FENOMENA: Puisi


Oleh:Pepen Hermawan, ST., S.Pd.

Ada suatu cerita mengenai seorang pemuda yang menyenangi puisi dan
tinggal berseberangan sungai dengan gurunya.

Pemuda itu, pada suatu hari menulis puisi yang isinya menguraikan tentang tidak adanya sifat “Keakuan” dalam dirinya dimana angin dari delapan penjuru pun tidak akan mampu menggoyahkannya.

Setelah puisi tersebut selesai ditulis, yang menurut dia adalah yang terindah, maka diutuslah pelayannya ke seberang untuk dikirimkan kepada gurunya dengan maksud mendapatkan pujian.

Gurunya, sesudah membaca puisi tersebut, langsung menulis di belakang kertas puisi itu, “Puisi Anda ini bau seperti kentut!

Tentu saja pemuda tersebut marah bukan kepalang setelah membaca komentar gurunya. Dia pun memutuskan untuk mengunjungi gurunya secara langsung dan dengan emosi meluap, dia berteriak, “Guru sungguh tidak bisa menghargai keindahan puisi. Puisi itu adalah yang terindah menurut saya, tetapi Guru bukannya memberikan pujian, malah mencerca seperti bau kentut !!!

Gurunya menjawab dengan ketawa, “Ha…ha…ha…, muridku, bagaimana engkau mengatakan sudah tidak mempunyai sifat Keakuan sampai angin dari delapan penjuru pun tidak mampu menggoyahkan dirimu. Lihat saja, baru kena satu angin kecil (kentut), Anda sudah terbirit-birit menemuiku!!!

Mmm:
Saya melewati hari ini hanya sekali; karenanya setiap perbuatan baik yang dapat saya lakukan atau kebaikan apapun yang bisa saya perbuat kepada siapapun, biarlah saya melakukannya sekarang. Jangan biarkan saya mengabaikannya, karena pasti saya tidak akan melewati hari ini lagi.“.

Semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Wanita


Oleh:Pepen Hermawan, ST., S.Pd.
Buat Marya (all i need, belong to you)
Untuk semua wanita yang bergelar istri maupun yang bakal menjadi istri… mari kita hayati apa yang terbetik dalam syair dibawah ini.

Pernikahan ataupun perkawinan,
Membuka tabir rahasia,

Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad,
Tidaklah setakwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Ayub,
Atau pun segagah Musa,
Apalagi setampan Yusuf

Justeru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita,
Membangun keturunan yang soleh …

Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,

Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
Suami bagaikan balita yang nakal, Kamu adalah penuntun kenakalannya,
Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, Kamu lah penawar obatnya,
Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya …

Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan takwa,
Untuk belajar meniti sabar dan redha,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justeru Kamu akan tersentak dari alpa,

Kamu bukanlah Khadijah,
yang begitu sempurna di dalam menjaga
Pun bukanlah Hajar,
yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman,
Yang berusaha menjadi solehah…

Amin.

Perlambang Cinta Abadi


Oleh:Pepen Hermawan, ST., S.Pd.
Alkisah, Ratu Mesir Cleopatra hendak menunjukkan kekuasaan dan kemakmuran negerinya kepada pimpinan pasukan penjajah, Jenderal Marc Antony dari Romawi. Saat makan malam, ia melepas sebuah mutiara besar dari giwangnya. Ia menggerus mutiara itu hingga hancur menjadi bubuk, mencampurkannya pada secawan anggur lalu meminumnya. Terpaku melihat itu, Antony menolak makan malamnya –sebutir mutiara lainnya– dan mengakui kekuasaan Cleopatra.

Begitulah, mutiara memang sering diasosiasikan dengan kekuasaan serta kemakmuran. Bisa dipahami, karena menurut taksiran ahli perhiasan pertama di dunia, Pliny, dalam bukunya, Natural History, sepasang mutiara Cleopatra itu harganya bernilai lebih dari US$9 juta.

Sebelum ditemukannya teknik pembudidayaan kerang mutiara pada awal abad ke-20 oleh Kokichi Mikimoto dari Jepang, perhiasan mutiara memang hanya dikenakan oleh mereka yang dianggap sebagai orang-orang terhormat, seperti keluarga bangsawan, atau mereka yang sangat kaya. Tengoklah mahkota atau perhiasan para raja dan ratu yang kerap dihiasi mutiara selain bebatuan mulia lainnya.

Harga mutiara, yang diperoleh dari alam, memang sangat mahal karena sulit diperoleh. Bila pun ditemukan, hanya kalangan di atas saja yang berhak memakainya. Sekarang, perhiasan mutiara dari hasil budidaya, berupa seuntai kalung yang terdiri dari sekitar 50 butir mutiara, misalnya, bisa dibeli dengan harga US$500 hingga US$5.000.

Kelangkaan mutiara alam digambarkan oleh Susie Budiatni, Direktur PT Mutiara Rote Indah yang membudidayakan kerang Pinctada maxima di kawasan Rote. “Belum tentu 1 dari 10.000 butir mutiara yang ada di dunia ini adalah mutiara alam, lo,” ujarnya. Jenis mutiara ini terbentuk ketika benda asing,seperti butiran pasir atau potongan koral, masuk ke dalam kerang. Kerang melakukan aksi perlindungan dengan mengeluarkan liurnya (nacre) untuk membungkus benda asing tersebut. Lapisan-lapisan liur inilah yang membentuk mutiara.

