Sombong karena tawadhu …


Tawadhu memang suatu sifat terpuji bagi orang – orang saleh.

Merendahkan diri kepada Allah SWT (tawadhu) adalah hasil ibadah. Merasa kecil dihadapan Allah SWT.

Kepada sesama hamba Allah SWT pun manusia harus tawadhu, tidak angkuh dan ujub karena menjadi hamba Allah SWT yang taat menjalankan ibadah, dan patuh saat semua perintah dan larangan-Nya. Merasa diri tawadhu termasuk sifat yang angkuh (kibir). Apalagi sifat tawadhu dipamerkan kepada orang lain, maka jadilah perbuatan ini sebagai riya.

    Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. Al-Isra: 37)

Sifat tawadhu harus dimiliki oleh setiap mulsim yang shaleh, akan tetapi tempat tawadhu itu di dalam hati. Kalau tawadhu itu tampah di luar diri seseorang, itulah akhlakul mahmudah. Karena tawadhu adalah termasuk akhlak terpuji bagi manusia beriman.

Dalam pergaulan dengan sesama manusia, maka orang pun hendaknya memiliki perasaan tawadhu. Sifat tawadhu akan menghindari manusia merasa lebih dari yang lain. Merasa lebih soleh, lebih kaya, lebih berderajat dan berpangkat, lebih cantik, lebih kuat, lebih berilmu, lebih berpengalaman, dan kelebihan lainnya. Merasa lebih membuat manusia angkuh.

Sedangkan keangkuhan itu menurut hadits Rasulullah SAW:

    Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan manusia (orang lain)…  (H.R. Muslim)

Sedangkan orang yang tawadhu, umumnya sabar, tidak dendam, jauh dari emosi, pandai menahan diri, tidak tamak, tidak merasa benar dan super atau tidak merasa diri lebih dari orang lain.

Hamba Allah SWT yang tawadhu tidak merasa memiliki kelebihan apapun, tidak merasa memiliki kemuliaan. Tawadhu baginya adalah sifat dan watak yang harus dimiliki oleh setiap muslim.

Sebenarnya tawadhu itu hanyalah sifat terpuji yang tersimpan dalam hazanah kalbu seorang hamba Allah SWT. Ia tidak menunjukkan sifat-sifatnya itu. Ia hanya meneladani akhlak Rasulullah SAW. Ia sendiri tidak merasa memiliki sifat tersebut, karena yang ia pakai dan tiru adalah sifat Rasulullah SAW.

Kekuasaan Allah SWT adalah sifat yang ada pada-Nya. Selama manusia tidak memperhatikan sifat-sifat kemuliaan yang ada pada Allah SWT, selama itu pula ia merasa lebih dari manusia lainnya dan dengan sifat itu ia telah takabbur.

Sifat tawadhu patut dimiliki oleh setiap muslim, karena sifat itu adalah sifat yang diteladani dari sifat utama Nabi Muhammad SAW. Sifat ini adalah bagian dari akhlakul mahmudah.

Nabi Muhammad SAW. mengingatkan:

    “Sesungguhnya Allah Ta’la telaj mewahyukan kepadaku, agar bertawadhulah kalian, sehingga tak seorang pun menyombongkan dirinya kepada yang lain, atau seseorang tiada menganiaya kepada yang lainnya. (H.R. Muslim)

Ya Rabb jauhkan hati kami dari sifat sombong, riya, ujub, takabbur sekecil apapun. Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.

1 Comment (+add yours?)

  1. El-Cozan
    Jun 04, 2010 @ 14:31:16

    Wah……. Blognya bagus banget, terima kasih ya……… s’moga kita s’mua terhindar dari sifat2 keji dan mungkar. Amiiiinn…………,……………..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s