Pimpinan dengki bawahannya?..


Sepertinya hina sekali jika seorang pimpinan dengki kepada bawahanya, jika pimpinan dengki dengan levelnya sangat wajar sekali dan lumrah bagi karakter pendengki.

Logika apa lagi yang dipikirkannya, kekuasaan sudah mereka dapat, kebijakan mereka yang mengendalikan, bahkan kesejahteraan bawahannya adalah salah satu perannya.

Apakah tidak mau tersaingi?

    Jika memang begitu kenapa tidak sendiri saja bekerjanya dan tidak usah mempekerjkan karyawan, betul?

Apakah tidak mau melihat karyawannya lebih baik?

    Jika memang begitu kenapa harus ada standar prestasi dan tuntutan perusahaan untuk menganjurkan karyawannya belajar menjadi lebih baik, betul?

Apakah tidak tega dengan perkembangan karyawannya yang semakin baik dan berprestasi?

    Jika memang begitu kenapa setiap bulan bahkan mungkin setiap pekan dilakukan evaluasi tentang perkembangan prestasi karyawannya, dan jika tidak terpenuhi maka dikenakan sangsi, dan jika terpenuhi karyawan pun terus dimotivasi untuk lebih berprestasi lagi bahkan harus mengerjakan pekerjaan lebih dari target yang telah ditentukan, betul?

Apakah tidak ridho dengan kenikmatan yang dirasakan bawahanya?

    Jika memang  begitu kenapa setiap bulan mereka berikan karyawannya reward berupa gaji, dan mereka berikan kebebasan kepada karyawan untuk tidak memikirkan lebih  banyak tentang beban perusahaan, bahkan merasahasiakan sebagian dapur keuangan perusahaan, supaya karyawan tidak stress karena ketidaksiapan memikirkan beban perusahaan yang cukup besar, bahkan mungkin tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya.

Sungguh aneh, bagi seorang pimpinan yang mendengki bawahannya.

Seharusnya seorang pimpinan memiliki sikap standar layaknya yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara yakni:

    Ing Ngarso sungtulodo – didepan memberikan suritauladan, contoh yang baik, memberikan aura semangat untuk ditularkan kepada bawahnya, untuk dikuti dan dipatuhi sebagai panutan, bukan sebaliknya.
    Selalu perhatikan antara keseuaian perkataan dan perbuatan yang seharusnya mereka lakukan bukan sebaliknya pula. Kareka kredibilitas pemimpin sangat diperhitungkan oleh siapapun.
    Ing madya mangunkarso – bersama – sama dengna bawahnnya memajukan diri, visi & misi sehingga sesuai dengan cita-cita yang mereka targetkan semestinya, saling mendukung satu sama lain karena masing-masing memiliki peran. Tidak ada kata saling menjatuhkan karena setiap elemen memaknai perannya secara baik, benar dan tepat.
    Tut wuri hadayani – dibelakang, mereka mendorong bawahannya menyemangati, memotivasi, membakar semangat bawahannya sehingga mau dan mampu mencapai target dengan memaksimalkan potensinya secara optimal, untuk ketercapaian tujuan, visi dan misi perusahaan.
    Sedangkan dia sendiri memberikan nilai tambah terhadap pemikiran, pengetahuan dan keterampilan sebagai bahan untuk memberikan motivasi terbaik kepada bawahannya.

Pimpinan yang baik mengakui kelebihan bawahanya dan mengakui kesalahan dirinya jika memang dia bersalah.
Justru seharusnya bahagia jika karyawannya berprestasi, continuous improvement dan memiliki potensi yang luarbiasa, sehingga sebagai pimpinan tidak harus bekerja secara sendiri namun mengaktualisasikan kemampuan manajerialnya, kecuali memang yang bersangkutan belum memiliki kemampuan manajerial yang baik sehingga emosi yang belaku.

Perlu disadari juga oleh para pimpinan:

Bahwa ketika bawahan Anda berprestasi, justru Anda yang ikut berjasa pada mereka karena Anda ikut berperan dalam mendorong mereka untuk berprestasi dan melakukan continuous improvement.

Ketika bawahan atau karyawan atau staff Anda bahagia menerima reward justru Anda juga yang turut memberikan kebahagian mereka sehingga keluarganya dapat menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya mereka dambakan setiap saat.

Jika Anda punya hati tentunya Anda juga memiliki sifat empati dan simpati, kecuali jika Anda tidak punya hati apa yang bisa Anda banggakan sebagai manusia dan akan disimpan dimana kehormatan Anda, atau kehormatan Anda sudah hanyut karena perilaku kedengkian Anda pada bawahan Anda?

Jika harga diri Anda sudah tidak ada lagi dihadapan bawahan Anda, bisa jadi selama ini mereka menuruti perintah Anda atau segan kepada Anda bukan semata-mata karena jasa Anda bisa jadi karena formalitas organisasi saja, karena menuntut mereka untuk menuruti Anda, padahal dalam hati mereka atau dibelakang mereka tidak lagi menghormati Anda karena perilaku Anda sendiri yang tidak konsisten dengan perkataan Anda atau karena Anda tidak berlaku adil terhadap mereka atau memperlihatkan kedengkian Anda pada bawahannya. Naudzubillah.

Ayolah, wahai para pimpinan sadarlah, berusahalah memperbaiki diri dan mengakui kelebihan karyawannya, apa sih yang Anda cari di dunia ini selain keridhaan dari Allah SWT, dan salah satunya didapat dari menjauhi sikap dengki dan bijak terhadap bawahnnya. Insya Allah.

Semoga Allah SWT mengkurniakan hati yang bersih, dan selalu membimbing hati kita sehingga terjauh dari penyakit hati sekecil apapun.
Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s