Ngebahas Kritik lagi…


Bagi kebanyakan orang, kritik barangkali sebuah barang tabu. Entah karena kultur kondisi sosial, kebiasaan atau sebab lain. Padahal kritik konstruktif ibarat sebuah cermin tempat kita melihat muka sendiri. Bayangkn jika kita menyisi rambut, mencukur kumis, memakai bedak, memakai lipstik, tanpa bercermin?

Suatu hal sulit untuk bersikap kritis dan lebih sulit lagi untuk siap dikiritis.
Kritikan seperti pil pahit yang tidak semua oang mau dan mampu menelannya. Seringkali kritik membuka mata kita, namun sisi lai kritik itu sekaligus menyakitkan hati kita.

Tapi dapatkah kita membayangkan hidup tanpa kritikan? Ketika itulah kita akan dikelilingi para penjilat, orang – orang yang carmuk, manusia – manusia bertopeng.

Kita tanpa sadar menjadi terasing dari diri kita sendiri, menuntun kita menjadi orang yang egois, keras kepala bahkan naudzubillah keras hati.

Padahal teman yang baik adalah teman yang mau bersikap kritis terhadap kita.

Ketika kita muai menutup mata dan telinga dari kritik yang tidak kita inginkan, ketika itu pula kita sebenarnya membuang mutiara – mutiara yang sebenarnya kita butuhkan, menyia-nyiakan teman yang dengan ikhlas bersikap jujur dan peduli dengan kita sehingga yang tersisa di sekitar kita hanyalah para penipu berkedok, orang – orang bermuka manis di depan kita padahal di belakang kita mungkin saja mereka menertawakan bakan merongrong dan menghancurkan kita.

Namun tentu saja tidak semua kritik bermanfaat. Kita harus memiah dan memilih kritik – kritik yang konstruktif dan biarkan saja terbang bersama angin kritik – kritik yang menghancurkan.

Jangan pula kritik menjadikan kit minder dan jatuh, justru sebaliknya, kritik adalah tolok ukur yang menunjukkan tingkat keberhasilan kita dan menjadi penyemangat untuk berbuat yang lebih baik.

Kritik – kritik itu sekaligus menunjukkan bahwa kawan – kawan / sahabat kita adalah orang – orang yang betul – betul peduli dengan kita dan bukan orang – orang yang bermuka manisa yang hanya mau ‘memanfaatkan’ kita.
Pun sebaliknya kita arus mampu bersikap kritis kepda teman – teman kit meskipun itu tidak mereka inginkan.

Seorang teman yang baik adalah bukan teman yang selalu ada saat diinginkan, tapi dia akan selalu ada saat dibutuhkan.

Jangan keras kepala, sob.
Openminded cara terbaik ^_^.

Justru kritik adalah cara Allah SWT untuk mengingatkan hamba-Nya, syariatnya lewat siapapun, bersyukurlah dan tumbuhlah dengan kritik itu sebagai cambuk menjadi orang yang tegar, sabar dan ikhlas. Insya Allah.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s