Obat Penghapus Dosa


Oleh:Pepen Hermawan, ST., S.Pd.
Seorang tabib di kota bashrah, menguraikan resep obat penghapus dosa dan penyembuh penyakit hati.

Resep itu kemudian dikisahkan oleh Hasan Al Basri, sebagai berikut :
Ambillah akar pohon kefakiran dan kerendahan hati, simpan kedua akar tersebut dalam keranjang tobat, tumbuklah dengan lesung ridha, haluskan dengan saringan qonaah (puas hati) masukkan kedalam mangkok taqwa campur dengan air haya(rasa malu), didihkan diatas api mahabbah (cinta )tuangkan kedalam bejana syukur. Dinginkan dengan angin harapan dan kemudian minumlah dengan sendok hamdallah(pujian kepada allah), insya Allah engkau akan selamat dari segala penyakit dan berbicara baik didunia maupun di akhirat.

Cetak Halaman Ini++

Advertisements

Menjadi Dewasa


Oleh:Pepen Hermawan, ST., S.Pd.

Setiap hari kita berjalan meniti umur yang tidak kita ketahui sampai
kapan…alangkah sia-sia bila waktu yg begitu singkat tidak kita isi dengan
perbuatan yang berguna… ada suatu cerita yang bisa kita petik pelajaran didalamnya….

Cerita ini saya dapatkan dari seorang dosen, thanks pall, selalu bersemangat jika kuajak minum kopi(hehehe)

IMPIAN SEORANG MAHASISWI

Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya. Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah.

Ia menyapa, “Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. Maukah kamu memelukku?”
Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya, “Tentu saja boleh!”.
Diapun memberi saya pelukan yang sangat erat. “Mengapa kamu ada di kampus pada usia yang masih muda dan tak berdosa seperti ini?” tanya saya berolok-olok.

Dengan bercanda dia menjawab, “Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian.”

“Ah yang serius?” pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya.
“Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya
sedang mengambilnya!” katanya.

Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab. Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagai pengalaman dan kebijaksanaannya. Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun.Dia suka berdandan dan segera mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkannya suasana.

Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang diajarkannya pada kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke lantai.

Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Saat kami tertawa dia membersihkan kerongkongannya dan mulai, “Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua; kita menjadi tua karena kita berhenti bermain. Hanya ada empat rahasia untuk tetap awet muda, tetap bahagia, dan meraih sukses. Kamu harus tertawa dan menemukan humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun tidak mengetahuinya!”

Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa.

Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan.

Setiap orang pasti menjadi tua.
Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat.

Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan. Jangan pernah menyesal.Orang-orang tua seperti kami biasanya tidak menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan.

Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi “The Rose”. Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai.

Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan.

Ingatlah, menjadi tua adalah keharusan, menjadi dewasa adalah pilihan.

Cetak Halaman Ini++

Tujuh Keajaiban Dunia


Oleh:Pepen Hermawan, ST., S.Pd.
Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari ‘Tujuh Keajaiban Dunia.’
Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang
mereka pikir merupakan ‘Tujuh Keajaiban Dunia’ saat ini. Walaupun ada
beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi:

1] Piramida
2] Taj Mahal
3] Tembok Besar Cina
4] Menara Pisa
5] Kuil Angkor
6] Menara Eiffel
7] Kuil Parthenon
Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.

Gadis pendiam itu menjawab, ‘Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya.’ Sang guru berkata,’Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya.’

Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, ‘Saya pikir, ‘Tujuh Keajaiban
Dunia’ adalah,
1] Bisa melihat,
2] Bisa mendengar,
3] Bisa menyentuh,
4] Bisa menyayangi,
5] Bisa merasakan,
6] Bisa tertawa, dan
7] Bisa mencintai

Ruang kelas tersebut sunyi seketika. Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya ‘keajaiban’. Sementara kita lihat lagi
semua yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, kita menyebutnya sebagai ‘biasa’.

Cetak Halaman Ini++

FENOMENA: Mustika


Oleh:Pepen Hermawan, ST., S.Pd.

Dahulu kala, ada seorang yang suka memuji-muji orang lain demi keuntungannya sendiri. Suatu hari ia mencoba menghadiahkan sepotong batu giok pada seorang menteri. Meskipun dibujuk, menteri itu menolak untuk menerima pemberian itu.

Orang itu berkata, “Ini adalah mustika sejati! Orang biasa tak patut memakainya. Hanya orang sehebat Tuan yang berhak memakainya. Jadi ini hanya tepat dimiliki dan dikenakan oleh Tuan.”

