Kekalahanmu – Kemenangamu


Mengapa kalian meratapi kekalahan. Mencabik dada menjambak rambut, mengoyak pakaian, melolong – lolong mengaduh?

Mengapa kekalahan dari musuh – musuhmu. Padahal engkau tak pernah menyesal dan meratapi kekalahan yang berulang kali diharu biru oleh deru nafsu dirimu sendiri?

Tahukah kalian, lolongan anjing di malam hari bukan lengking ketakutan tapi pernyataan jiwanya yang merdeka, mengukuhkan otoritas dirinya yang kokoh.
Sedangkan lolongan kalian adalah jeritan kelemahan rasa putus asa yang nelangsa.

Keluhan yang mengaduh adalah bentuk sukma kalian yang paling rapuh.

Kekalahanmu bukan karena musuh – musuhmu yang berebut benteng – benteng negara dan membungkam harapanmu.
Kelalaian dan kesombonganmu telah mengalahkan dirimu sendiri.

Begitu badai menerpa, engkau pun tersungkur. Ambruk terpuruk tanpa mau bediri merebut tampuk.

Kebodohanmu bukan karena tak mampu menghitung kelemahan musuhmu, tetapi jiwamu yang telah beku sehingga tak mampu menghitung kelemahanmu. Bukan pula tak mampu menaksir kelebihan musuh, namun terlalu bangga dengan kelebihanmu yang sedikit.

Saat musuhmu berderap mengepung daerah kekuasaanmu kalian masih bertengkar saling menghujat dan saling bersikukuh dengan impian – impianmu yang tidak membumi, angan – angan belaka.

Ketika musuhmu melepaskan peluru serangan menggempur setiap sisi pertahanan, kalian masih saling mendendam tiada berkesudahan. Memperebutkan bendera mana yang paling pantas menjulang – bagian mana yang pantas untuk ditempati – harta yang mana yang seharusnya dibagi.

Ketika musuhmu menduduki seluruh kehidupanmu, kalian tetap asyik saling menyalahkan.
Sungguh jiwa kalian masih rendah bahkan rendahan.

Cita – citamu hanya mengejar tepukan, pujian, sanjungan, penghargaan, bukan kemenangan hakiki.

Bahkan, ketika musuh memaksamu membuka jubah dan pakaian perangmu kalian hanya asyik membuka kamus dan menghafal doa. Merangkaikan jutaan bait kalimat yang asing untuk kalian pahami. Padahal doa yang diucapkan adalah perbendaharaan langit yang telah kalian lecehkan, sekadar mantera hilang makna, kosong tanpa ruh dan nilai – nilai ruhiyah.

Namun tiada kata terlambat, Sob.

Berdirilah diatas cakrawala menyambut sang surya yang akan menyembulkan kepalanya.

Sambutlah dengan tarian dan genderang yang menyulut semangat juang.

Gubah doa – doamu menjadi cahaya yang mengalirkan listrik menggetarkan saraf – saraf jantung dan setiap denyutanya adalah kerinduanmu yang paling gila untuk mengubah perpecahan menjadi persatuan kokoh.

Robek, bakar dan campakkan. Lumat dan haramkan segala jubah yang menyelimuti ego – kesombongan – keangkuhan – merajai – menepuk dada yang membatu. Maka, cairkan dan alirkan menjadi sungai – sungai, mengalir memenuhi ngarai kehidupan dan menyatu dalam gelobang lautan, menjadi hati yang lulu ole perasaan tawadhu, ikhlas, dan sadar diri sebagai hamba tak berdaya, karena hanya Yang Maha Kuasa – Yang Maha Memberi Daya Upaya.

Kalian membutuhkan samudera persaudaraan. Bila kau robek dan putuskan kain ikatan kemudian dihinakan, sesungguhnya engkau lebih pantas menjadi budak – budak kehidupan. Merangkak dan menjilat ujung sepatu musuh – musuhmu.

Kebebasan, keceriaan, dan keindahan adalah pakaian putra – putri kehidupan. Reguklah sari buah dari kitab dan doa – doa kalian dengan pengertian dan jihad.

Hanguskan segala iba dan takut yang menggeletar di sekujur jiwamu. Buang dan sampahkan gambaran peti – peti mati dan batu nisan. Karena engkau adalah putra – putri kehidupan fana.
Maka, akiratkan hidupmu dan hidupkan akhiratmu. Buanglah segala impian dan khayalan yang menyelimuti kemalasan dan kecemasan.

Ubah dirimu menjadi nahkoda kapal yang mengarugi badai menerjang ombak menatap ufuk harapan di tambatan.

Keberanian adalah burung – burung rajawali yang gagah menjulang ke langit mengawasi padang – padang amparan tanpa rasa takut.

Semangatmu adalah gelora samudra tak kenal henti.
Jiwamu adalah singa yang merindukan perburuan.

Jadilah dirimu sebagai pemenang seutuhnya, dari musuh sejatimu – syetan yang tidak kenal menyerah memabukan – merayu – membelenggu hatimu.
Allahu Akbar.

Posted with WordPress for BlackBerry. Powered by Telkomsel.

1 Comment (+add yours?)

  1. astrid
    Jul 05, 2010 @ 18:03:18

    wow… luar biasa !
    semangat mu yg makin membara..
    aku jadi ikut terbakar dalam kata yg kamu untai
    indah, penuh gebrakan dan
    berkesan.
    Salam Cahaya!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s