Prinsip serupa diterapkan oleh Mikimoto saat membudidayakan kerang mutiara. Penemuan Mikimoto merupakan revolusi dalam ‘industri’ mutiara. Ini membuat aneka jenis, bentuk, dan warna mutiara terbentuk, harga mutiara lebih terjangkau dan tentu saja lebih banyak lagi kalangan yang dapat menikmatinya.

Beberapa jenis mutiara terkenal yang dibudidayakan di laut adalah mutiara Laut Selatan (South Sea pearl), Akoya dari Jepang, mutiara hitam dari Tahiti (Tahitian pearls). Mutiara Laut Selatan banyak diproduksi di belahan bumi selatan, seperti di Indonesia (terutama di kawasan timur), Filipina, Australia, Thailand, juga Myanmar.

Warna-warna khas jenis ini adalah putih, krem, kuning hingga keemasan, perak, merah jambu, dan hitam berbaur warna-warna lain (peacock). Berukuran rata-rata besar 10-16 mm, bentuknya mulai dari bulat, pipih seperti kancing, tetesan air (drop) hingga tak beraturan (baroque).

Berbeda dengan jenis Akoya yang rata-rata berukuran 5-8 mm. Warnanya kebanyakan putih, krem, dan biru keabu-abuan. Bentuk dasarnya adalah setengah bulat (semiround), bulat, dan drop. Mutiara Tahiti sebenarnya termasuk South Sea pearls. Bedanya, warna mutiara yang dihasilkan di sini hitam, baik yang pekat, maupun yang bersemu abu-abu, hijau, cokelat, atau merah.

Kerang mutiara juga bisa dibudidayakan di air tawar, seperti di Cina. Hasilnya adalah mutiara berwarna putih. Kelebihannya, jenis ini bisa dicelup dengan warna-warna yang dikehendaki. Ukurannya kecil-kecil, namun dalam satu kerang bisa dihasilkan hingga 30 butir mutiara.

Setiap jenis tersebut memiliki kelebihan. Namun, ada enam hal yang menjadi patokan untuk memilih mutiara yang baik. Masing-masing adalah ketebalan nacre, kilauan (luster), bentuk, warna, ukuran, serta kesempurnaan permukaan mutiara.

Namun, seperti halnya tiada gading yang tak retak, tak ada mutiara yang tak bercacat. “Bila mutiara itu sangat mulus dan bobotnya ringan, kemungkinan besar ini imitasi,” jelas Susie. Cara lain untuk menentukan keaslian mutiara adalah dengan menggosokkannya ke deretan gigi Anda. Bila ngilu, kata Susie, mutiara itu pasti asli. Mutiara asli juga akan terasa seperti berpasir saat digigit perlahan.

Kilau mutiara tidaklah seperti gemerlapnya perhiasan batu mulia lainnya. Namun begitu, mutiara justru tetap dapat tampil memikat meski hadir secara sederhana, saat dikenakan dalam bentuk butiran atau untaian tunggal. Baik itu berupa giwang, kalung, bros, gelang, atau cincin. Karena itulah, perhiasan mutiara dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, mulai dari pagi hingga malam hari.

Tak heran, banyak desainer yang menggunakan mutiara, asli maupun imitasi, dalam berbagai karya rancangan mereka. Sebut saja Gabriel ‘Coco’ Chanel, yang desain-desain perhiasan dan aksesori mutiaranya sangat khas dan bisa dikenali sebagai gaya Chanel.

Bagi pemakainya, mutiara diyakini bisa memancarkan citra diri yang penuh keanggunan, kecantikan, maupun kesucian yang sempurna. Sama seperti keyakinan bangsa Yunani kuno dan Romawi kuno. Beberapa kepercayaan lain menganggap mutiara berkaitan dengan perlindungan dari hal-hal buruk, kemujuran, bahkan cinta. Persis seperti bangsa India yang menganggap mutiara ‘Sang Ratu Permata’, sebagai perhiasan cinta.

Dalam versi lain, memang dikisahkan pula bahwa aksi menggerus mutiara dan meminum bubuknya justru menggambarkan tanda keabadian cinta Cleopatra kepada Antony yang kemudian menjadi suaminya.
Semoga bermnafaat :p

BEDA ANTARA SUKA, CINTA DAN SAYANG


Oleh:Pepen Hermawan, ST., S.Pd.
Coba tengok disekitar Anda, siapa yang Anda cinta & siapa yang Anda sukai?

Dihadapan orang yang kau cintai,
musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah
Dihadapan orang yang kau sukai,
musim dingin tetap saja musim dingin hanya suasananya
lebih indah walau sedikit

Dihadapan orang yang kau cintai,
jantungmu tiba tiba berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau sukai,
kau hanya merasa senang dan gembira saja

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau
cintai, matamu berkaca-kaca
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau
sukai, engkau hanya tersenyum saja

Dihadapan orang yang kau cintai,
kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam
Dihadapan orang yang kau sukai,
kata kata hanya keluar dari pikiran saja

Jika orang yang kau cintai menangis,
engkaupun akan ikut menangis disisinya
Jika orang yang kau sukai menangis,
engkau hanya menghibur saja

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa
suka dimulai dari telinga
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang, cukup
dengan menutup telinga.
Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang
yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi tetesan air
mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang
cukup lama.

“Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta… ada perasaan yang lebih mendalam.
Yaitu rasa sayang…. rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah berubah. Perasaan yang dapat membuatmu berkorban untuk orang yang kamu sayangi. Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi. Cinta ingin memiliki. Tetapi Sayang hanya ingin melihat orang yang disayanginya bahagia.. walaupun harus kehilangan.”
Semoga bermanfaat :p