Kapak…



Kisah ada seorang penebang pohon yang sangat kuat.
Dia melamar pekerjaan pada seorang pedagang kayu, dan dia mendapatkannya.
Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat baik.
Karenanya sang penebang pohon memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin.
Sang majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerjanya.
Hari pertama sang penebang pohon berhasil merobohkan 18 batang pohon.
Sang majikan sangat terkesan dan berkata, “Bagus, bekerjalah seperti itu!“.
Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari sang penebang pohon bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya
berhasil merobohkan 15 batang pohon.
Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon.
Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedikit. “Aku mungkin telah kehilangan kekuatanku“, pikir penebang pohon itu.
Dia menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi.
Kapan saat terakhir kau mengasah kapak?” sang majikan bertanya.
Mengasah? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak. Saya sangat sibuk mengapak pohon,” kata penebang pohon.

    Begitulah, selama ini kita terlalu fokus dengan pekerjaan dengan banyaknya pengalaman, namun hal tersebut ternyata membuat kita terlena dengan kemapanan ilmu, keberpengalaman, dan keahlian serta keilmuan kita, padahal semakin lama, perkembangan ilmu dan pengetahuan terus berkembang seiring perkembangan masalahnya.Ilmu yang dulu kita aplikasikan belum tentu mampu menyelesaikan masalah yang ada saat ini, pengalaman yang kita alami dahulu tidak dengan serta merta menyelesaikan masalah serta problematika yang ada, apa lagi disertai dengan sikap sombong merasa diri berilmu pengetahuan banyak, menikmati asam – garamnya pengalaman, mungkin akan lebih banyak bertahan ketimbang openminded, lebih banyak menyalahkan keadaan, ketimbang instrospeksi diri, lebih banyak berpikir dengan emosi ketimbang evaluasi diri, dsb.

    Oleh karenanya jangan lupa untuk mengasah kapak – meng-upgrade, reaktualisasi diri ilmu pengetahuan, kognitif, apektif dan psikomotor sehingga semakin bertambah masalah, semakin matang dan semakin siap menghadapinya karena kita telah menyiapkan diri dengan perubahan yang ada.

    Sahabat, mari eveluasi diri jangan – jangan kita lebih banyak fokus bekerja, fokus mencari kehidupan dunia, namun disisi lain kita lupa mengaktualisasikan diri mengisi, amunisi keilmuan, sehingga lebih banyak berbicara dengan emosi bukan dengan hati dan pikiran.

1 Comment (+add yours?)

  1. lestari kathartika
    Jul 26, 2010 @ 16:32:41

    tak berhenti belajar,,,,agar tidak seperti penebang pohon itu,,,,semakin semangat utk trus mengupgrade diri,,,sae tulisanna,,,haturnuhun pisan….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s