Prioritas


Tiada prioritas yang lebih penting, tanpa ada usaha untuk mementingkan kepentingan tersebut.

Advertisements

Kebaikan


Tidak semua kebaikan yang dilakukan akan menghasilkan kebaikan, begitu juga keburukan yang kita lakukan tidak dengan serta merta menghasilkan keburukan

Pengakuan dalam pertengkaran


“Bukan itu maksudku mengharuskan dirimu seolah-seolah terpojok dalam ruang gelap, tanpa ada cahaya perhatian dan cinta yang aku pancarkan setiap harinya. Namun jika melakukanya dirimu tentu saja tidak mau dan seakan pengekangan itu membuatmu sakit hati & terpojok. Dirimu paham bahwa terapi posessif itu adalah sedikit mengeluarkan jurus cuek, dengan tindakan & perlakuannya kepada pasanganya, tidak bijak memang, namun itulah salah satu cara sehingga dirimu tidak terkekang.” Pria.

“Namun tindakan dirimu dengan terapi itu seolah-olah dirimu tidak pernah perhatian kepada kekasihnya, sampai kekasihnya berubah penampilan saja engkau tidak peduli, seolah benar-benar tidak ada dalam pandanganmu-seolah engkau tidak punya kekasih hati-seolah engkau tidak peduli lagi dengan kehidupan sekelilingmu-seolah engkau autis.” Tangisan wanita ikut menyertai kata-kata itu.

“Aku memang egois, apatis, possesif!” Pengakuan berengsek dari Sang Pria.

“Ya tapi posessif mu menyebabkan aku sakit hati, terpojok, dirimu terlalu egois-egois tingkat tinggi, kenapa engkau tidak hidup sendiri saja!!, tidak perlulah engkau paksa seseorang menjadi kekasihmu-tidak perlulah engkau memberikan cinta & kasih sayang semu, tidak perlulah engkau nyatakan 1001 pernyataan cinta hanya untuk membuat hati wanita seperti terbuai, terobati rasa rindunya, terbantahkan kasih sayangnya.” Tegas Wanita.

“Cinta, dirimu paham sekali bahwa perilaku possesif & cemburu yang aku lakukan adalah bukti cinta & kasih sayang aku padamu, aku berikan perhatian, secara detail kepadamu, engkau juga tahu bahwa itulah penyakit yang selalu menyebabkan dirimu merindukan aku, sekalipun pada akhirnya dirimu merasa terpojok, terabaikan, terkekang, terpenjara dan tidak bebas lagi bergerak untuk menyapa beberapa pria, sebagai cadangan, ketika aku tidak menegur dirimu, aaaaaahhg, bodohnya aku jika membiarkanmu bebas melakukan apa saja dengan pria lain sedangkan aku menderita dengan possesif!!” Bantah Pria.

“Tidak cinta, aku tidak pernah melakukan itu, aku selalu merindukan dirimu, tidak ada pria lain yang kusapa, kurindukan setiap saat kecuali dirimu.” Air mata Wanita mulai menetes seiring ungkapan perasaannya.

“Terus terang cinta, aku sudah tidak lagi menghiraukan teman-teman wanitaku, aku bicara seperlunya, tidak pernah sedikitpun aku berpaling darimu, bahkan mereka sudah menganggap aku sombong, berubah 180 derajat, semua kulakukan demi dirimu, memberikan penghargaan sebesar-besarnya pada cinta & kasih sayangmu, bahkan aku korbankan sedikit masa depanku untuk dirimu, cinta.” Pengakuan Pria.

Wanita hanya terdiam, tersedu menangis, “Cinta, aku hanya ingin dirimu, namun aku tidak suka dengan caramu mencintaiku-terapi possesifmu seolah engkau autis akan diriku…hiks hiks”

“Maaf aku cinta, tpi aku sangat cemburu dengan apa yang engkau lakukan dengan pria lain sekalipun cuma bersenda gurau di sebuah situs jejaring sosial.” Ungkap Pria.

