Kalah – menang…


Kalah – menang itu biasa, namun keduanya tidak akan memiliki makna yang mendalam – jadi pembelajaran penuh makna jika masing – masing tidak openminded a.k.a membuka pikiran dan hatinya sehingga hikmah tercurah dalam hatinya.

Bagi Anda pemenang adalah sebuah ujian bagi Anda sehingga Anda tetap rendah hati, bersyukur tiada habisnya karena Yang Maha Kuasa memberikan ujian kemenangan. Jangan sombong dan terlalu berbangga diri sehingga menghina dan memandang sebelah mata tim yang kalah, sebab ini hanya sementara, justru kesombongan Anda berarti kekalahan bagi jati diri Anda.

Kemenangan sejati justru menumbuhkan tawadhu – rendah hati dan terus mengevaluasi diri, sebagai jalan terbaik bagi diri untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memberikan nilai tambah kepada diri untuk makin dewasa tidak larut dalam pesta pora dan kemenangan yang sementara.

Bagi Anda yang kalah, bukan berarti Anda selesai berjuang, justru saat ini Anda sedang diuji dengan kekalahan – kesempitan, ini adalah jalan terbaik untuk mengevaluasi diri, apakah diri kita merasa sangat hebat sehingga melecehkan lawan? Apakah diri sudah berasa berpengalaman sehingga menganggap remeh lawan? Apakah memang strategi kita yang kurang tepat? Apakah hati kita diliputi lebih banyak kesombongan dibandingkan dengan takarub kepada Allah SWT? Yang jelas Anda saat ini diberikan keleluasaan oleh Allah SWT untuk membuka diri dan mengakui kelebihan dan keunggulan orang lain.
Jangan suudzan atau patah semangat apalagi demotivasi bahkan pesimis, saat ini adalah waktu yang tepat bagi Anda untuk lebih berbenah diri, aktualisasi diri kepada Allah SWT, dan mendekatkan diri secara lahir dan bathin kepada Allah SWT, jangan juga sombong dengan kekalahan Anda. Hehe kalah ko sombong? maksudnya adalah bisa saja memberikan 1001 alasan tentang kekalahan karena kita tidak mau mengakui kekalahan.

Kekalahan justru menjadi sesuatu kemenangan dihadapan Allah SWT, jika pada akhirnya kita menjadi hamba yang ma’rifat kepada Allah SWT, namun kemenangan tidak akan ada artinya jika dan hanya jika menjadi tinggi hati dan lupa terhadap Dzat Yang Maha Kuasa atas kemenangan yang diberikan.

Semua sementara bukan? Jadi ketika kemenangan jadi anugrah itulah waktu Anda menjadi tawadhu, namun jika kekalahan melanda Anda, itulah waktu Anda menjadi bijaksana, melatih kesabaran dan ikhlas.
Insya Allah.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s