebagai proses kesuksesan menjadi hamba yang dicintai Allah SWT.

Ujian itu seperti test yang harus dihadapi anak-anak sekolah sebelum naik ke kelas yang lebih tinggi.
Orang kafir diberi ujian agar dirinya menjadi muslim.
Orang muslim ahli maksiat diberi ujian agar menjadi muslim yang taat.
Orang yang taat diuji agar dirinya menjadi istiqamah.
Orang istiqamah terus diuji agar bersih dari dosa, demikian seterusnya.

Ujian ini terus berlangsung hingga orang meningkat derajatnya menjadi lebih baik.
Yang penting dalam hidup ini adalah sikap jujur dan konsisten.
Sikap ini sangat dibutuhkan agar kita bisa istiqamah berpegang pada prinsip yang kita ikuti untuk meraih kebenaran dan ketentraman hati.

Kita terlahir dalam keadaan fitrah. Rasulullah saw bersabda,
Tiap tiap yang dilahirkan (bayi) terlahir dalam keadaan fitrah (Islam). Maka kedua orang tauanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau majusi.” (al – Hadits).

Jika seorang bayi lahir di tengah sebuah keluarga muslim, cukup hal itu menjadi bukti bahwa dirinya adalah muslim sejak lahir. Kecuali jika bayi fitrah itu lahir di tengah keluarga non muslim, dibutuhkan kesaksian ketika di kemudian hari dia kembali kepada Islam (kembali kepada fitrahnya).

Berbicara masalah fitrah, dikatakan bahwa kita akan kembali pada fitrah setelah menjalani Ramadhan.
Maka fitrah di sini tentu saja berbeda dengan di atas. Allah SWT menjanjikan jamuan Ramadhan yang sungguh luar biasa.
Kasih sayang dan ampunan Allah SWT pada bulan ini sungguh terhampar luas bagi hamba – hamba yang menginginkannya. Siapapun berhak atas kasih sayang dan ampunan – Nya. Tapi bukan berarti keduanya dapat diperoleh dengan gratis tanpa usaha apa pun dari kita.

Shaum kita bukan hanya menahan rasa lapar dan hasu belaka, tapi juga menahan nafsu kita dari perbuatan munkar.
Mungkin saja kita berhasil menyelesaikan shaum selama satu hari, dimulai sejak adzan subuh hingga adzan maghrib dikumandangkan. Tapi, pernahkah kita berpikir akan kualitas shaum kita tersebut?

Bulan Ramadhan adalah bulan kebahagiaan bagi semua orang.
Andaikan rutinitas bulan Ramadhan diberlakukan sebagai aktivitas kebaikan di bulan – bulan berikutnya, alangkah indahnya hidup ini, karena aksi kemunkaran sangat mungkin bisa distop.

Pada bulan Ramadhan, semua orang berlomba untuk berada di shaf utama pada setiap shalat jama’ah.
Pada bulan ini pula kita berlomba untuk menjaga hati kita dari penyakit – penyakit dengki, iri, marah, buruk sangka, dan lain sebagainya.
Kita juga berlomba untuk menjaga pandangan, ucapan, dan pendengaran dan berlomba meningkatkan intensitas ibadah kita menjadi semakin berkualitas.

Kita berlomba untuk bersedekah dan melakukan kebaikan – kebaikan lainnya.
Dan yang paling utama adalah berlomba untuk mengolah hati agar menjadi hamba yang senantiasa ikhlas.
Kasih sayang dan ampunan Allah SWT tidaklah terbatas, maka kewajiban kita adalah terus berusaha untuk mendapatkan keduanya, bukan saja pada bulan Ramadhan, tapi setiap detik dari hidup kita harus digunakan untuk mendapatkan keduanya. Itulah sebabnya mengapa banyak orang mengatakan bahwa kita akan kembali fitrah (suci) setelah menjalani Ramadhan karena kasih sayang dan ampunanNya. Wallahu alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s