“Tapi aku juga cemburu Cinta, lihatlah segitu banyaknya teman-teman wanita yang mengelilingi dirimu di situs jejaring dirimu, lihatlah begitu banyak komentar dari teman wanita, apakah aku tidak cemburu? Cemburu cinta!!!, namun aku tahan, aku tidak mengungkapkan kepada dirimu dengan pelakukan, aku hanya menangis tersedu di pojok kamar atau mencurahkan isi hatiku pada bantal, & aku menangis sekeras mungkin, bahwa aku cemburu, namun aku tidak bisa berbuat apapun…” Jawab Wanita.

“Kenapa tidak engkau ungkapkan dengan rasa cinta & kasih sayang serta perhatian lebih” Tegas Pria kembali.

“Cinta, aku bukan tipe wanita yang tidak mau mengalah, aku tidak ingin mengganggu kenyamanan dirimu, berkomunikasi dengan sahabat-sahabat dirimu, aku tidak mau mengganggu dirimu…” Wanita sambil menundukan pandangannya menyeka airmatanya.

“Maafkan aku cinta, aku takut kejadian yang sama terulang kembali, engkau tahu awal pertemuan kita darimana? Engkau tahu bagaimana awal perbicangan kita dari mana? dari YM cinta, dan awalnya hanya say hello, aku takut itu berlaku juga kepada pria lain, aku takut itu juga terjadi karena jarak yang memisahkan kita, sehingga dirimu mencari seseorang sebagai teman bertukarpikiran, mencurahkan rasa, ketika diriku tidak ada disampingmu, tidak ada dalam pengakuanmu….” Imbuh Pria

“Cinta aku hanya ingin dirimu…. i luv u” Tangis wanita. Kemudian menutup telponnya

Betapa Sulitnya Umur yang Berkah


Seorang eksekutif meninggal dunia, umurnya enam puluh tahun tiga
Isterinya sudah lebih dahulu tiada, anak mereka berjumlah lima
Hartanya berupa 2 mall, 3 PT dan taksi kota sebagai armada
Total rupiahnya 30 milyar, terkumpul 30 tahun lamanya
Berarti sebulan dia menabung bersih 800 juta
Untuk seorang pegawai negeri, ini luar biasa

Mendiang membeli gelar S-3 murah, hanya 25 juta rupiah saja
Universitasnya konon Amrik, berkantor di Cengkareng sana

Tiga anak adiksi narkoba, satu punya disko, satu rumah bilyar
Begitu papa meninggal, mengenai harta habis-habisan bertengkar
Berita masuk semua koran, begitu ada perkelahian di pengadilan

Seorang pensiunan guru SMA meninggal dunia, umurnya enam puluh tiga
Istrinya telah lebih dahulu tiada, anaknya berjumlah lima
Hartanya sebuah cicilan BTN, sepeda motor tua
Total Rupiah dalam tabungan 240.000 yang tersisa

Almarhum guru bahasa & sastra Indonesia
Untuk tambahan nafkah menulis artikel di koran daerah
Sering menjadi juri lomba baca puisi SMP dan SMA
Pernah juga diam-diam menarik ojek tapi tidak lama
Kelima anaknya memenangkan beasiswa
Tiga orang sampai S-2, dua mencapai S-3
Sama sekali tak memberatkan orang tua

Mungkinkah rezeki yang berkah itu mengalirnya
Mengukuhkan umur yang berkah pula?
Puisi ini tak terlalu sulit dituliskannya
Menjalani hidup dengan umur yang berkah itu sangat sulitnya

Untuk Aisyah


Ku Sendiri…
Teringat Masa Indah Kita Berdua
Menikmatii Tulusnya Cinta
Hatiku Pun Terassa Bahagia
Kubelai Wajahmu Penuh Manja

Ku Impikan…
Dirimu Dan Diriku Mengikat Janji
Namun Kini Ku Tak Mengerti
Kau Tinggalkan Diriku Sendiri
Kau Pergi Jauh Dan Tak Kembali

