Niat…


Berangkat dari satu situasi kepada situasi lain dalam beribadah tidak dibenarkan. Beramal untuk memperoleh pujian, pangkat, derajat, ketenaran, kehebatan, termasuk melaksanakan ibadah tidak karena Allah SWT semata. Sebab perbuatan ini, terkait amal dengan kepentingan pribadi yang sangat dominan. Adapun beramal seperti ini disebut seperti orang yang berjalan ke suatu arah, akan tetapi ia menghendaki pula menuju arah lain.

Ia tidak istiqamah dalam ibadah. Ia beramal, sebenarnya agar mendapat pahala dan keridhaan Allah SWT, akan tetapi di samping itu ia masih juga berharap agar diketahui manusia dan mendapat kehormatan – pujian sebagai orang saleh, atau orang dermawan.

Ia berpindah niat ikhlas kepada niat riya. Beramal yang hakiki sifatnya adalah amal ibadah semata-mata ditujukan kepada Allah Al Wahidul Qahhar, seperti firman Allah SWT dalam surat An Najm, ayat 42:

    “Sesungguhnya kepada Tuhanmu berakhirnya segara yang dikehendaki.”

Keikhlasan beribadah yang ditunjukan semata – mata karena Allah SWT Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Tujuan akhir semua amal dan ibadah, tidak lain adalah ridanya Allah SWT. Ridha Allah SWT melebihi syurga yang disediakan Allah SWT kepada orang beriman.

Mendapatkan ridha Allah SWT dalam hidup duniawi dan hidup ukhrawi telah melebihi syurga yang dijanjikan oleh Allah SWT. Ridha Allah SWT adalah puncak dari hubungan hamba dengan Allah Maha Pemelihara Alam Semesta.

Seorang muslim tidak menginginkan amal ibadahnya sia – sia. Oleh karena itu ibadah yang dilaksanakan, ditujukan semata-mata untuk Allah SWT belaka. Ibadah dengan niat dan kehendak lain, tidak hanya mengurangi nilai ibadah itu sendiri, akan tetapi akan menjadi ibadah yang sia – sia.

Sabda Nabi Muhammad SAW,

    “Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya (tidak kepada selain itu), maka hijrahnya itu akan menemukan Allah SWT dan Rasul-Nya. Akan tetapi siapa yang berhijrah untuk mendapatkan keduniaan, atau untuk mendapatkan perempuan yang ingin diperistrinya, maka ia mendapatkan seperti apa yang diniatkan itu juga.”

Memahami hadits tersebut, jelas bahwa tiap-tiap perkara yang diamalkan banyak bergantung pada niat orang yang mengamalkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s