Anda boleh menganggapnya sebagai mustika,” kata sang menteri, “Namun saya tidak gampang menerimanya hanya karena rayuan. Itulah mustikaku.”

Nubogalalakon:”Saya melewati hari ini hanya sekali; karenanya setiap perbuatan baik yang dapat saya lakukan atau kebaikan apapun yang bisa saya perbuat kepada siapapun, biarlah saya melakukannya sekarang. Jangan biarkan saya mengabaikannya, karena pasti saya tidak akan melewati hari ini lagi.

Cetak Halaman Ini++

Tempayan Retak


Oleh:Pepen Hermawan, ST., S.Pd.
Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawanya menyilang pada bahunya. Satu tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak.

Jika tempayan yang tidak retak itu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh. Selama dua tahun, hal itu terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya.
Tentu saja si tempayan yang bagus merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Tempayan retak yang malang merasa malu akan kekurangannya sebab ia hanya bisa memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya. Setelah dua tahun tertekan dengan kegagalan pahit ini tempayan retak itu berkata pada si tukang air, ”saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu.”
“ Kenapa ?” tanya si tukang air . “Kenapa kamu merasa malu?“ “Selama dua tahun ini saya membawa setengah air dari porsi yang seharusnya dapat saya bawa. Air itu bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacadku itu saya telah membuatmu rugi,” Kata tempayan itu. Si tukang air merasa kasihan pada tempayan retak dan berkata, “Jika kita kembali lagi ke rumah besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah sepanjang jalan.”
Benar, ketika mereka naik keatas bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah disepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit trhibur. Namun pada akhir perjalan ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan disisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan pada sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacadmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga disepanjang jalan pada sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun itu aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada seperti sekarang ini, majikan kita tidak akan menikmati keindahan bunga itu dan menghias rumahnya seindah sekarang ini.”
Hikmah dari kisah di atas adalah bahwa setiap kita memiliki cacad dan kekurangan. Kita semua adalah tempayan retak. Di mata Allah yang Maha Bijaksana tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahan kita dan kita pun dapat menjadi sarana keindahan Allah. Ketahuilah, di balik kelemahan kita, tersimpan kekuatan kita. Beranilah mengubah sifat yang dapat diubah dan tabahlah dengan sifat yang tidak dapat diubah dalam diri kita. Semoga dengan prinsip ini kita lebih tegar dalam menghadapi hidup yang cuma sekali ini.
Duhai Allah yang Maha Kasih dan Sayang, tuntunlah hamba-Mu yang lemah ini untuk menemukan potensi yang telah Engkau anugerahkan pada kami, dan jadikanlah kami sebagai makhluk kesayangan-Mu. Amin Yaa Robbal ‘Aalamin.

Cetak Halaman Ini++

Anggota Badan Melawan Perut


Oleh:Pepen Hermawan, ST., S.Pd.
Pada suatu ketika anggota-anggota tubuh merasa sangat berang terhadap perut. Mereka semua iri karena mereka harus menyediakan makanan dan membawanya ke perut, sementara perut sendiri tidak berbuat apa-apa kecuali mencerna hasil jerih payah mereka.

Maka mereka memutuskan untuk tidak membawa lagi makanan ke perut. Tangan tidak mau mengangkat makanan ke mulut. Gigi tidak mau mengunyah lagi dan tenggorokan tidak mau menelan. Ini akan memaksa perut untuk melakukan sesuatu.

Namun hasil keputusan mereka hanyalah tubuh yang lemah, begitu lemah sampai mereka berada dalam bahaya mati. Demikian akhirnya merekalah yang belajar bahwa dalam saling membantu mereka sebenarnya bekerja untuk kebaikan mereka sendiri.

Cetak Halaman Ini++

PENDAKI


Oleh:Pepen Hermawan, ST., S.Pd.
Suatu ketika, ada seorang pendaki gunung yang sedang bersiap-siap
melakukan perjalanan. Di punggungnya, ada ransel carrier dan beragam
carabiner(pengait) yang tampak bergelantungan. Tak lupa tali-temali yang
disusunmelingkar di sela-sela bahunya. Pendakian kali ini cukup berat,
persiapan yang dilakukan pun lebih lengkap.