Berakhir Sudah
Semua Tinggal Menjadi Kenangan
Ku Ingat Salam Yang Kau Berikan
… Selamat Tinggal Sayang…

Senantiasa…
Kukenang Masa Indah Kita Berdua
Walau Kita Telah Berpisah
Cintaku Padamu Takkan Padam
Kunantikan Dirimu Kembali

Bersyukur Tiada Habis-habisnya


Kurniakanlah ya Rabbana
Kepada kami sekeluarga
Kepada kami sebangsa
Kemampuan bersyukur senantiasa

Sejak kami lahir dari rahim ibunda
Sampai saat ini tidak dapat dikira
Tak dapat dihitung, diperinci tak bisa
Betapa luar biasa banyak dari Dikau karunia

Karunia kehidupan dalam nyawa
Karunia kesempatan berperan di dunia
Karunia akal dan rasa betapa lengkapnya
Serta kasih dan sayang Dikau laur biasa

Tuntunlah kami mengingatnya
Tuntunlah kami melafazkannya
Bersyukurlah tiada habis-habisnya
Bersyukur tiada selesai-selesainya

Semoga kami sekeluarga
Suami, isteri, anak-anak semua
Orang tua, mertua, seluruh bangsa
Bersyukur tiada lalai, tanpa lupa

Saat Sifat Buruk Ditanggalkan, Sifat Baik Bermekaran


Anda pernah bertemu dengan orang yang sering bersikap negatif? Cara berpikirnya negatif. Cara bicaranya negatif. Cara menyampaikan pendapatnya negatif. Caranya memandang seisi dunia pun negatif. Sebaliknya, anda juga pasti pernah bertemu dengan orang yang sering bersikap positif. Segala sesuatu yang keluar dari mulutnya positif. Tulisan-tulisannya positif. Perilakunya positif. Dan caranya memandang seisi dunia juga positif. Pertanyaannya adalah; apakah perbedaan sikap kedua orang ini disebabkan oleh ’perbedaan gen’ dalam dirinya, atau perbedaan pilihan hidup yang diambilnya?

Jika berkunjung ke lapangan olah raga komplek kami, anda akan melihat pohon mangga yang tinggi dan besar. Dari kejauhan daunnya terlihat hijau rindang, disertai ranting-ranting bersilangan. Namun, kalau melihatnya dari dekat; anda akan tahu bahwa daun-daun hijau nan subur itu bukanlah daun mangga. Melainkan daun benalu yang tebal dan menjalar. Tidaklah mengherankan jika pohon mangga itu enggan berbuah. Kira-kira sebulan yang lalu, kami memotong sebagian pohon mangga itu. Terutama dicabang-cabangnya yang ditumbuhi para benalu. Tidak disangka, ternyata sedemikian banyaknya benalu itu sehingga sebuah mobil bak terbuka harus bolak-balik mengangkut sampahnya.

Hari minggu kemarin, saya berkumpul bersama beberapa warga lain dilapangan itu. Dan tanpa sengaja, kami melihat pohon mangga itu. Kami semua terkagum-kagum dengan pemadangan itu. Kenapa? Karena, sekarang pohon mangga itu dipenuhi oleh pucuk-pucuk daun muda yang besar-besar dan subur-subur. Sekarang, saya menjadi lebih faham; mengapa para bijak bestari sering menasihatkan kita untuk menghilangkan sifat-sifat buruk yang kita miliki. Sebab seperti benalu itu; sifat buruk menyebabkan sifat-sifat baik didalam diri kita enggan muncul ke permukan.

Memang, ada orang yang percaya bahwa sifat baik dan buruk seseorang itu sudah tercetak dalam kode-kode genetiknya. Sehingga, ada ilmuwan yang menduga bahwa orang-orang tertentu dilahirkan dengan bakat menjadi penjahat. Tapi, tidak pernah ada kesepakatan tentang kebenaran dugaan ini. Tuhan tidak adil jika menciptakan orang-orang tertentu dengan gen untuk menjadi manusia picik, berpikiran sempit, dan senang berprasangka buruk. Padahal, Dia menciptakan orang lainnya dengan gen untuk menjadi manusia yang baik, berperangai terpuji, serta sopan dan santun kepada lingkungannya.

