Fitnah…


Fulanah masih lelah.
Menempuh perjalanan jauh, menembus batas cakrawala meneguk pengalaman tak pernah selesai.
Seorang wanita setengah baya meniarap dan bersimpuh sambil mengaduh , dia mengeluh,

    Betapa diriku manusia durhaka tertawa mencela mengina kemudian mengiba tak tahan aku menanggung dera gemuruh kebencian penuh seluruh,dia berikan aku tangga dan aku mendaki jauh ke puncak dia berikan aku cinta dan aku balas dengan murka dia berikan kepadaku jalan dan aku menyilap menusuk dendam betapa hinanya diriku ambisi dan nafsu angkara menguasaiku,

    aku tak mengerti sama sekali betapa dia memberi cinta, cahaya, dan jalan menapak, kunikmati segala fatwanya, dan cintaku semakin nyata

    sungguh aku tak mengerti
    kenapa selalu ada dendam dan dengki

    padahal dia adalah cahaya
    pelita yang menerangi kehidupanku
    bahkan karena dia
    kumiliki tanda jasa

    sungguh aku tidak mengerti
    bagaimana mungkin dia pelita hati
    kuhadang, kuterjang, dan kukhianati

    bertambah dia diam pasrah, diriku bertambah gundah penuh marah,
    semakin dia sabar, dirku semakin terbakar
    aku melaknat, diam-diam kusimpan rasa hormat
    kemudian aku tercabik jiwaku menapik
    sungguh aku ini orang munafik

    dia tersungkur karena fitnah menjulur
    terbaring dalam dera walau jiwanya tetap cahaya
    kunantikan balas mendera, tetapi dia hanya tersenyum
    ambisiku semakin menggila, dengan jiwaku yang binatang

    kuhadang dua dan terjengkang
    kunantikan dia melawan tetapi, ah… betapa malu diriku
    aku adalah api yang menyala sedang dia air yang menyejukkan

    lidah penuh siasat siap melaknat
    sedang dia bertambah asyik dalam makrifat
    kutebar fitnah agar jiwanya resah gelisah
    tetapi, ah jiwanya indah sebening embun

    Wahai Pencari Makna
    dengan rasa malu yang menderu di hadapanMu aku mengadu betapa diriku telah terbakar, sedang dia yang kukhianati bertambah tegar tak takut mati
    kebencianku telah membakar diriku sendiri lihatlah betapa kotornya jiwaku.

Fulanah mendengarkan wanita itu dalam cermin dirinya,
dipandangnya raut muka sosok wanita yang telah mengeluh mengaduh karena jalan kebencian yang ditempuh.
Sambil memalingkan mukanya, fulanah berkata,

    Wahai wanita yang didera nafsu angkara kebencianmu telah membakar segala engkau bercanda dan tertawa padahal hatimu menangis dihimpit nista.Kelemahanmu hanyalah fisik tetapi betapa nafsu kebencian melawan ambisimu, gengsi, dan rasa tersinggung membuatmu bingung karena dendam dengki menggunung,

    Engkau membenci dia, apakah dia itu kekasihmu, temanmu, ataukah apapun yang pasti dia telah memberimu tangga naik kepuncak memberimu ilmu dan cinta,
    tetapi kenapa ada dendam itu semua karena kelemahanmu takut tersingkap bukanlah cemburu di hatimu, tetapi rasa takut yang memburu

    Melangkah ke masa lalu. Lihatlah betapa dia menyibak jalan kalau bukan karena dia kekasihmu atau temanmu itu, mana mungkin engkau memegang tongkat kekuasaan kelemahan yang paling nista adalah ketakutan dan kelemahan engkau takut dan cemas borokmu terbongkar,
    engkau membenci, diam- diam cinta bergetar.

    Wahai wanita yang penuh dendam tak pernah engkau akan tenteram, bila hatimu tak berani ke depan meminta maaf dan melupakan kemudian dengan dada yang lapang pandangan jalan dihadapkan.

    Dia yang kau benci, jiwamu yang terkunci dia yang kau hadang, hatimu yang meradang dia yang menjeratmu gelisah justru dialah nyawamu, dialah pelitamu, dialah cahayamu, tetapi ambisimu dan harap pujian telah menutup makna kebenaran.

    Oh, seperti percuma semua shalat tahajudku, shalat lima waktuku, dhuhaku, shaum sunnah ku, kugadaikan dengan kedengkian sejuta makna.

Di atas langit ada awan yang berarak.
Matahari menampakan seberat cahaya.
Wanita yang cantik tetapi kusam mengangkat kepalanya.
Mukanya yang pucat pasi berubah memerah darah.
Ada bulan di wajahnya, ada sesal dihatinya, kemudian mengucap kata yang tidak jelas, berdesah.

    “Alangkah mulianya hati manusia yang tak membenci walau dibenci. Tidaklah hati resah atau dendam walau fitnah menghujam. Alangkah mulianya manusia yang menganggap dunia fatamorgana.Sedangkan sebongkah hati penuh cinta memberi makna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s