Kini, di hadapannya menjulang sebuah gunung yang tinggi. Puncaknya tak terlihat, tertutup salju yang putih. Ada awan berarak-arak di sekitarnya, membuat tak seorangpun tahu apa yang tersembunyi di
dalamnya. Mulailah pendaki muda ini melangkah, menapaki jalan-jalan bersalju yang terbentang di hadapannya. Tongkat berkait yang di sandangnya, tampak menancap setiap kali ia mengayunkan langkah.

Setelah beberapa berjam-jam berjalan, mulailah ia menghadapi dinding
yang terjal. Tak mungkin baginya untuk terus melangkah.
Dipersiapkannya tali temali dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalu curam, ia harus mendaki dengan tali temali itu. Setelah beberapa kait ditancapkan, tiba-tiba terdengar gemuruh yang datang dari atas. Astaga, ada badai salju yang datang tanpa disangka. Longsoran salju tampak deras menimpa tubuh sang pendaki. Bongkah-bongkah salju yang mengeras, terus berjatuhan disertai deru angin yang membuat tubuhnya terhempas-hempas ke arah dinding.

Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun, untunglah,tali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding yang curam itu. Semua perlengkapannya telah lenyap, hanya ada sebilah pisau yang ada di pinggangnya. Kini ia tampak tergantung terbalik di dinding yang terjal itu. Pandangannya kabur, karena semuanya tampak memutih. ia tak tahu dimana ia berada. Sang pendaki begitu cemas, lalu ia berkomat-kamit, memohon doa kepada Tuhan agar diselamatkan dari bencana ini. Mulutnya terus
bergumam, berharap ada pertolongan Tuhan datang padanya.

Suasana hening setelah badai. Di tengah kepanikan itu, tampak
terdengar suara dari hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu. “Potong tali itu….potong tali itu. Terdengar senyap melintasi telinganya.

Sang pendaki bingung, apakah ini perintah dari Tuhan? Apakah suara ini adalah pertolongan dari Tuhan? Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yang telah menyelamatkannya, sementara dinding ini begitu terjal?
Pandanganku terhalang oleh salju ini, bagaimana aku bisa tahu? Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia merenungi keputusan ini, dan ia tak mengambil keputusan apa-apa…

Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan ada tubuh yang tergantung terbalik di sebuah dinding terjal. Tubuh itu tampak
membeku, dan tampak telah meninggal karena kedinginan. Sementara itu, batas tubuh itu dengan tanah, hanya berjarak 1 meter saja….

***

Teman, kita mungkin kita akan berkata, betapa bodohnya pendaki itu,
yang tak mau menuruti kata hatinya. Kita mungkin akan menyesalkan
tindakan pendaki itu yang tak mau memotong saja tali pengaitnya. Pendaki itu tentu akan bisa selamat dengan membiarkannya terjatuh ke tanah yang hanya berjarak 1 meter. Ia tentu tak harus mati kedinginan karena tali itulah yang justru membuatnya terhalang.

Begitulah, kadang kita berpikir, mengapa Sang Pencipta tampak tak
melindungi hamba-Nya? Kita mungkin sering merasa, mengapa ada banyak sekali beban, masalah, hambatan yang kita hadapi dalam mendaki jalan kehidupan ini. Kita sering mendapati ada banyak sekali badai-badai salju yang terus menghantam tubuh kita. Mengapa tak disediakan saja, jalan yang lurus, tanpa perlu menanjak, agar kita terbebas dari semua halangan itu?

Namun teman, cobaan yang diberikan Sang Pencipta buat kita, adalah latihan, adalah ujian, adalah layaknya besi-besi yang ditempa, adalah seperti pisau-pisau yang terus diasah. Sesungguhnya, di dalam semua ujian, dan latihan itu, ada tersimpan petunjuk-petunjuk, ada tersembunyi tanda-tanda, asal KITA PERCAYA. Ya, asal kita percaya.

Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, sehingga mampu membuat kita “memotong tali pengait” saat kita tergantung terbalik? Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, hingga kita mau menyerahkan semua yang ada dalam diri kita kepada-Nya? Karena percaya adanya di dalam hati, maka tanamkan terus hal itu dalam kalbumu. Karena rasa percaya tersimpan dalam hati, maka penuhilah nuranimu dengan kekuatan itu.

Teman, percayalah, akan ada petunjuk-petunjuk Sang Pencipta dalam
setiap langkah kita menapaki jalan kehidupan ini. Carilah, gali, dan temukan rasa percaya itu dalam hatimu. Sebab, saat kita telah percaya, maka petunjuk itu akan datang dengan tanpa disangka.

Cetak Halaman Ini++

Previous Older Entries