Guru ngaji saya sewaktu disurau dulu menjelaskan kalau Tuhan berfirman bahwa;

Pada saat meniupkan ruh kehidupan kepada janin manusia, Dia memasukkan kecenderungan sifat manusia kepada kebaikan dan keburukan.

Oleh karenanya kelak ketika dewasa, seorang manusia memiliki kendali penuh atas dirinya sendiri. Apakah dia memilih menjadi manusia yang berperangai baik, atau buruk.

Sayang sekali jika memilih untuk membiarkan sifat-sifat buruk tumbuh subur didalam diri kita. Sebab, saat kita memilih untuk menjadi buruk; sifat-sifat baik kita terkunci rapat. Misalnya, ketika kita memilih untuk memaki orang lain, maka sifat toleran kita tidak kelihatan. Saat kita malas, maka sifat rajin kita hilang. Saat kita membenci orang lain, maka sifat penyayang kita terkekang. Sebaliknya, ketika kita memilih untuk teguh hati, maka sifat cengeng langsung hengkang. Saat kita menghormati hak orang lain untuk berpendapat, maka sifat sok benar sendiri kita tidak mendapat tempat. Dan, saat kita memilih untuk berakhlak mulia, maka perilaku-perilaku tak terpuji kita pergi.

Apa peduli elu? Hidup, hidup gua. Mulut, mulut gua. Terserah mau gua pake apa! Ada orang yang berprinsip begitu? Banyak. Kita pun kadang-kadang demikian. Namun, kita lupa bahwa manfaat bersikap baik itu bukan untuk orang lain. Melainkan bagi diri kita sendiri. Sebab, jika kita berperilaku baik kepada orang lain, kemudian orang lain merespon dengan hal-hal yang baik pada kita; maka yang untung adalah kita. Sebaliknya, jika kita bersikap buruk kepada orang lain, lalu orang lain membenci kita, menjauhi kita, dan mengucilkan kita; maka kita akan kehilangan banyak kesempatan.

Oleh karena itu, sudah saatnya untuk menyadari bahwa berperilaku buruk itu sama sekali tidak memberi manfaat apapun kepada diri sendiri. Apakah dalam konteks hubungan sosial antar manusia, ataupun dalam konteks pekerjaan. Karena, jika kita membawa sifat-sifat buruk itu ke tempat kerja, misalnya; maka percayalah, kita tidak akan disukai teman. Tidak disayangi atasan. Tidak dihormati pelanggan. Sehingga pasti kita akan menjadi pegawai yang gagal. Sebaliknya, ada hadiah istimewa bagi mereka yang membawa perangai baiknya ke tempat kerja. Sebab, dengan sifat-sifatnya yang baik itu; dia akan selalu mendapatkan tempat terhormat, dimanapun dia berada.

Dibeberapa cabang pohon mangga itu sekarang bermunculan bunga-bunga bakal buah. Padahal, ini bukan musim mangga berbuah, loh. Semoga saja, hidup kita juga demikian. Ketika semua sifat buruk dari dalam diri kita dibuang; maka segala sesuatu yang kita lakukan akan membuahkan hasil. Bahkan, dalam bentuk dan jumlah yang tidak pernah kita bayangkan.

Pantaslah kalau Tuhan kemudian berfirman:

Janganlah Engkau mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan.

Karena ternyata benar bahwa keburukan-keburukan sifat kita bisa menyingkirkan sifat baik. Sebaliknya, sifat baik kita bisa mengusir sifat buruk. Jadi, bagaimana caranya menjadi orang baik? Gampang; tanggalkan semua sifat buruk dari dalam diri kita. Karena, ketika benalu yang menempel di batang pohon mangga itu kita buang; dia menemukan kembali kegairahan hidupnya. Kemudian pucuk-pucuk daun yang indah bermunculan. Dan bunga-bunganya, bermekaran.
Semoga bermanfaat 🙂

Previous Older Entries