Nasihat…


Nasihat yang sebenarnya adalah nasihat yang mudah dirasakan dengan perasaan dan diterima dengan mudah.

Nasihat seperti ini ibarat orang memberikan untuk kita gula – gula yang apabila kita masukan ke dalam mulut kita langsung dapat dirasakan manisnya. Seperti itulah nasihat yang baik.

Akan tetapi nasihat yang baik tidak hanya dirasakan manisnya, sering pula orang merasakan pahitnya. Karena tidak semuanya barang yang pahit itu tidak enak dirasakan. Meskipun demikian umumnya manusia lebih suka yang manis daripada yang pahit.

Memang memberi nasihat agama itu tidak hanya sekedar nasihat. Sebab nasihat tidak lain adalah pelajaran, bahkan ilmu. Pelajaran yang berupa nasihat memang harus enak didengar dan mudah dipahami dan dicerna oleh orang yang mendengarkan.

Nasihat itu bisa pula kurang sedap didengar di telinga kita, atau pahit dirasakan di hati kita. Semuanya tergantung siapa yang mendengar nasihat itu. Atau kepada siapa nasihat itu disampaikan.

Nasihat itu bisa pahit didengar apabila masuk ke dalam hati orang yang sering berbuat maksiat. Apalagi nasihat itu ditujukan kepadanya.  Memang pahit, karena kebiasaan yang sering dikerjakan sulit untuk ditinggalkan, tetapi perlu didengar.

Orang yang memberi nasihat pun kadang – kadang berat memikul tugas sebagai juru nasihat, apabila ia harus menyembunyikan kebenaran yang wajib disampaikan.

Bagi juru nasihat, mubaligh, dai, murabbi, menyampaikan kebenaran itu wajib, walaupun harus berhadapan dengan orang -orang yag terkena nasihat. menegur dan mencegah manusia yang suka berbuat maksiat pahit dan berat. Lebih pahit dan lebih berat lagi apabila tidak disampaikan. Oleh karena itulah maka Nabi Muhammad SAW, mengingatkan.

“Ucapkanlah yang benar itu walaupun rasanya pahit.”

Agama Islam adalah agama nasihat, agama yang suka menyemapikan pelajaran yang benar, dan berguna untuk manusia dan juga pimpinan – pimpinan atau orang yang bertanggung jawab dalam masayarakat. Rasulullah juga menyampaikan.

“Agama (Islam) itu nasihat bagi seluruh umat muslimin”

Ajaran Islam sebagai nasihat, tidak semata – mata nasihat, akan tetapi dengan cara yang bijaksana, dan ajakan yang baik. Kalau sampai bertukar pikiran harus pula dengan hikmah bijaksana.

Jadi, cara memberikan nasihat, walaupun pahit disampaikan dan npahit diterima, hendaklah pula dengan hikmah, ajakan yang baik dan dengan hati yang ihsan.

  • Bijaksana cara mengucapkan dan cara menyampaikan
  • Mengandung pelajaran yang baik dan manfaat
  • Ihsan, menunjukkan sikap dan akhlak mulia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s