Jika Hati Mati…


Jika hati manusia telah buta atau telah mati,
Perasaannya yang positif sudah tiada lagi,

    Kasih sayangnya hilang begitu saja, rasa simpati dan empatinya gersang – hampa,
    Saling berbagi rasa dengan sesama lenyap sama sekali, tak ubahnya angin lalu, lewat dalam pandangan,

Belas kasihnya tercabut sama sekali dari jiwanya,
Saling memaafkan tidak lagi berlaku,

    Saat itu hatinya kejam, jiwanya keras, penuh tipu muslihat, hatinya penuh dengan noktah hitam,
    Berubah warna, dari sebening embun, ternodai dengan noktah, sehingga hitam warnanya.

Jika dia menzalimi atau menganiaya manusia, terhibur hatinya, bahagia dirasa,
Jika dia disinggung, dalam hatinya menyiapkan serangan balik sebagai dendam kesumat 1001 alasan,

    Kalau saja orang lain mendapat kesusahan, gembira hatinya dan berbunga – bunga,
    Puas hatinya melihat orang di dalam penderitaan,

Jadi pemarah, emosional, apatis, egois, skeptis, pesimis, melankolis, dan anarkis,
Jika saja ada orang yang mengganggunya, ia berlaku tidak sabar, bahkan dalam hatinya menyiapkan tindakan balas dendam,

    Adapun pelimpahan pangkat, kekayaan, sombongnya tiada tertahankan,
    Jika mendapat kesusahan atau ujian, mengaduh, sumpah serapah, sungguh derita jiwanya, tak terelakan.

Jiwanya senantiasa keluh kesah, resah dan gelisah, mengaduh, menyesali diri, mengiba, menyebarkan virus pesimis,
Marah – marah pun tiba hingga sikap tidak normal dan irasional,

    Pantang diberi peringatan dan nasihat, dia sudah membentengi hatinya, menutup hatinya, seolah berperang dengan peringatan, nasihat kebenaran,
    Sungguhpun ada nasihat sampai kepadanya, tangannya terbuka dengan tersinggung dan sakit hati,

Sampai saatnya ia beribadah, seolah menunjukan tawadhu, kedermawanan, murah hati, padahal hanya sanjungan, dan pengakuan dari makhluk yang ia cari, setitik kesombongan, bukan hakikat kewajiban kepada Yang Maha Esa,

    Begitulah jika keadaan manusia sudah buta hatinya, sudah membentengi hatinya dari kebenaran, membentengi dirinya dengan kesombongan, mengikuti hawa nafsunya pada lingkaran syetan dan membawa dirinya pada keadaan semu, dalam keadaan sesat,

Oleh karena itu jangan biarkan hati buta atau mati,
Bentengi diri dengan dzikir dan tatadiri dengan menempatkan sifat Allah SWT ke dalamnya..
Semoga Allahu Rabbi Yang Maha Membolak Balikan hati, membalikan hati kita pada kebeningan hati dan sarat dengan hidayah dan inayah – Nya. Aamiin

Memandang jauh, melihat sifat diri, di penghujung malam…

2 Comments (+add yours?)

  1. Akhi Fajar
    Jul 10, 2010 @ 13:18:12

    Assalam, Mas ane copas ya mas…. thanks udah mau berbagi

    Reply

  2. larass
    Nov 02, 2010 @ 17:18:25

    thanks untuk image dan tulisan ini. Salam…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s