Kontemplasi di sisi malam…


Terlena aku melihat kemesraan, mereka berpasang-pasangan, nampak ceria tanpa kehampaan, saling mengisi, menyempurnakan, dalam pandangan, cemburu aku melihatnya,
Bertanya aku pada diri sendiri, mengapa kutersisih dirundung mimpi sendu, pilu,
Meratapi setiap langkah sedari pagi hingga malam, dalam pandangan, pendengaran dan penglihatan,

    Haruskah aku membandingkan, nasib diri dan tuah orang?
    Haruskah aku tulis kembali setiap cerita dan keindahan yang terpaku mengingat, memberikan semangat?
    Haruskah aku melupakan, segala kurnia, kenikmatan?

Entah mengapa pandangaku ini, halaman orang nampak berseri, halaman sendiri berwarna warni,
Entah mengapa sering terlupa Rahmat yang tiba berbeda-beda, untuk semua kurnia-Nya tak terhinggga
Ternyata diri ini terlalu asyik memandang bintang merenung bulan tinggi di awan, bumi dipijak rumput yang hijau kulupakan

    Kesalahan diri acapkali dilupakan begitu saja, kesalahan orang lain disibak bagai tirai
    Seolah melihat semut di ujung gunung tampak secara jelas, namun gunung didepan mata buram tak ada makna

Meratapi setiap nasib diri, menyesal tak berkesudahan,
Dalam dunia melihat ke atas langit tak henti, nikmat dan karunia – Nya jarang sekali disyukuri
Silau dengan harta, tahta, jabatan, ilmu, dan pujian, terbuai dengan kenikmatan sementara,
Padahal makna diri adalah pencitraan pada pemahan diri untuk menemukan siapa Sang Pencipta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s